Thailand Akan Legalkan Ganja?

BUMOE 02 Mei 2018
Thailand Akan Legalkan Ganja?
Ganja Thailand. (Foto: The Diplomat)

Bangkok – Selama beberapa dekade, Thailand sekutu Amerika yang paling tegas dalam perang melawan narkoba. Perang narkoba dikuatkan oleh hukum yang keras, bahkan hukuman mati. Namun narkoba tetap merajalela di Thailand, apalagi di Indonesia, yang belum nemerapkan hukuman mati.

Adalah Menteri Kehakiman Thailnad, Paiboon Koomchaya pada tahun 2016 membuat statement mengejutkan, “Kita kalah melawan—mafia—narkoba. Sebaiknya legalkan saja metamfetamin, biar kita lawan narkoba buatan lainnya, yang amat berbahaya bagi kesehatan saja,” ujarnya.

Koomchaya mendesak warga negaranya untuk melihat epidemi obat melalui lensa kesehatan masyarakat, bukan penegakan hukum. “Betapapun, kita telah memanfaatkan metamfetamin bagi devisa negara, jadi legalkan saja tetap dengan aturan ketat,” tandasnya. Thailand memang pernah menjadi pengekspor ganja legendaris, yang digunakan untuk obat-obatan.

Setelah Amerika Serikat membangun pangkalan militer di Thailand,tahun 1960-an dan menempatkan puluhan ribu tentara AS di sana, peredaran ganja malah semakin merebak, dan ganja menjadi murah.

“Mereka (tentara AS), mengisap ganja. Kita jual untuk mereka mudah, satu, dua atau lima pot seharga satu dollar saja,” kenang seorang penyelundup Thailand, yang mulai menjual pot kepada tentara AS. “Itu jauh lebih murah dari sebotol gin,” kenang seorang veteran perang Vietnam. “Anda bisa menukarkan satu pak dua puluh baht Thailand.”

Ganja Thailand pertama yang mencapai Amerika Serikat datang pada tahun 1960 melalui Kantor Pos Angkatan Darat. “Kualitasnya bagus sekali. Kalah cerutu kuba yang dibalut heroin,” katanya.

Petani menjualnya di ladang seharga $3 perkilo. Di AS, barang itu bisa dijual dengan mudah $4000 sekilo, pada tahun 1970-an. Bisnis menggiurkan membuat beberapa oknum tentara SAS terlibat peredaran ganja Thailand ke negaranya.

Minat semakin besar, membuat wilayah miskin di Utara Udorn, di tepi Sungai Mekong mendadak “hidup”.  Padi dulit tumbuh di situ, namun ganja tumbuh subur.

“Warga tahu bagaimana merawat tumbuhan ganja dengan baik, seperti merawat bunga,” kata salah satu pensiunan pialang ganja Thailand.

Setelah mereka memanen dan mengeringkan bunga ganja sativa (tunas), para petani dan keluarga mereka mengikatnya dengan rapi ke batang bamboo kecil, dan mengamankannya dengan benang serat rami.

Pemerintah kemudian mengharamkan ganja, dan warga kembali secara sembunyi sembunyi menanam di kebun kebun kecil di gunung. Tanaman ganja tumbuh subur di Thailand, Laos, Kamboja, dan Vietnam selama berabad-abad, dan biasanya digunakan warga sebagai bumbu masakan, serta mengobati berbagai penyakit: sakit kepala migrain, kolera, malaria, disentri, asma, pencernaan, parasit, dan nyeri pasca-persalinan.

Selama tahun 1980-an, pemerintah AS mampu meyakinkan dan memaksa Thailand bermitra dengan mereka dalam perang melawan ganja. Pada 1988 saja, Penjaga Pantai AS menyadap delapan “kapal induk” yang membawa lebih 200 ton ganja Asia Tenggara ke pantai Amerika.  Namun, peredaran tak pernah berhenti.

Kini, ada tanda tanda pemerintah Thailand akan memperlembut sikapnya terhadap ganja dan marijuana. Sebuah tim peneliti di Universitas Rangsit menerima izin dari Badan Pengendalian Narkotika Thailand, dan membuat semprotan ekstrak ganja untuk pasien kanker. Pada bulan April, Dr. Arthit Uraitat, rektor Universitas Rangsit, meminta para pemimpin militer Thailand untuk melegalkan ganja medis.

“Beranilah. Mari kita gunakan mariyuana medis jadi legal secara hukum,” katanya, dalam konferensi pers pekan lalu. “Mereka yang menderita kanker, mereka tidak bisa menunggu. Mereka membutuhkan bantuan sekarang, jadi saya pikir kita perlu mengambil keputusan cepat.”

Pekan lalu, sebuah perusahaan swasta bernama Thai Cannabis Corporation mengumumkan dimulainya proyek kanabis lima tahun yang akan mengembangkan 5.000 hektar (12.355 hektar) pabrik dalam lima tahun ke depan. The Royal Project Foundation akan mengawasi upaya ini, dan Universitas Maejo akan memberikan dukungan penelitian.

Tujuan Thai Cannabis Corporation adalah menetapkan model biaya rendah untuk menanam, memanen, dan mengolah tanaman ganja menjadi minyak dan ekstrak. Awalnya, mereka akan fokus pada pemuliaan galur cannabidiol (ganja) tinggi yang mengandung jumlah minimal THC (tetrahydrocannabinol) untuk mematuhi hukum Thailand.

“Misi dari Royal Project Foundation adalah untuk meneliti dan mengembangkan teknologi tepat guna untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di dataran tinggi Thailand secara berkelanjutan. Saya cukup setuju dengan Proyek Cannabis Thailand, ”kata direktur Yayasan Proyek Royal Dr. Vijit Thanormthin.

The Royal Project Foundation didirikan dan didanai oleh Raja Bhumibol Adulyadej pada tahun 1969.

Perusahaan Cannabis Thailand berharap untuk memasukkan ganja Thailand pernah terkenal di dunia dalam lini produk mereka. “Bila regulasi baru tentang ganja benar-benar dikeluarkan pemerintah,” katanya.

“Misi dari Korporasi Cannabis Thailand adalah memberikan devisa pada negara, menguntungkan perusahaan, dengan bermitra dengan petani Thailand dan peneliti ilmiah untuk membuat, dengan volume tinggi dan harga terjangkau, ganja legal yang baik untuk pengobatan (medis),”kata CEO Timothy Luton.

Mungkin akan menguntungkan Thailand, dan warga. Namun belum diketahui dampaknya dalam bisnis global, yang sebagian besar dikuasai mafia, yang bisa menggunakan produk ini untuk peredaran di luar kepentingan medik. Mungkin pemerntah Thailand sudah memikirkan (hal) itu?(yan/ The Diplomat/Nikkei)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya