Profesor Australia Pilih Euthanasia

David Goodal.. dok : CNN

Basel, Swiss– David Goodal (104), profesor ahli botani dan ekologi, meninggal hari Kamis (10/5/2018) kemarin di Swiss, setelah dokter menyuntikkan obat dengan dosis mematikan. Euthanasia, itulah pilihan Goodal sendiri, untuk mengakhiri hidupnya yang dinlai sudah tak berguna lagi, malah menyusahkan orang lain.

Saat proses penyuntikan mematikan berlangsung, Goodal minta diputarkan music “Ode to Joy”, karya Beethoven. Dua hari sebelum meninggal, kepada wartawan yang menjumpainya, Goodal mengakui pilihan ini karena 10 tahun belakangan kualitas hidupnya terus menurun, penglihatannya juga semakin buruk. “Saya tak inginmerepotkan orang lain,” ujarnya.

“Saya ingin hidup dengan beraktivitas, bekerja sekedar membersihkan kebunpun tak mampu lagi,” ujarnya. Jadi untuk apa lagi mempersulit diri dan orang lain? tambahnya.

David Goodal, tahun 1950 saat jadi dosen muda. Foto dok pribadi

“Saya bisa menikmati kicauan burung, tapi mata saya tak bisa melihat (burung) indah itu. Saya ingin berjalan ke gunung, semak belukar dan merindukan suasana pedesaan, tapi tak bisa lagi,” katanya pasrah. “Saya telah memutuskan ini sejak usia 84 tahun. Saya piker ini sia-sia mempertahankan hidup yang semakin tak berkualitas,” tegasnya.

“Di usiaku 84 waktu itu, aku bangun di pagi hari, lalu sarapan. Dan kemudian aku hanya duduk sampai jam makan siang. Lalu aku punya sedikit makan siang dan hanya duduk. Apa gunanya itu?” kata ilmuwan ini dengan wajah sedikit gusar.

Karena euthanasia illegal di Australia, Goodal terpaksa memilih kematian di Swiss, negara yang mengizinkan euthanasia. Ia didukung warga yang sadar akan realitas pilihannya, bahkan mereka menyumbang lebih 20 ribu dollar Australia untuk membantu biaya perjalanan Goodal dari Pert, Australia, ke Geneva, Swiss.

Di kamar  inilah, di Basel, Swiss, David Goodal memilih disuntik danmengakhiri hidupnya, sambil mendengarkan “Ode to Joy” Beethoven. Foto : Google

“Saya menantikan peristiwa ini sejak usia 84 tahun,” ujarnya Kamis pagi, sebelum disuntik. Ia berharap pemerintah Australia melegalkan euthanasia, karena itu pilihan ketika tubuh tak mampu lagi mendukung kehidupan, “Jangan dipaksa untuk bertahan, hanya akan lebih menderita danmembuat penderitaan bagi orang lain,” ujarnya.  Kasus Goodal  sejak Kamis memang memunculkan perdebatan di Australia, mengenai bisa atau tidak dilegalkan euthanasia. Kematian dengan pilihan sendiri..! (yan/CNN/News.com.au)