Nasib Bumi, Saat Matahari “Sekarat”

Matahari dalam proses RGB, menelan bumi dalam gas dan debunya. Foto dok : bussiness insider

Sistim Tata Surya kita terbentuk sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu. Berapa lama lagi hydrogen dan heliaum matahari akan habis? Para ahli meramalkan kita berada di periode menipisnya cadangan helium dan hydrogen matahari. Mungkin beberapa juta, atau milyar tahun lagi?

Saat helium dan hydrogen akan habis, matahari akan memasuki fase “raksasa merah” atau Red Giant Branch (RGB), akan membesar beberapa kali ukurannya, dan “mengambil kembali” (menelan) semua planet dalam jajaran tata surya kita, termasuk bumi!

Matahari kemudian meledak, dan menjadi bintang kate putih. Siklus tata surya di Bima sakti, dan di galaksi lain, akan selalu begitu, siklus kelahiran dankematianbintang.

Penelitian baru oleh tim astronom internasional, Matahari kita akan mengakhiri siklus hidupnya dengan berubah menjadi cincin besar gas dan debu – yang dikenal sebagai planetary nebula. Studi  berjudul “Invariance usia misterius dari cut-off Planetary Nebula Luminosity Function“, baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nature. Penelitian ini dipimpin oleh Krzysztof Gesicki, astrofisikawan dari Nicolaus Copernicus University, Polandia,  dan Albert Zijlstra serta M Miller Bertolami – seorang profesor dari Universitas Manchester dan seorang astronom, Instituto de Astrofísica de La Plata (IALP), Argentina.

“Ketika sebuah bintang mati, ia mengeluarkan massa gas dan debu – yang dikenal sebagai cover-nya — ke angkasa. Cover itu bisa mencapai setengah massa bintang. Ini menunjukkan bintang kehabisan bahan bakar, berontak sebelum “ajal” menjemputnya.

Beda dengan makhluk hidup di bumi, masa “berontak” Matahari mencapai seribu tahun bumi. Saat itu, bahkan planet terluar pun sulit bertahan, apalagi Mercurius, Venus, Bumi dan Mars. Akan “lenyap” dalam gas dan debu matahari.

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan K.-P. Schr¨oder dan Robert Connon Smith, ketika Matahari menjadi bintang raksasa merah, ekuatornya bahkan sudah melebihi jarak Mars. Dengan demikian, seluruh planet dalam di Tata Surya akan ditelan olehnya. Peningkatan fluks Matahari juga meningkatkan temperatur Bumi sampai pada level  tidak memungkinkan mekanisme biologi apapaun bertahan.

Matahari akan jadi bintang kate putih, sednrian di alam semesta kehilangan “anak-anak”nya (planet-planet). Dok : Universe today

Lagi-lagi pertanyaannya bagaimana dengan Bumi? Perhitungan yang dilakukan oleh K.-P Schroder dan Robert Cannon Smith menunjukan, saat Matahari menjadi bintang raksasa merah di usianya yang ke 6-7 milyar tahun, ia akan mulai mengalami kehilangan massa. Matahari pada saat itu akan mengembang dan memiliki radius 256 kali radiusnya saat ini dan massanya akan tereduksi sampai 67% dari massanya sekarang. Saat mengembang, Matahari akan menyapu Tata Surya bagian dalam dengan sangat cepat. Setelah itu ia akan langsung masuk pada tahap pembakaran helium yang juga akan berlangsung dengan “sangat cepat”, hanya sekitar 130 juta tahun. Matahari akan terus membesar melampaui orbit Merkurius dan kemudian Venus. Nah, pada saat Matahari akan mendekati Bumi, ia akan kehilangan massa 4.9 x 1020 ton setiap tahunnya (setara dengan 8% massa Bumi).

Saat Matahari melampaui orbit Bumi, ia akan menguapkan lautan di Bumi dan radiasi Matahari akan memusnahkan hidrogen dari air. Saat itu Bumi tidak lagi memiliki lautan. Tetapi, suatu saat nanti, ia akan mencair kembali. Nah saat Bumi tidak lagi berada dalam area habitasi, lantas bagaimana dengan kehidupan di dalamnya? Akankah mereka bertahan atau mungkin beradaptasi dengan kondisi yang baru tersebut? Atau itulah akhir dari perjalanan kehidupan di planet Bumi?

Yang menarik, meskipun Bumi tak lagi berada dalam zona habitasi, planet terluar kemungkinan bisa masuk dalam zona habitasi baru milik Matahari, dan mereka akan berubah menjadi planet layak huni. Zona habitasi yang baru dari Matahari akan berada pada kisaran 49,4 SA – 71,4 SA. Ini berarti areanya akan meliputi juga area Sabuk Kuiper, dan dunia es yang ada disana saat ini akan meleleh. Dengan demikian objek-objek disekitar Pluto yang tadinya mengandung es sekarang justru memiliki air untuk mendukung kehidupan. Bahkan bisa jadi Eris akan menumbuhkan kehidupan baru dan menjadi rumah yang baru bagi kehidupan.

Bagaimana dengan Bumi?

Apakah ini akhir perjalanan planet Bumi? Ataukah Bumi akan selamat? Berdasarkan perhitungan Schroder dan Smith Bumi tidak akan bisa menyelamatkan diri. Bahkan meskipun Bumi memperluas orbitnya 50% dari orbit yang sekarang ia tetap tidak memiliki pluang untuk selamat. Matahari yang sedang mengembang akan menelan Bumi sebelum ia mencapai batas akhir masa sebagai raksasa merah. Setelah menelan Bumi, Matahari akan mengembang 0,25 SA lagi dan masih memiliki waktu 500 ribu tahun untuk terus bertumbuh.

Saat Bumi ditelan, ia akan masuk ke dalam atmosfer Matahari. Pada saat itu Bumi akan mengalami tabrakan dengan partikel-partikel gas. Orbitnya akan menyusut dan ia akan bergerak spiral kedalam. Itulah akhir dari kisah perjalanan Bumi.

Sedikit berandai-andai, bagaimana menyelamatkan Bumi? Jika Bumi berada pada jarak 1.15 SA (saat ini 1 SA) maka ia akan dapat selamat dari fasa pengembangan Matahari tersebut. Nah bagaimana bisa membawa Bumi ke posisi itu?? Meskipun terlihat seperti kisah fiksi ilmiah, namun Schroder dan Smith menyarankan agar teknologi masa depan dapat mencari cara untuk menambah kecepatan Bumi agar bisa bergerak spiral keluar dari Matahari menuju titik selamat tersebut.

Menariknya, umat manusia berbicara tentang masa depan Bumi milyaran tahun ke depan, padahal di depan mata, kerusakan itu sudah mulai terjadi. Bumi saat ini sudah mengalami kerusakan awal akibat ulah manusia, dan hal ini akan terus terjadi. Bisa jadi akhir perjalanan Bumi bukan disebabkan oleh evolusi matahari, tapi oleh ulah manusia itu sendiri. Tapi bisa jadi juga manusia akan menemukan caranya sendiri untuk lolos dari situasi terburuk yang akan dihadapi. Atau akan ada kecerdasan lain (AI?) yang akan menguasai bumi, sebelum peradaban manusia musnah, baik akibat ulahnya sendiri merusak bumi, atau karena proses kematian Matahari. (yan/LS/Universe Today)