Statin, Obat Penurun Kolesterol yang Kontroversial

BUMOE 11 Feb 2019
Statin, Obat Penurun Kolesterol yang Kontroversial

Obat-obatan, telah ‘memperpanjang’ usia rata-rata manusia modern hingga 100 tahun (entah kualitas – hidup-nya). Namun banyak obat-obatan yang memiliki efek samping buruk, bahkan mematikan. Salahsatunya, Statin, obat penurun kolesterol selama ini dituding memiliki efek samping buruk.

Statin telah menjadi andalan dalam praktik medis selama lebih dari 30 tahun, untuk mengatasi kelebihan kadar kolesterol dalam darah, yang bisa menyebabkan serangan jantung, dan stroke. “Kematian dan cacat akibat stroke dapat dicegah berkat Statin,”  kata Profesor Colin Baigent, direktur unit penelitian kesehatan populasi, Dewan Penelitian Medis di Universitas Oxford.

Profesor Beignet percaya ada kontroversi penggunaan Statin, walau tidak pernah diinformasikan tentang efektivitasnya dan dampak buruknya. “Statin mengurangi kemungkinan serangan jantung dan stroke. Namun kami juga tahu masing masing manusia memiliki pola yang berbeda sehingga memerlukan terapi medis dengan dosis yang berbeda,” akunya.

Kontroversi Satin, menurut Beignet, akibat kurangnya apresiasi pada profesi medis tentang betapa berbahayanya untuk bergantung pada studi observasional. “Dan media melahap berita sensasional itu,” katanya. Karena itu, sejak lima tahun lalu, berita negative tentang efek samping Statin  menjadi global.

Adalah Huseyin Naci, seorang peneliti medis, pada Juli 2013 melakukan studi melibatkan 250.000 pengguna Statin. Profesor di Harvard Medical School itu mengumpulkan 135 model dari 250.000 sampel, dan hasilnya  cukup mengejutkan.  Statin ternyata menyebabkan peningkatan risiko diabetes hingga 9 persen bagi yang mengonsumsi statin dibandingkan dengan yang minum pil plasebo. Tingkat efek samping lainnya, termasuk nyeri otot, kanker, dan perubahan enzim hati.

Menurut Naci, hasil penelitian ini juga saat ini sudah dilaporkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika (FDA) agar ditinjau ulang.

“Meskipun analisisnya menunjukkan bahwa statin relatif aman, tapi kita tidak tahu efek jangka panjang dari statin. Jika kita memberikannya pada semua orang, kita tidak bisa mengetahui apa risikonya setelah 10 atau 15 tahun mendatang. karena setelah diteliti juga, obat statin telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kelemahan otot yang cukup berat,”ungkap Naci, waktu itu.

Namun menurut Profesor Beignet, penelitian itu terlalu dibesarkan media.  Padahal bila terapi Statin dihentikan, pasien bisa parah bahkan mati. “Mereka bisa mengalami serangan jantung atau stroke atau bahkan yang mungkin mati setelah penghentian pengobatan,” katanya. (yan/express)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya