Tahun 2020, China Akan ‘Nilai’ Warganya

BUMOE 03 Des 2017
Tahun 2020, China Akan ‘Nilai’ Warganya

Mungkin agak kontroversial. Tapi China tahun 2020 berencana menerapkan sistem kredit sosial (secara resmi disebut sebagai Skor Kredit Sosial atau SCS). Adalah sebuah dokumen dari Dewan Negara China yang diterbitkan pada bulan Juni 2014, yang menjadi ide awalnya. Kemajuan teknologi dimanfaatkan untuk menilai setiap orang, warga negara, seberapa nilainya untuk negara dari sisi finansial, kepatuhan sosial, tanggungjawab dan kesopanan/kedisiplinan.

SCS tampak relatif sederhana, namun bisa rumit juga. Setiap warga negara di China, yang sekarang berjumlah lebih dari 1,3 miliar, akan diberi skor.  Skor akan dimasukkan dalam chip atau kartu pribadinya, mirip KTP. Skor berasal dari pemantauan perilaku sosial seseorang –  kebiasaan belanja dan kepatuhan membayar tagihan, serta terhadap perilaku sosial mereka – bisa dipercaya, baik dan berwibawa. Mungkin mirip pengambilan data pribadi via facebook, istagram, twitter dan media social lainnya. Pribadi bisa terungkap dibalik status yang diterbitkan.

Skor warga ini akan mempengaruhi kelayakan mereka terhadap sejumlah layanan, termasuk jenis pekerjaan atau hipotek kesehatan yang bisa mereka dapatkan, hingga sekolah yang memenuhi syarat bagi anak-anak mereka. Mirip sistim pelayanan ala BPJS atau asuransi, cuma ini lebih ‘digital’ dan massal.

Layanan ini dijangka belum akan berjalan lancar sampai tahun 2020, namun China telah memulai implementasi SCS secara sukarela dengan bermitra dengan sejumlah perusahaan swasta untuk menghilangkan rincian algoritmik yang dibutuhkan untuk skala besar/negara.

Perusahaan yang menerapkan SCS termasuk China Rapid Finance, yang merupakan mitra jaringan sosial raksasa Tencent, dan Sesame Credit, anak perusahaan dari perusahaan afiliasi Alibaba Ant Financial Services Group (AFSG). Baik Rapid Finance dan Sesame Credit memiliki akses untuk mengambil sejumlah data, baik melalui aplikasi pesan WeChat — semacam FB atau WA — (saat ini 850 juta pengguna aktif di China) dan yang terakhir melalui layanan pembayaran AliPay-nya.

Menurut media lokal, SCS Tencent hadir dengan aplikasi chat QQ-nya, di mana skor individu berada dalam kisaran antara 300 dan 850 dan dibagi menjadi lima subkategori: koneksi sosial, perilaku konsumsi, keamanan, kekayaan, dan kepatuhan. Pendukung SCS melihat ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki beberapa layanan negara. Memudahkan dan memberi warga Cina akses yang sangat dibutuhkan untuk layanan keuangan. Pemerintah juga mengatakan bahwa ini akan “memungkinkan orang-orang yang dapat dipercaya bebas bergerak di ruang public maupun privat mereka”.

Masalah utamanya adalah kemanusiaan!  China telah membebaskan dirinya dari era komunism dan malah menjadi begitu liberal dan capitalism dengan sistim ini. Manusia dibeda-bedakan atas ‘kemampuan’ finansial, kepatuhan — pada institusi/negara — serta kecerdasannya.

“Nilai sosial China berubah total, dan sebenarnya memang sudah berubah menjadi negara yang begitu terbuka untuk penilaian warga negaranya tergantung kemampuan. Selain sektor pelayanan, bahkan polisi bisa mengakses data pribadi orang untuk alasan keamanan dengan mudah,” kata Anurag Lal, Direktur Satuan Tugas Broadband Nasional AS.

“Begitu mudahnya memantau orang-orang, sekaligus juga menjamin privasi setiap warga negara. Ini memang beresiko pada negara, yang benar benar harus komit dan punya sistim komunikasi data yang canggih, sistim interaksi, sistim online – internet yang bagus — untuk dilihat data setiap warga dan disimpan sebagai data pribadi”

Data Besar untuk Perilaku yang Baik

Direktur Teknologi Sesame Credit Li Yingyun mengakui, di bawah sistem SCS seseorang dapat dinilai dari transaksi perbankan, belanja online hingga status di jejaring sosialnya. “Seseorang yang bermain gadget/game secara rutin beberapa jam sehari, misalnya, akan dianggap orang yang menganggur,” kata Li. “Seseorang yang sering membeli popok dan kebutuhan rumahtangga dianggap sebagai orang tua, yang nilai  orang memiliki rasa tanggung jawab.”

Li melihat ini sebagai perkembangan positif, orang digolongkan atas  dasar tanggungjawab, kebiasaan hidup dan belanja mereka, agar mendapatkan nilai warga negara yang positif – yaitu menjadi “dapat dipercaya. Blogger Cina Rasul Majid mengatakan  setuju hal Ini adalah cara yang lebih baik untuk mengawasi warganya. Jika seseorang tahu sedang diawasi, maka ia akan tahu hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

Namun ada juga netizen yang tidak setuju : “Bagaimana Anda mendefinisikan perilaku orang pada hari ke hari? Orang melakukan begitu banyak hal yang berbeda karena berbagai alasan, dan jika konteksnya tidak dihargai, hal itu dapat disalahartikan, ” kata Al.  Seseorang mungkin bisa menipu dengan sengaja memalsukan semua data mengenai dirinya, dengan seolah olah membeli sesuatu yang ia tidka perlu.Bagaimana mengukurnya? Mungkin Pemerintah China sudah mengatisipasinya dengan tambahan pendataan seperti catatan statistik per-orang?  Semua sistim memiliki error margin. Namun dalam perkembangan teknologi yang begitu pesat ke depan, negara memang harus lebih cepat pula dalam mengurus dan melayani warga negaranya. (futurism/*)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya