Rusia Kembangkan Pembom Strategis Tu-22M3M

BUMOE 08 Agu 2018
Rusia Kembangkan Pembom Strategis Tu-22M3M
Tupolev Tu-22M3M

Moskow – Perang dingin belum usai. Pemerintahan Putin tanggal 16 Agustus 2018 merilis pesawat pembom supersonik Tupolev Tu-22M3M, yang mampu menjangkau area tempur 7000 km, membawa 2,4 ton misil dan bom.

Kepala pabrik Tupolev, Alexander Konyukhov, mengaku pembom ini telah dikembangkan dari sisi daya jelajah, dan misil baru dengan jangkauan sasaran lebih jauh. Dua mesin turbofan Kuznetsov NK-25 seperti yang disematkan di TU160, dengan intake mirip yang digunakan pada pesawat tempur khas Rusia, seperti Sukhoi hingga Mikoyan Mig. Makanya, TU-22M3M mampu terbang supersonik hingga di atas Mach 2, atau dua kali kecepatan suara.

Sebenarnya pembom Tupolev Tu-22 sudah dikembangkan sejak  tahun 1970. Ada 60 TU-22 yang kini bertugas di skadron udara Rusia, namun setengahnya tidak bisa beroperasi lagi.  Karena itu, atas ide Kementerian Pertahanan, Rusia kemudian meng-upgrade 30 Tu-22 ke varian Tu-22M3M yang modern dan canggih.

Sistem avionik lebih modern, peralatan navigasi radio digital, ruang komunikasi baru, dan sistem kontrol senjata baru, misil berpandu yang lebih presisi ke sasaran darat dan laut , rudal anti kapal selam hingga rudal balistik jarak jauh.

Salah satu rudal baru adalah rudal Rhaduga Kh-32, rudal berpandu satelit yang mampu menghancurkan sasaran militer darat hingga kapal selam di lautan.  K-32 konon memiliki jangkauan operasional 1.000 kilometer, dan dapat mencapai kecepatan Mach 4 di fase terminalnya. Total dengan jangkauan T22M3M, jangkauan Kh-32 bisa mencapai sasaran 8000 km dengan jitu!

Tupolev Tu-22M3M dan rudal balistik kh-32. dok : google

Pembom canggih ini mampu membawa hingga tiga rudal KH-32 atau 12 Kh-15.  Kedua jenis rudal itu bisa dipasang hulu ledak konvensional hingga hulu ledak nuklir! Tupolev Tu-22M3M mampu mengangkut persenjataan seberat 2,4 ton. Pertahanan diri pesawat pembom ini terakhir adalah senapan mesin GSH-23, dengan peluru 23 mm yang bisa ditembakkan bukan saja oleh pilot atau crew, tapi juga di pusat kendali misi karena bisa dikendalikan jarak jauh via satelit. (yan/The Diplomat)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya