Pelarian Korut di Korsel: Lebih Enak di Korea Utara!

Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri : Tetap enak di negeri sendiri! Begitulah kira-kira penyesalan warga Korea Utara yang melarikan diri ke Korea Selatan. Ternyata, kehidupan ala kapitalisme menjerat mereka dalam kemiskinan, dan jadi warga kelas rendah. Pulang salah, tak pulang menderita batin!

Adalah Kwon Chol Nam, warga Korea Utara, yang  melarikan diri ke China tiga tahun lalu. Ia rela mengarungi sungai perbatasan di malam hari, merangkak di bawah pagar kawat berduri sebelum sampai di perbatasan China.

Kwon Chol Nam

Ia lalu melakukan perjalanan yang panjang dan berbahaya di China, melewati belantara hutan di Laos, dan kemudian sampai ke Thailand. Barulah dari Thailand ia terbang ke Korea Selatan, untuk memulai kehidupan baru.

Dan ternyata segala impiannya tentang kebebasan dan kemakmuran musnah. Ia merasa amat menderita hidup di Korea Selatan, dan kini ingin kembali ke Korea Utara. Ia sangat rindu keluarganya. “Tak ada harapan untuk tinggal di sini (Seoul,red). Saya telah mengalami begitu banyak pelecehan dan diperlakukan seperti warga kelas dua.” “Korea Utara adalah rumah saya, di situlah anak saya hidup dan orang tua saya meninggal,” katanya.

Selama beberapa dekade terakhir ribuan warga Korea Utara telah mempertaruhkan tubuh dan nyawa mereka untuk melarikan diri dari penindasan di tanah kelahiran mereka, dan mencari perlindungan di Korea Selatan.

Presiden Korut, Kim Jong Un bersama warga yang memujanya

Tapi sekarang tanpa diduga, jumlah yang ingin kembali ke tanah air mereka terus bertambah. Mereka mengatakan Korea Selatan bukanlah tanah yang menawarkan kebebasan dan kemakmuran yang dijanjikan.

Kwon hidup dalam kemiskinan dan terisolasi dalam sebuah ruangan kecil di pinggiran kota Seoul. Pembayaran uang sewa tempat tinggalnya tergantung sumbangan.

Ia menganggur dan mengaku saat bekerja sebagai buruh, mendapat bayaran jauh lebih sedikit dari rekan-rekan kerjanya warga Korea Selatan, atau bahkan tidak dibayar sama sekali.

Ia mengaku menderita stigma sebagai orang yang datang dari Korea Utara, dengan mengatakan sebagian besar warga Korea Selatan melihatnya terbelakang atau bodoh. “Saya kesepian dan sebagian besar pendatang dari Korea Utara berpikir yang sama,” ujarnya.

“Orang Korea Selatan tidak mau bersosialisasi dengan kita, mereka tidak memperlakukan kita seperti manusia.”

“Meskipun Korea Utara lebih miskin, saya merasa lebih bebas di Korea Utara. Tetangga dan orang-orangnya saling membantu satu sama lain dan saling bergantung satu sama lain.”

“Hidup lebih sederhana di sana, dan di sini (Korea Selatan), mereka hanya diperbudak uang.”

Lari Pulang

Kwon telah mencoba untuk kembali secara ilegal melalui China, namun tertangkap dan dia mendekam beberapa bulan di penjara Seoul.

Pendatang Korea Utara memang mendapat kewarganegaraan, dan  mereka dilarang secara hukum untuk memiliki kontak atau mengunjungi Korea Utara. Kwon telah menghabiskan beberapa bulan terakhir untuk melakukan protes dan melobi PBB serta parlemen Korea Selatan.

“Saya telah menyatakan diri sebagai warga Korea Utara kembali,” katanya. “Meskipun tubuh saya ada di sini, pikiran saya berada di rumah saya, Korea Utara.”

Para pendatang asal Korea Utara pernah disambut di Korea Selatan dengan diberikan rumah baru dan tunjangan hidup yang mencukupi, namun sekarang tidak lagi. Ada sekitar 25.000 orang yang tinggal di Korea Selatan dan mereka berjuang untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan ala kapitalism yang sangat kompetitif dan serba cepat di Korea Selatan.

Studi memperkirakan, lebih dari setengah warga tersebut mengalami diskriminasi dan depresi, serta pengangguran, enam kali lebih tinggi dari rata-rata warga Korea Selatan. Diperkirakan 25 persen dari semua pendatang sudah serius mempertimbangkan untuk kembali ke rumah.

Bahkan pendatang seperti Kim Hyung Doek, yang telah berada di Korea Selatan selama 20 tahun dan telah berhasil meniti karir yang sukses, menghasilkan uang dan membesarkan keluarganya, ia pun ingin kembali.

“Ada perasaan kuat untuk benar-benar kembali dan tinggal bersama keluarga saya, karena di situlah saya dilahirkan dan dibesarkan,” katanya.

“Sulit untuk beradaptasi di Korea Selatan, tapi saya melakukannya. Saya sangat menderita dengan adanya diskriminasi.”

“Memang ada perbedaan sekitar 40 tahun antara Korea Utara dan Selatan,” akunya. Namun itu bukan masalah, karena hidup bukan semata mata karena materi.

Beberapa tahun yang lalu, Kim pergi ke kedutaan Korea Utara di China dan meminta visa pengunjung, namun ditolak dengan tegas.

Ia berharap hubungan antara Korea Utara dan Selatan akan membaik sehingga suatu saat nanti ia bisa kembali menemui keluarganya. (detik.com/*)