MRT, Tak Perlu Malu Belajar dari Bangkok dan KL

Kula Lumpur Mono Rail. (Google Image)
Kula Lumpur Mono Rail. (Google Image)

Sistim angkutan kereta api dalam kota—MRT, Monorel, LRT—adalah permata bagi ibukota sebuah negara. Tak usah jauh-jauh, Singapura, Kuala Lumpur dan Bangkok contohnya. Soal ini, kita ketinggalan 100 tahun di belakang tiga ibukota negara tetangga ini!

Bangkok Sky Train, atau BTS, dan MRT menjadi kebanggaan warga Bangkok, dan pemerintah kotanya. Selain membawa devisa milyaran baht setiap hari, juga terbukti menjadi solusi mengatasi kemacetan. “Jakarta ketinggalan 25 tahun dari Bangkok. Mungkin 100 tahun dari Singapura dan Hongkong,” ujar seorang insinyur Inggris yang bekerja sebagai konsultan pembangunan kota Bangkok.

Silom Line, BTS Skytrain, Bangkok. Foto Gibransyah.
Silom Line, BTS Skytrain, Bangkok. Gibransyah

Di Bangkok, BTS SkyTrain adalah sistim kereta api di jalan layang, yang dibuka bagi publik tahun 1999 lalu, persis saat kita sedang bergolak dengan ide reformasi. Ada dua line—Sukhumvit dan Silom—yang menghubungkan 23 stasiun di sepanjang dua jalur—garis utara-selatan, yang  melintasi sungai Chao Phraya hingga ke Thonburi, dan garis timur-barat yang kebanyakan berjalan di atas Sukhumvit Road, salah satu jalan arteri terpenting di Bangkok.

Kini, bahkan BTS Skytrain memiliki 35 stasiun sepanjang 38 km, dan akan ada 10 line pembangunan rel baru hingga 12 tahun ke depan. Persiapan ini dianggap perlu bagi Bangkok, yang terus menerima limpahan turis ke ibukota Thailand itu. Masyarakat juga dinilai sangat siap menerima kunjungan turis,  yang memberi devisa melimpah bagi Thailand. Mereka ramah, jujur dan gampang menerima budaya luar tanpa kehilangan jatidiri mereka sebagai bangsa Asia.

Gate coin magnetic, ke luar masuk stasiun BTS Sky Train, Bangkok. Foto: Gibransyah
Gate coin magnetic, ke luar masuk stasiun BTS Sky Train, Bangkok. Gibransyah

Bagi kita, Kuala Lumpur mungkin lebih patut dijadikan contoh, betapa 11 jalur Kereta Api Rapid KL, telah menjadi permata bagi pengelolaan kota dan persoalan kemacetan ibukota. Setiap hari, jalur utama LRT Kelana Jaya-Gombak hilir mudik mengangkut tak kurang dari 500 ribu penumpang setiap hari.

Dua jalur Kelana Jaya line, menyambangi stasiun di jalurnya tiap 4 -5 menit. Stasiun popular di jalur ini adalah KL Sentral, Masjid Jamik, Pasar Seni dan KLCC, di mana menara kembar berdiri. Stasiun utama, KL Sentral ada banyak pertukaran line, termasuk KLIA line hingga KTM. Beberapa stasiun lain, Titiwangsa, Masjid Jameek hingga Pasar Seni, juga terdapat pertukaran line antara jalur kereta biasa hingga monorail.

Monorail di pusat bisnis Bukit Bintang, membuat jalur sibuk itu bisa lengang di jam sibuk. Terbukti ampuh mengurangi kemacetan di kota besar.
Monorail di pusat bisnis Bukit Bintang, membuat jalur sibuk itu bisa lengang di jam sibuk. Terbukti ampuh mengurangi kemacetan di kota besar. Gibransyah

LRT Kelana Jaya, umumnya 3-5 gerbong, berisi tak kurang 150 orang tiap gerbong. Jadi, setiap empat menit rata-rata menagngkut lebih 500 penumpang, atau 1000 orang di dua jalur. Itu Kelana Jaya line saja! Harga tiket dengan koin magnetiknya juga terbilang murah, hanya RM 1-2  antar satu atau dua stasiun. Murah, nyaman, aman, cepat dan bersih, motto yang terjaga betul pada publik, khususnya turis pada sistim transportasi di Bangkok dan KL. Makanya mungkin turis asing ke dua kota itu tak pernah surut. Iri kita!

Di jalur transportasi massal ini, Baik Bangkok maupun KL mampu memindahkan 500 ribu hingga satu juta penumpang per hari. Jumlah turis sebanyak ini pula yang dibawa masuk berbagai penerbangan biasa dan bertambang murah masuk KL, baik via KLIA1 dan KLIA2. Belum lagi yang masuk via darat dan laut.  Bila setiap satu orang menghabiskan RM 50  hari untuk makan saja, maka KL mendapatkan hampir RM 50 juta (sekitar Rp 175 milyar) perhari! Itu untuk makan saja. Belum lagi untuk penginapan dan pajak.Jumlah turis yang masuk ke Bangkok, Thailand khususnya diyakini lebih banyak lagi, karena banyaknya destinasi menarik di negara Gajah Putih itu.

Percampuran budaya dalam LRT, warga Melayu di KL biasa saja. Ada dampak ikutan subsidi bagi orang Melayu? Foto: Gibransyah
Percampuran budaya dalam LRT, warga Melayu di KL biasa saja. Ada dampak ikutan subsidi bagi orang Melayu? Gibransyah

Apalagi, Pemerintah Malaysia mulai Agustus 2017,  menerapkan pajak hotel RM 10 setiap malam bagi setiap pelancong! Di luar itu, ada GST. Tampaknya pemerintah Nadjib faham betul menyedot devisa dari kantong setiap turis yang masuk ke negaranya. Jangan lupa berterimakasih pada Tun M, Tuk Nadjib!

“Cukai (pajak, red) itu bakal dikenakan pada siapa saja yang menginap di hotel di Malaysia, termasuk rakyat setempat dan mereka yang melakukan perjalanan bagi tujuan perniagaan dan bukan santai,” kata Menteri Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia Datuk Seri Mohamed Nazri Abdul Aziz di Kuala Lumpur, Agustus 2017 lalu.

Cukai pelancongan ini bakal dilaksanakan setelah Rancangan Undang-Undang Cukai Pelancongan diloloskan parlemen. Menurutnya, pemerintah bisa mendapatkan >RM 700 juta (Rp2,5 trilyun) pertahun,  jika tingkat hunian hotel 60 persen. Padahal tingkat hunia di KL, rata-rata di atas 80 persen! Menurut Bea Cukai Diraja Malaysia, besaran cukai ditentukan berdasarkan tarif penginapan.

Jalur MRT. (Google Image)
Jalur MRT. (Google Image)

Tadinya pajak diatur berbeda tergantung kelas hotel, dan pembelian di atas 10 kamar. Nyatanya, menginap satu malam satu kamar pun, dipajak RM 10 per malam! Namun, orang berduyun duyun masuk KL. Amatan Bumoe.id, tahun 2018 ini terjadi sedikit pergeseran turis masuk KL, di mana jumlah pelancong dari jazirah Arab semakin banyak, walaupun Mat Saleh (bule sebutan orang melayu Malaysia, red) pun tetap berjibun.

Situasi berbeda terlihat di Bangkok, kunjungan turis melimpah dari seluruh penjuru dunia, Eropa, Amerika, Afrika, Asia mulai Jazirah Arab hingga China. Bangkok memiliki keunikan tersendiri, dengan wisata kesehatan, hiburan—malam—hingga budaya, yang didukung peradaban masyarakatnya yang sangat kuat dalam menyambut turis. Terbayang MRT di Jakarta, yang semoga terwujud, bersih, tanpa copet, tanpa pelecehan seksual (mengingat pakaian turis yang tak lazim bagi mata warga kita yang terlalu peduli pada orang lain), tanpa penumpang iseng yang menumpang gratis, merusak gate magnetic maupun mencuri coinnya, hingga tawuran memecahkan kaca dan merusak sarana transportasi publik. Duh, kita tertinggal dari sisi infrastruktur, dan peradaban, tertinggal jauuuhhh!(marhiansyah)