Thailand: Klinik Ganja Diserbu, Pasien Antri!

Klinik 24 jam dengan obat minyak ganja di Bangkok. (Foto AP)
Klinik 24 jam dengan obat minyak ganja di Bangkok. (Foto AP)

Bangkok – Sejak melegalkan ganja tahun 2018 lalu, kini sedikitnya ada 26 klinik yang menggunakan obat berbahan dasar ganja (cannabis) di Bangkok, Thailand. Bahkan, ada dua klinik yang buka 24 jam, namun tetap di-antri pasien!

Kedua klinik di sekitar Bangkok dan Nonthaburi melakukan perawatan medis dengan minyak ganja, terbuka untuk umum selama 24 jam. Pemerintah Provinsi Nonthaburi mendukung penuh klinik-klinik ini bahkan dengan mempromosikan penggunaan produk ganja legal untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Berita Sebelumnya: Thailand Akan Legalkan Ganja?

Kebanyakan pasien yang datang dengan keluhan kanker, atau tumor dan penyakit kronis berat lainnya. Ada 400 pasien yang mengantri setiap hari di tiap klinik seperti ini.  Kementerian kesehatan Thailand juga memberi subsidi berupa minyak ganja secara gratis selama satu minggu, bagi warga miskin yang berdomisili di pinggiran Kota Bangkok.

“’Ganja bisa menjadi jawaban. Setidaknya kualitas hidup pasien meningkat,” ujar  Prasert Mongkolsiri, Direktur Rumah sakit Umum di bangkok.

Bahkan pasien dengan keluhan ‘ringan’ juga diberi minyak ganja, seperti migrain, insomnia, hingga penyakit tukak lambung dan nyeri akibat demam. Pasien tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari negeri luar.

Lihat Juga: Bawa Ganja Dijanjikan Uang, Dua Mahasiswi Malah Tertangkap

Padahal sebelum tahun 2018, Thailand juga seperti Indonesia dan Malaysia, yang memberlakukan hukuman mati bagi pembawa ganja, dengan undang undang yang keras tentang narkoba. Namun kini Thailand sadar, ganja memberi peluang untuk meraup devisa bagi negara dari potensi ekonomi ganja.

Walau dibuka 24 jam, ratusan pasien tetap menggelar antri untuk bisa berobat di klinik ganja. (Foto: AP)
Walau dibuka 24 jam, ratusan pasien tetap menggelar antri untuk bisa berobat di klinik ganja. (Foto: AP)

Laporan Prohibition Partners tahun lalu menyebutkan, pasar ganja medis Asia akan bernilai sekitar $ 5,8 miliar pada tahun 2024 mendatang.

“Setidaknya ganja dapat mengurangi efek samping dari obat-obatan berbasis kimia modern, yang telah mereka konsumsi selama 10 atau 20 tahun,” tambah Pasert Mongkolsiri. Pasien kanker tidak lagi dianjurkan untuk melakukan chemoterapi, dan obat obatan medis lainnya.

Lihat saja Chamroen Nakurai, pria 57 tahun ini didiagnosis menderita kanker kelenjar getah bening dua tahun lalu. Dia mengatakan, minyak ganja membantu mengurangi efek samping dari kemoterapinya, tetapi sampai sekarang dia mengaku memperolehnya secara illegal. “Karena via klinik jumlahnya sangat terbatas,”ujarnya.

Konspirasi Ganja: NASA: DNA Ganja Berasal Dari Alien..!

Sudah rahasia umum, banyak pula klinik ilegal yang sejak sebelum 2018 menggunakan minyak ganja. “Karena tersembunyi, perawatannya sangat mahal,” kata Chamroen. Ia bersyukur pemerintah melegalkan ganja, khususnya bagi pengobatan, sehingga ia berharap dapat bertahan, bahkan mengharapkan penyakitnya ini sembuh. Sebelumnya, pasien kanker getah bening paling bertahan 3 bulan, usai divonis mengidap kanker itu pada level akhir.

Obat berbahan dasar ganja di klinik di Nothanburi, Thailand. (Foto: AP)
Obat berbahan dasar ganja di klinik di Nothanburi, Thailand. (Foto: AP)

Lain lagi Nuthjutha Ulpathorn, 29 tahun, dilahirkan dengan cerebral palsy yang membuatnya tidak bisa berjalan dan sulit berbicara. Dia mulai menggunakan minyak ganja dua bulan lalu, setelah ibunya membawanya ke rumah sakit pemerintah yang mulai membagikan minyak ganja. “Aku tidur jadi lebih nyenyak, dan kurang rewel,” kata Nuthjutha sambil tersenyum.

Menteri Kesehatan Anutin Charnvirakul, Senin (6/1/2020) lalu mengunjungi sebuah klinik, sambil menyumbangkan sejumlah minyak ganja. “Obat-obatan ini mudah mudahan segera bisa dimasukkan dalam daftar daftar obat Esensial nasional, agar bisa dibeli dnegan harga lebih terjangkau oleh masyarakat,” katanya.

Anutin sebelumnya adalah politisi partai Koalisi pemerintah, yang kerap berkampanye melegalkan ganja bagi kesehatan di Thailand. Walaupun sudah bebas, namun Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand tetap  mengawasi produksi ganja di enam lokasi di seluruh negeri gajah putih itu.(yan/AP/***)