Netanyahu : Jangan Ganggu Stabilitas Saudi!

BUMOE 04 Nov 2018
Netanyahu : Jangan Ganggu Stabilitas Saudi!
Netanyahu dan MbS. dok : Sunday Express

Di tengah kecaman dunia pada Saudi Arabia, atas kasus terbunuhnya jurnalis Jamal Kashogi, PM Israel Benyamin Netanyahu malah membela Riyadh. “Saudi penting bagi stabilitas wilayah (Timur Tengah) dan dunia. (Kerajaan) Arab Saudi harus tetap stabil. Soal terbunuhnya Kashogi tak perlu dibesarkan, stabilitas Saudi jauh lebih penting,” tandasnya,  Jumat (2/11/2018) lalu.

Pintu konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. dok : Google

Menurut Netanyahu, mengungkapkan kasus terbunuhnya Kashogi menjadi bagian tersendiri, “Biar Riyadh yang bekerja. Karena masalah yang lebih besar adalah Iran, yang terus ingin mengganggu stabilitas wilayah kita,” katanya. Padahal, sebelumnya Saudi selalu mendukung sekutu Arab yang memerangi Israel. Namun sejak 1979, sejak jatuhnya rezim Shah Iran, Israel mulai ‘bekerja sama’ dalam upaya melawan pengaruh Republik Islam Iran  di Timur Tengah.

“Upaya Iran untuk terus merebut pengaruh di Timur Tengah, memaksa Saudi bekerjasama dengan musuh tradisional mereka,” ujar seorang pengamat.

Sementara Amerika Serikat, yang memiliki aliansi dengan Israel, maupun Arab Saudi, yang kemudian malah memiliki hubungan semakin erat sejak  era Presiden Donald Trump.  Awal 2018, Trump menarik AS keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran 2015, meskipun ada protes dari Inggris, Uni Eropa, Cina dan Rusia. Artinya, Iran boleh diserangkapan saja dengan tuduhan memiliki fasilitas nuklir.

Kembali ke soal Kashogi, pertengahan 2018, dalam sebuah pembicaraan yang disadap, Pangeran Mohammad bin Salman (MbS) pernah menelpon pimpinan senat dan pejabat teras AS, dengan mengatakan Kashogi sebagai sosok yang berbahaya, Kashogi dituding sebagai anggota fanatik ikhwanul muslimin. Atas dugaan sadapan telpon itulah,  baik Turki maupun Uni Eropa sepakat, MbS sangat terlibat atas terbunuhnya Jamal Kashogi, jurnalis dan penulis di The Washington Post.

Baik Israel dan Arab Saudi telah mengambil langkah-langkah aktif dalam upaya untuk membatasi apa yang mereka anggap memperluas pengaruh Iran melalui proksi di negara-negara tetangga. Arab Saudi bahkan menutup hubungan diplomatik danmengisolasi Qatar, yang dicurigai menjaid kaki tangan Iran di kawasan teluk.

Di Suriah, Israel terus membom posisi militer militan dan tentara pro Presiden Assad. Saudi juga mendorong terbentuknya militan pemberontak anti pemerintah Assad, hingga terbentuknya ISIS.  Di Yaman, Arab Saudi telah melancarkan perang proksi tiga setengah tahun dengan Iran, untuk menyingkirkan pemberontak Muslim Zaidi Syiah, yang menguasai sebagian besar negara Yaman.

Namun, meski Israel pernah mengajak Kerajaan (Saudi) untuk “ke luar dari kotak”, dan bergabung dnegan Israel, namun Saudi tidak pernah mau secara terbuka  melakukannya. Namun kedua negara terus bekerjasama, menyangkut dominasi Iran di Timur Tengah.

Ketika Trump mengumumkan relokasi kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, dan pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel,  sempat memicu “kemarahan” Riyadh. Namun kemarahan ‘politis’ itu teredam oleh waktu, tanpa dukungan konngkrit yang kuat dari Kerajaan (atas Yerusalem).

AS dan Uni Eropa sendiri telah memotong bantuan militer pada Saudi, menyusul terbunuhnya Kashogi. Hingga kini, pengawasan ketat dilakukan AS, Uni Eropa, dan Turki atas Kerajaan Saudi, dengan tuduhan pembunuhan, serta kemudian diungkit pula kejahatan perang di Yaman, bersama UEA.

Jamal Kashogi menghilang,  2 Oktober 2018 lalu, setelah memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. Setelah dua minggu membantah, dengan mengatakan Kashogi telah ke luar konsulat, Kerajaan Saudi akhirnya terpaksa mengakui — setelah ditekan Turki — Kashogi terbunuh di  konsulat, akibat ‘perkelahian’. Namun kini kembali ditekan Erdogan, untuk menunjukkan mayat Kashogi bila benar ia terbunuh akibat perkelahian.

Terus ditekan Turki, yang mengaku memiliki rekaman audio dan visual Kashogi dicekik, dimutalilasi, kemudian dilarutkan dalam zat asam,  dan dibuang ke sebuah hutan di Istanbul,  akhirnya pula baru-baru ini, Saudi mengakui bahwa kematian Khashoggi telah “direncanakan”.   Turki menuding ada “tim khusus’ terdiri dari 15 ahli militer dan dokter, yang datang dari Riyadh — sehari sebelum Kashogi datang ke konsulat — menjadi dalang pembunuhan.

Reaksi Trump terhadap pembunuhan itu sangat bervariasi. Dia menyebut ada ‘pembunuhan jahat’ namun memerlukan bukti lebih banyak. Namun pejabat pemerintah AS  secara umum tak menampik adanya dugaan MbS  terlibat dalam pembunuhan itu.  Mereka menekan Trump agar menjatuhkan sanksi lebih berat pada Saudi.

Awal pekan lalu,  Trump mengumumkan  AS akan menangguhkan visa mereka yang terlibat dalam pembunuhan itu, termasuk MbS.  Selasa pekan lalu,  Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menyerukan gencatan senjata segera di Yaman, termasuk serangan misil dan UAV dari daerah-daerah yang dikuasai Houthi. “Serangan udara koalisi (Arab Saudi, UAE) harus berhenti di semua daerah berpenduduk di Yaman, untuk menemukan solusi diplomatik untuk konflik yang sedang berlangsung dan krisis kemanusiaan yang sedang berkembang,” katanya.

Akankah kasus pembunuhan Jamal Kashogi terungkap? Atau seperti kata Netayanhu,  ada yang “lebih penting” daripada sekedar mengganggu ‘stabilitas’ Kerajaan Saudi? (DM/Sunday Express )

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya