Meneropong Akun Palsu Dengan AI

BUMOE 15 Feb 2019
Meneropong Akun Palsu Dengan AI

Milyaran orang kini terkoneksi dengan internet, ratusan juta orang bahkan kecanduan dan tidak bisa hidup tanpa internet, di era dunia baru ini. Selain untuk bekerja, pergaulan, pencitraan hingga iseng, jutaan orang bahkan mengharap cinta atau bertemu jodoh di internet.

Namun, ada suka, ada pula duka, khususnya ketika yang dicinta ternyata penipu berakun palsu, bahkan memeras pula, setelah LDR via dunia maya. Tentu saja, uang menjadi motivasi utama dalam banyak kasus berhubungan di dunia maya. Ribuan warganet telah tertipu, dengan kerugian materil dan moril.

Menyikapi itu, sebuah tim peneliti Inggris melakukan riset dan mengklaim telah menciptakan sebuah algoritma (AI), yang mendeteksi penipuan kencan online. “Kita berharap tidak ada lagi orang yang patah hati, kehilangan banyak uang hingga depresi akibat penipuan di dunia maya ini,” sebuTom Sorell, salah satu tim peneliti.

Menurutnya, kebanyakan penipuan kencan online mengikuti pola yang sebenarnya bisa diprediksi. Profil palsu dibuat untuk memikat korban, umumnya pria ganteng atau wanita cantik nan ayu. Setelah korban berhasil dipikat, scammer akan turun tangan merayu, menjebak dan memeras korban.

Tim peneliti yang dipimpin oleh para ahli dari University of Warwick membuat program algoritma untuk menganalisis profil kencan palsu dari elemen yang tertera yang mereka berikan. Kemudian profil pengguna di situs kencan dipindai, untuk mencari tanda-tanda di informasi demografis, foto, atau bios yang memungkinkan profil itu palsu.

Menurut mereka, dari semua akun di situs kencan, hanya 1-5 persen saja yang benar-benar asli sesuai profil sebenarnya, 35 persen tidak sesuai dan selebihnya total palsu, alias memang mencari korban untuk ditipu.

Di Inggris saja, setiap tahun lebih 3.000 orang kehilangan rata-rata sekitar $ 14.600 (sekitar Rp 265 juta) dalam kurun tahun 2017. Apalagi, kata Sorell,  orang kehilangan lebih dari sekadar uang ketika mereka menjadi korban penipuan kencan online. Mereka sering sangat tertekan dan malu dengan situasi yang menimpa mereka, sehingga bahkan tidak berani melaporkannya kepada pihak berwenang.

Tom Sorell dan seluruh tim peneliti terus meningkatkan program AI mereka, sehingga perusahaan dapat mulai menggunakannya untuk mencegah scammers dari memposting profil palsu di platform kencan mereka.

“Menggunakan teknik AI untuk membantu mengungkap aktivitas mencurigakan bisa menjadi pengubah permainan yang membuat deteksi dan pencegahan lebih cepat, lebih mudah dan lebih efektif,” katanya.  “Kami ingin memastikan bahwa orang dapat menggunakan situs kencan dengan lebih percaya diri di masa depan. ” (yan/the independent)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya