Mencari Planet Baru, Untuk Manusia

BUMOE 02 Agu 2018
Mencari Planet Baru, Untuk Manusia
Bumi dan "kembarannya", Kepler-452b. Foto : NASA/Ames/JPL-Caltech00

NASA sudah menemukan lebih 100 planet Exo – yang mampu menunjang kehidupan – di galaksi Milky Way (Bimasakti) kita saja. Pertanyaannya : Bagaimana kita bisa sampai ke sana? Wahana apa yang bisa mencapai jarak puluhan, ratusan tahun cahaya? Apakah sampai di sana sesuai untuk kondisi fisik manusia?

Para ilmuwan serius menjawab pertanyaan ini, dengan mencari planet yang memiliki kandungan air, Hidrogen, Oxygen, Natrium, dan lain lain zat penunjang kehidupan. Apakah itu cukup? Tidak, harus ada sinar ultra violet yang cukup dari bintang (matahari)nya, untuk menciptakan kehidupan yang berkelanjutan (kembang biak).

“Hal yang paling umum diketahui manusia awam mengenai luar angkasa adalah bintang,” kata Paul Rimmer, penulis utama dan astrochemist di University of Cambridge di Inggris, seperti dikutip Space.com.

“Jadi, mari kita mulai dengan meneliti bintang. Aneh dalam semesta yang begini luas, ada trilyunan bintang, milyaran galaksi, kita belum menemukan makhluk hidup di luar sana (angkasa luar(,” tambahnya.

Sebagian besar ilmuwan percaya kehidupan dimulai dengan asam ribonukleat (RNA). Seperti DNA, molekul ini dapat mengirimkan informasi, sekaligus juga dapat membantu molekul lain bereaksi satu sama lain. Ini memungkinkan RNA untuk mereplikasi dirinya sendiri.

Tetapi menempatkan RNA di tempat  baru itu sulit. Dan RNA belum dapat dibuat! Sukrit Ranjan, seorang ilmuwan planet di Massachusetts Institute of Technology, mengatakan ada tiga blok atom yang membentuk molekul RNA.  Sebelumnya, para ahli kimia telah menemukan cara menyusun blok-blok, menjadi dua dari empat RNA.  “Rumitnya, mekanisme ini sangat memerlukan sinar UV [ultraviolet] yang tepat,” kata Ranjan.

Rimmer lalu membuat eksperimen di laboratorium, berapa jumlah daya dan tegangan sinar ultra violet, yang diperlukan  untuk pembentukan RNA. “Saya ingin tahu detil, agar kita benar dalam menganalisa unsur hidup dalam sebuah planet exo. Jaraknya dengan bintang –matahari – nya,” kata Rimmer.

Banyak ilmuwan yang skeptik, menilai eksperimen Rimmer hanya mempertimbangkan satu sisi. “Salah satu masalah dari sekian banyak percobaan kimia prebiotik, para  ahli kimia tidak mempertimbangkan kira kira seperti apa planet bumi kita awalnya,” kata Westal. Menurutnya, Atsmosfier planet bumi kuno menjadi titik balik terciptanya RNA awal, tambahnya.

Ukuran planet juga harus dipertimbangkan, termasuk jarak  dengan matahari induk mereka. “Ukurannya setidaknya 0,75-1,5 kali bumi,” kata Westal.  Kriteria tersebut mempersempit fokus penelitian ke selusin exoplanet, seperti TRAPPIST-1e, f dan g Kepler-452b dan LHS 1140b.

Planet seperti Proxima B dinilai terlalu besar untuk adanya kehidupan, walau air melimpah di sana.Dan ketika unsur ketepatan sinar ultra violet, dalam galaksi Milky way, hanya tersisa satu planet yang layak huni :  Kepler-452b !

Planet ini ditemukan NASA tahun 2015 lalu, dan Kepler 452b dinilai sangat mirip kondisi awal di bumi.

Begitupun ada beberapa dampak lain yang luput di-analisa, dampak flare mataharinya,  radiasi dan usia bintang induknya.  Bintang-bintang tua tak dapat  mendorong RNA terbentuk, karena radiasinya yang menipis, atau malah tak beraturan.

Karena itu,  Rimmer sudah memiliki rencana untuk penelitian baru: Menggunakan lampu xenon, yang lebih dekat meniru sinar ultraviolet yang berasal dari bintang, memberikan perkiraan yang lebih baik bagaimana awal pmbentukan RNA. Penelitian Rimmer diterbitkan kemarin, Rabu (21 Agustus 2018), dan menjadi referensi untuk menemukan planet yang layak bagi hidup dan peradaban manusia. Sekali lagi, pertanyaan wahana ke sana belum terjawab. Stephen Hawking sebelum meninggal mengatakan, hanya satu cara : menitipkan DNA, atau RNA pada wahana, yang kemudian diterbangkan ke planet Exo, yang bisa ribuan atau bahkan jutaan tahun kemudian, menuburk tanah di planet Exo, dan kehidupan baru titisan manusia akan dimulai, dnegan kemungkinan 1 : 1.000.0000. (yan/Space.com)

 

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya