Warga Arab di China Daftar Jadi Relawan Atasi COVID-19

RS khusus virus Corona yang bisa menampung ribuan pasien rawat inap di Wuhan. Foto : DM

 

Wuhan – Sejumlah warga negara-negara Arab yang tinggal di kota Wuhan, China mendaftar  menjadi relawan dalam kampanye memerangi wabah COVID-19 atau Virus Corona. Mereka kini menunggu izin dari otoritas China.

Salah satunya adalah Ali Wari, seorang warga Palestina yang tinggal di Wuhan, pusat wabah virus corona. Wari dan beberapa temannya yang juga warga Arab, menyatakan sedang menunggu izin dari otoritas setempat untuk menjadi relawan.

“Saya seorang dokter. Saya bisa bahasa Arab, China dan Inggris. Saya bisa membantu merawat para pasien, mendaftarkan informasi dan sekedar membawa barang-barang,” katanya, yakin.

Ali Wari. dok : FB

Keinginan dari kelompok warga Arab ini diketahui dari grup chat aplikasi pesan singkat WeChat, yang diberi nama ‘Wuhan COVID-19’. Grup chat itu beranggotakan 480 warga Arab, yang sebagian besar tinggal atau bekerja di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei.

“Awalnya saya menerjemahkan dan berbagi informasi soal virus pada  teman-teman. Kemudian anggota grup terus bertambah,” ujar Wari, yang bekerja pada perusahaan teknologi Hubei Topgene Biotechnology.

Wari juga seorang ahli bedah toraks yang pintar  bahasa China. Sebagai admin, ia menterjemahkan dan menjawab berbagai pertanyaan tentang virus COVID-19 pada teman-temannya.”Saya sangat yakin wabah ini akan bisa dikendalikan. Bagi para mahasiswa asing yang masih muda,  wajar mereka panik, karena info yang berlebihan. Sebagai kakak mereka, saya harus lebih tenang,” katanya.

Wari memulai kampanye relawan via grup chat itu Minggu lalu, dan sedikitnya ada 30 warga Arab yang menyatakan bersedia menjadi relawan memerangi virus corona.

Mohamad Khatib, juga dari Palestina, minta izin dari keluarganya untuk bergabung dengan Wari. “Saya yakini ada solusi untuk wabah ini, tapi itu membutuhkan waktu. Kita harus terus mencoba dan tidak pernah menyerah,” ucapnya pasti.

Mohamad Asaad, seorang warga Mesir yang kuliah di Wuhan sebagai mahasiswa PhD, menyatakan dirinya jatuh cinta dengan kota Wuhan dan warganya. “Saya sedih melihat kota yang penuh warna ini dalam masa-masa sulit. Inilah saatnya untuk mendukung dan membalas mereka yang telah memberikan hal hal baik bagi kami. Jadi, saya secara sukarela membantu dan mendukung teman-teman saya di China dalam mengatasi musibah ini,” ujar Asaad.

Pada Kamis (6/2) lalu, Wari dengan mengatasnamakan teman-temannya dari Arab, mengajukan permohonan pada Kantor Urusan Luar Negeri di Wuhan, untuk menjadi relawan. Salah satu resepsionis di kantor itu mencatat permohonan Wari, dan mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Saya bilang kepadanya untuk tidak mengucapkan terima kasih. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan. Kita tinggal di Wuhan, kita mencintai kota ini seperti rumah sendiri, jadi kami harus berbuat sesuatu,” ucap Wari, sembari menyebut bahwa dirinya mengalami masa-masa sulit juga, saat wabah SARS melanda China, tahun 2003 lalu.

“Saya yakin pemerintah China juga bisa melaluinya kali ini,” tandasnya. Sampai saat ini, jumlah kematian akibat virus ini sudah mendekati 1.000 orang, terbanyak di China, khususnya Provinsi Hubei.

Ali Wari bahkan dengan heroik meng-upload hubungan Palestina dan China di laman Facebooknya, dan juga menyemangati Wuhan dalam memerangi virus Corona :

 

(detik.com/red/*)