“Pengantin ISIS” Asal AS Ingin Pulang : Saya Menyesal!

BUMOE 19 Feb 2019
“Pengantin ISIS” Asal AS Ingin Pulang : Saya Menyesal!
Hoda Muthana. dok : Guardian

Hoda Muthana, 24, kini tinggal di Kamp Pengungsian al-Hawl, Utara Suriah yang berbatasan dengan Irak. Ia tinggal bersama anaknya, Adam, buah perkawinan dengan suami keduanya.

Ia dinikahi dua jihadis ISIS, yang pertama asal Australia, dan yang kedua jihadis asal Tunisia.  Keduanya telah tewas. Ia kemudian menikah  dengan seorang pejuang ISIS warga Suriah, yang masih bergabung dengan ISIS di front pertahanan terakhir mereka, 200 mil selatan al-Hawl.

Tenda-tenda darurat penuh pengungsi di al-Hawl, Suriah. dok : arab24.com

“Saya membuat kesalahan besar dalam hidup. Saya  menyesal, dan memohon maaf pada pemerintah AS. Semoga saya  bisa  di-izinkan kembali ke rumah,” ujarnya iba pada The Guardian.

Muthana, warga Hoover Alabama, AS. Saat itu ia berusia 19 tahun, seorang mahasiswi universitas Alabama, ketika terbujuk rayuan ISIS di media sosial dan memutuskan ikut berjuang sebagai “ISIS Bride” di Suriah. Rasa cintanya ingin berjuang di jalan agama membawanya ke Suriah, via Turki, tahun 2014 lalu.

Selain menjadi ISIS Bride – ia dinikahi pejuang ISIS – Muthana juga ikut menyebarkan seruan jihad ke seluruh dunia melalui media sosial. “Tumpahkan darah mereka di memorial day dan di jalan-jalan Amerika!” salah satu yang diakuinya.

Hoda Muthana dan Adam di al-Hawl. The Guardian

“Benar kata orangtua saya. Saya telah tercuci otak, dan membuat kesalahan terbesar dalam hidup saya,” akunya. Selama menjadi pengantin jihad di ibukota ISIS, Raqqa, waktu senggang ia gunakan untuk menyebarkan jihad  terhadap non-Muslim, termasuk menyerukan serangan teror di AS via media sosial.

Berbicara kepada The Guardian, Muthana mengaku kini  ‘sangat menyesal’ meninggalkan AS, namun dia percaya  melakukan apa yang benar menurut agamanya, Islam. “Saya pikir saya telah melakukan hal-hal dengan benar demi Tuhan,” katanya, sembari kini mengaku sadar dia telah ‘salah mengerti’ akan imannya.

“Aku benar-benar muda dan bodoh saat aku berusia 19 memutuskan untuk pergi.” Keluarganya sempat mencari Muthana, namun kemudian ayahnya memutuskan hubungan. “Dia telah dicuci otaknya,”ujar ayahnya, marah.

Ia kini tinggal di kamp pengungsian yang jorok dan serba terbatas, membuat ia khawatir kondisi putranya, Adam. “Saya memohon maaf pada keluarga dan pemerintah AS.  Saya percaya demi kemanusiaan  Amerika akan memberi peluang kedua bagi saya. Saya ingin kembali dan saya tidak akan pernah ingin kembali ke Timur Tengah. Konsulat AS boleh mengambil paspor saya dan saya tidak keberatan,” paparnya.
Muthana tidak sendiri. Ada  lebih dari 25.000 orang kini terlantar di kamp pengungsian al-Hawl. Pengantin ISIS asal Barat lainnya adalah Shamima Begum. Gadis asal Inggris ini bahkan lebih muda, 19 tahun, dan berangkat ke Suriah juga via Turki dari London saat ia berusia 15 tahun!

Shamina Begum, saat memutuskan meninggalkan London, di usia 15 tahun, dan bergabung dengan ISIS untuk menjadi ‘ISIS Bride’, tahun 2015 lalu. Dok : google

Shamina Begum saat pergi dari London. dok Skynews

Shamina menerobos perbatasan bersama dua teman kelasnya, Kadiza Sultana dan Amira Abase, dari London Bethnal ke Suriah, Februari 2015 lalu. Shamina Begum kini juga memohon bisa kembali ke Inggris untuk membesarkan tiga anaknya dari pernikahan dengan pejuang ISIS. “Selama 4 tahun saya hanya sebagai ibu rumahtangga di sana. Mengurus suami, memasak dan mendukung perjuangannya di jalan agama. Saya tidak menyesal, karena jadi lebih kuat dan berani, namun saya harus pulang untuk membesarkan anak-anak saya,” katanya. Beda dengan Muthana, selain tidak menyesal, Begum juga didukung keluarganya agar anaknya ini bisa kembali ke Inggris.

Shamina Begum dan anaknya di al-Hawl. 29 anak meninggal dalam dua bulan terakh di kamp ini. dok : Skynews

Shamina Begum kini menjadi kontroversi di Inggris, antara diperbolehkan pulang atau tidak. Hukum membolehkan warga Inggris kembali ke negaranya walau berjuang di negara lain. Namun penolakan juga ramai, “Saya tak mau pajak saya digunakan untuk membiayai hidup orang seperti Shamina Begum. Ia telah memilih mendukung dan melayani suaminya yang membunuh warga kita. Mestinya ia malu untuk kembali ke negara dengan orang-orang yang dibencinya,” ujar Pierce Morgan, pembawa acara TV populer di London.

Namun nasib Muthana bisa lebih buruk, karena pemerintah AS di bawah Trump terkenal keras terhadap persoalan seperti ini. Namun banyak LSM dan kaum liberal di Partai Demokrat  — bahkan sebagian Republikan — mendesak pemerintah membolehkan Muthana kembali. Sementara kelompok pendukung Trump minta pemerintah AS menolak Muthana, yang disebut sebagai pengkhianat negara.

Sementara itu, Jurnalis The Guardian Inggris melaporkan kondisi kamp cukup memprihatinkan. “Tenda darurat tak cukup menampung jumlah pengungsi, khususnya anak-anak. Sedikitnya 29 orang meninggal di al-Hawl dalam dua bulan terakhir, terutama karena hipotermia,” ujarnya mengutip laporan WHO. (The Guardian/Daily Mail/*)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya