Tabrakan Asteroid : Tantangan Paling Besar Peradaban Manusia

Ilustrasi asteroid menabrak bumi. foto dok google

Kita sibuk sendiri, dengan masalah ekonomi, politik, hokum dan etika moral yang amburadul. Sementara para ahli astronom kini sangat mengkhawatirkan hancurnya peradaban manusia di bumi akibat tabrakan asteroid!

Menurut para ahli, ada jutaan, bahkan milyaran asteroid berada pada jalur tabrakan dnegan bumi, yang tidak terdeteksi dan bisa menyapu habis manusia dari permukaan bumi.  Para ahli bersama astronaut, membentuk yayasan B612 – salah satu asteroid besar yang terdeteksi dan bisa menghancurkan bumi – bagi upaya melindungi bumi dari dampak tabrakan dengan benda langit.

Organisasi nirlaba ini dijalankan mantan astonot  Ed Lu dan Rusty Schweickart, bekerja sama dengan lembaga internasional utama dalam penelitian, sains, dan proyek teknologi yang terkait dengan pertahanan planet bumi.

NASA sejak tahun 2005 mengumumkan, 90 persen asteroid berdiameter 140 meter (bisa menghancurkan sebuah benua), tidak ada yang menimbulkan ancaman langsung. Namun menurut para ahli, hanya sekitar 18 ribu asteroid yang terlacak NASA, dari jutaan yang berpotensi menabrak bumi dan berdiatemer 15-140 m.

“Kita bisa membelokkannya dnegan laser, menabrak dengan pesawat nirawak yang membawa bom, atau bahkan menyeretnya ke luar jalur revolusi bumi,” kata Ed.  Presiden B612, Danica Remy, yang juga mengepalai program Asteroid Institute organisasi, NASA, mengakui ada beberapa teleskop di seluruh dunia yang dapat mendeteksi asteroid di lintasan ke Bumi. “Namun mereka hanya memantau sebagiankecil. Bidang pandang teleskop sangat kecil dibandingkan luasnya langit,” kata Remy.

“Kita mengamati sekitar 18 ribu asteroid, dan tahu mana yang sedang menuju ke arah kita. Namun jutaan lainnya tak terpantau kami,” akunya. “100 persen kita pasti akan ditabrak asteroid – besar –, tapi kita tak tahu kapan itu terjadi,” ujarnya.

Menurut Remy, langkah pertama untuk dapat melacak semua asteroid yang mendekati Bumi dan kemudian membelokkan asteroid yang berbahaya ke luar bumi masih sulit dilakukan . “Kita terlambat soal ini, karena sibuk dengan persoalan dunia lainnya. Kita mendeteksi sekitar 1.000 asteroid per tahun, nantinya kami akan meningkatkannya 100.000 per tahun. Namun belum ada teleskop wide atauistrumen pelengkap yang mampu melakukan itu,” ujarnya.

Berulangkali Ditabrak

Sepanjang sejarah 4,5 miliar tahun, Bumi telah berulang kali ditabrak oleh batuan luar angkasa. Ada yang kecil, ada yang besar, seperti tabrakan yang menyebabkan musnahnya peradaban dinosaurus  di bumi. “Kita akanmelihat kejadian selanjutnya, bila sempat. Tabrakan itu pasti akan terjadi lagi,” pasti  Remy.

Tahun 2013, asteroid sepanjang 19 m meledak di dekat kota Chelyabinsk, Rusia dan melepaskan energy  30 kali lebih besar dari bom atom Hiroshima. Gelombang kejut yang dihasilkan merusak  hampir 5000 bangunan dan melukai lebih dari 1.200 orang. “Tidak ada waktu peringatan. Dunia tahu setelah kejadian ,” kata Remy. Pada tahun 1908, sebuah asteroid berdampak pada Siberia, menghancurkan area seluas Kota London.

Ledakan itu meratakan sekitar 80 juta pohon di atas 2.000 kilometer persegi, yang jarang penduduknya.
“Asteroid selebar 10 km memusnahkan dinosaurus, dan 75 persen species makhluk hidup di bumi, 66 juta tahun lalu,” kata Remy.

Minor Planet Center, yang beroperasi di bawah International Astronomical Union, mencatat 133 “benda langit”  yang bisa menbarka bumi, bulan ini saja. “Ini hanya puncak gunung es. Kenyataannya jauh leboih besar dari itu,” ujar Remy.  “Kami hanya pantau satu, yang lewat antara Bumi dan bulan minggu lalu. Ada jutaan, sebagian besar kami tak tahu mereka melintasi garis yang sama. Andai mereka menabrak bumi, kitapun tak tahu, sampai tabrakan terjadi,” ” katanya.

Ia mengakui tabrakan setiap hari, siang malam terjadi, “Tapi hanya meteorid kecil, kurang berdampak. Dan kebanyakan jatuh di samudra,” katanya. Itu, katanya, karena permukaan laut kita 2/3 dari dari daratan. Tapi suatu waktu, pasti daratan akan kena, katanya. “Asteroid akan meluncur ke bumi tanpa memilih sasaran. Bisa jadi Australia, Jepang, atau Columbus Ohio, atau Asia. Ini benar-benar masalah global,” pungkasnya. (yan/news.com.au)