Matahari Masuk Fase “Lockdown”, Bumi Mendingin!

Matahari saat normal, banyak binttiknya. (Foto dok: Getty Images)
Matahari saat normal, banyak binttiknya. (Foto dok: Getty Images)

Matahari, bintang kita yang menjadi sumber kehidupan di bumi mulai “memudar”. Matahari, yang terletak sekitar 150 juta kilometer dari planet bumi kini sedang memasuki fase “lockdown”, di mana proses pendidihan, pijaran akibat reaksi termonuklir di intinya berkurang.

Menurut Badan Antariksa Nasional AS, NASA, periode minimum matahari ini bisa memicu mini ace age, atau zaman es mini, di mana cuaca di sebagian belahan bumi semakin dingin. Berita baiknya, ledakan yang memicu sinar gamma menghantam bumi tidak lagi terjadi, sehingga kerja kutub elektromagnetik bumi berkurang.

Namun, periode 11 tahun sekali ini juga mengakibatkan malapetaka bagi bumi, musim dingin berkepanjangan serta gejolak atsmosfier yang semakin tinggi (badai, petir) hingga gempa bumi yang semakin tinggi “kuantitas dan kualitasnya.”

Zaman es kecil, atau mini ice age pernah terjadi tahun 1816 lalu, saat itu bumi dihantui bencana cuaca ekstrem, sampai sungai thames Inggris membeku, panen gagal sehingga memicu kekurangan pangan.

Baca Juga: Nasib Bumi, Saat Matahari “Sekarat”

Namun beberapa ilmuwan mengatakan hal ini merupakan siklus normal matahari, yang satu juta kali lebih besar dari planet bumi. Matahari kita terletak di tepi galaksi Bima Sakti, telah berusia 4,5 milyar tahun dan masih memiliki energi yang cukup untuk menyinari planetnya, khususnya bumi hingga milyaran tahun lagi. “Jadi kita tak perlu terlalu khawatir,” kata kantor meteorologi dan anggota Royal Astronomical Society, Inggris.

Salah satu yang pasti, belahan utara tidak lagi terlihat aurora, selama periode matahari lockdown ini.

Para ilmuwan sendiri, sejak abad ke-17 telah mengukur energi maksimal dan minimal matahari dengan menghitung ‘bintik matahari’—area aktivitas magnetik pada permukaan matahari yang muncul sebagai bintik-bintik yang relatif gelap—dan suar matahari, ledakan besar yang melemparkan partikel-partikel bermuatan ke luar angkasa .

Hasil pengamatan, semakin sedikit bintik matahari, semakin minim energi matahari dan semakin tinggi kemungkinan badai petir, dan gangguan di atsmosfir hingga kerak Bumi. Tahun 2020 ini, hasil pengamatan menunjukkan matahari kehilangan bintik, jauh lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya.

Baca Juga: “Hujan Darah“ dan Matahari ‘Menghilang’ di Siberia!

Akankah kita mengalami masa seperti tahun 1790 hingga 1830, saat bumi mengalami pendinginan yang dahsyat akibat periode minimum matahari? Di mana temperatur turun hingga beberapa derajat, yang berdampak signifikan bagi cuaca di permukaan bumi. Saat itu Indonesia juga mengalami siklus berupa gagal panen hingga kelaparan. Ditambah lagi letusan gunung Tambora yang dahsyat pada 10 April 1815, menewaskan lebih 71 ribu orang. Walaupun, menurut ilmuwan letusan itu tak terkait fase “diam” matahari.

Kelaparan di tahun berikutnya (1816-1820) bahkan menyebar hingga ke Eropa, ditambah musin dingin berkepanjangan sepanjang tahun. Entak kebetulan, saat itu ada epidemic typus, yang semakin memperburuk keadaan.

Menurut ilmuwan, di periode normal, terdapat 40-50 ribu bintik di permukaan matahari, tanda fluktuasi termo nuklir berjalan “normal” untuk mencukupi proses kehidupan bio di planet bumi. Padahal, saat ini, hanya terlihat kurang dari 50 bintik di matahari.

“Ini normal, setiap 11 tahun sekali kita melihat bintik matahari berkurang hingga 50,” ujar Mathew Owens, professor phisyc astronom, di tengah ketakutan sejarah ice age mini berulang di bumi.

Lihat Juga: Aneh? Cahaya Matahari Terbelah di Gunung Sindoro

“Kita pernah mengalami hal yang sama tahun 2009-2010 lalu, saat itu juga bintiknya di bawah 100, toh kita tidak mati saat itu,” katanya setengah bercanda.

Sementara itu, ilmuwan Jeff Knight menegaskan periode minimum matahari memang memiliki efek terhadap musim dingin. “Minimum matahari kemungkinan akan mempengaruhi suhu rata-rata global, menjadikannya lebih dingin, tetapi hampir tidak mencapai 20 derajat,” katanya.

Di balik itu, para ilmuwan sepakat, bahwa matahari tetap akan bersinar, bahkan cukup untuk menjadikan bumi layak huni, hingga lima milyar tahun lagi. “Itu yang penting kita ketahui, agar kita tetap optimis hidup di rumah kita, bumi ini,” kata mereka.(yan/dailimail/*)