Muhyiddin Yassin, PM ke-8 Malaysia!

Muhyiddin Yassin. foto dok : CNA

Kuala Lumpur  –  Raja Malaysia, Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah akan melantik Presiden BERSATU, Tan Sri Muhyiddin Yassin sebagai Perdana Menteri ke-8 Malaysia, menggantikan Tun Mahathir Muhammad.

Raja memutuskan Perdana Menteri baru, usai Maharthir mengundurkan diri, Kamis kemarin yang membuat politik Malaysia gonjang ganjing. Raja menerima masukan dari pimpinan partai dan penasehat parlemen, yang memberi nama calon PM kepada raja.

“Selanjutnya akan dilakukan pelantikan dan Mengangkat Sumpah Jawatan sebagai Perdana Menteri pada 1 Maret 2020 (Minggu-red), jam 10.30 pagi di Istana Negara,” kata Ahmad fadil, jubir Raja Malaysia.

Pelantikan dipercepat, agar gonjang ganjing politik tidak berketerusan, yang bisa merugikan rakyat. “Seri Paduka Baginda bertitah bahwa ini adalah keputusan terbaik untuk semua dan Baginda menzahirkan harapan agar kemelut politik ini berakhir,” katanya.

Penunjukan ini sesuai pasal 40 ayat 2(a) dan pasal 43 ayat 2(a) pada Konstitusi Federal Malaysia, yang mengatur wewenang Raja Malaysia  menunjuk Perdana Menteri yang  memiliki dukungan mayoritas dalam parlemen atau Dewan Rakyat.

Nama Muhyiddin mencuat sebagai kandidat PM baru Malaysia setelah dia menyatakan didukung oleh total 36 anggota parlemen dari Partai Bersatu. Dukungan seluruh anggota Partai Bersatu ini mengejutkan, mengingat sebelumnya Partai Bersatu selalu menegaskan dukungan untuk Mahathir. Bahkan sebelumnya Partai Bersatu berhasil membujuk Mahathir untuk mencabut keputusannya mengundurkan diri sebagai ketua partai ini.

Selain didukung seluruh anggota parlemen dari Partai Bersatu, Muhyiddin juga mendapatkan dukungan penuh dari partai-partai oposisi yang membentuk koalisi Barisan Nasional (BN). Koalisi BN diketahui terdiri atas empat partai politik (parpol), yakni Partai Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) — yang menaungi eks PM Malaysia Najib Razak yang terjerat skandal korupsi, kemudian Partai Islam Se-Malaysia (PAS), Asosiasi China Malaysia (MCA), dan Kongres India Malaysia (MIC). (yan/Awani/CNA)