Seulawah Expedition 3 : Astaga, Trek Bikin “Korban” Berjatuhan!

Tim Jam Gadang, Bukit Tinggi patah as di hari pertama Seulawah Expedition 3 . Foto : Gibran

Event Seulawah Expedition hari pertama, Jumat (27/4/2018) langsung makan “korban”. Tak tanggung-tanggung, tim Jam Gadang Bukittinggi korban pertama. Empat unit FJ 40 andalan tim Sumatera Barat ini, harus terhenti di jalur hari pertama, karena patah as roda! Proses pengiriman as roda oleh tim Media sampai ke lokasi membutuhkan waktu, dan tim baru bisa melanjutkan  perjalanan sekitar pukul 22.00 WIB malam ke BC 1. Sementera tim Bireuen berkutat dengan kebocoran radiator pada salah satu unit mereka. Namun walau tersendat, bisa langsung menuju BC I di tepi Sungai Panca Kubu, Jumat sore. Tim tim lain juga mengalami kerusakan kecil, yang bisa diatasi para offroader peserta Seulawah Expedition 3.

Hari kedua, trek yang berat menuju trek “V neraka” kembali membuat korban berjatuhan.  Berawal tim Tapanuli Selatan terhenti di “pohon gajah” akibat patah as kopel belakang. Tim Media kembali menjadi penolong. Unit Taft F73, D-Max dan L-200 Strada berhenti membantu tim Tapsel. Faisal Miruek menyambung as kopel dengan las baterai, sehingga tim tamu bisa melanjutkan perjalanan sampai di trek V.

Semua tim tersendat di tengah jalan, akibat beberapa unit kendaraan offroad di depan kehabisan nafas menanjaki bukit terjal. Dan di handicap paling rawan sepanjang jalu Panca-Keumala, semua tim menyesaki jalur tunggal (single track) di tengah hutan. Leader Ipay, Nuwek, dan Alex memulai turunan 50 meter sampai di dasar jurang, kemudian satu persatu naik 60 meter ke puncak. “Mereka pakai lima line, kayak tali jemuran aja,” ujar Ramos dari tim Tapsel, yang mencoba menjajaki trek.

Bakti sosial di Masjid Panca Kubu dipimpin Walikota Langsa dan Ketua IOX Chapter Aceh, hari ke-2 Seulawah Expedition 3. Foto : Gibran

Semua alat recovery leader dikerahkan, satu winch elektrik Warn 8274, dan Power Take Off (PTO) silih berganti menarik mobil offroad seberat hampir 3 ton ke atas nyaris 80 derajat! Dua jam berkutat dari pukul 11.30, Sabtu (28/4/2018), satu leader berhasil mencapai puncak. Leader kedua membutuhkan waktu hampir sama, dan menjelang malam, leade rke tiga baru bisa tegak di puncak. Tim Jam Gadang yang turun di belakang, harus rela menginanp di dasar jurang, menunggu giliran besok (Minggu) untuk naik.

Sementara tim lain menunggu di jalur. Melihat lebih 30 unit mobil offroad yang bertumpuk menunggu giliran – termasuk walikota Langsa dengan Navara  Cruisernya dan Kadis Pertanian Bener Meriah dengan FJ40 —  tim media memilih kembali ke Panca Kubu. “Kita balik saja, tak mungkin menunggu dua tiga hari di sini untuk masuk ke handicap itu,” ujar Boy, navigator tim Media. Tim Tapsel menyatakan ikut serta, karena unit mereka yang “tak sehat”.  Dengan susah payah membuka jalur baru, tim media dan Tapsel berhasil turun kembali ke Panca Kubu. “Kita masuk via trek IOX 2013 saja ke Keumala Dalam,” ujar Faisal, di amini peserta lain.

Di perjalanan, unit tim Tapsel kembali bermasalah, kali ini baut power steering patah. Setelah dikuatkan dnegan baut cadangan dan diikat tie down, tiga unit media dan tiga unit tim Tapsel berhasil tiba di tepi sungai. Sorenya, di radio leader terdengar mengarahkan peserta untuk mencari jalur alternative. “Jalur sedikit berubah, sehingga kita akan susah payah membantu begitu banyak unit yang akan naik,” ujar Ipay.  Beberapa tim yang berhasil naikpun, mengalami masalah dengan unitnya, seperti yang di alami tim Landrover Aceh.

BC-1 di Panca Kubu. Foto : Gibran

Tim Media diminta menjadi leader di jalur alternative. “Kita diminta memimpin teman-teman yang akan turun di jalur eks IOX 2013,” ujar Faisal Miruek.  Hari ke tiga, Minggu (29/04/2018), Faisal  menjadi leader sementara membawa tim Tapsel, dan beberapa tim, yang kemudian memilih untuk kembali ke Panca Kubu dan masuk ke jalur alternative. “Ada tiga tim bersama kita,”katanya. Namun justru di trek ini pula, satu unit Vitara milik tim SJI klontang (terbalik). “Tapi aman (offroader & crew), ini sudah kita evakuasi,” ujar Faisal.

Di belakang masih menyusul tim lain, karena merasa sulitnya melalui trek V neraka Panca-Keumala Dalam itu. “Antrian membuat kita jenuh menunggu di lokasi yang sama. Satu hari praktis cuma tiga-empat unit yang bisa melalui trek V yang hanya 100 meteran itu,” ujar Dedi.  (yan)