Longsor Erupsi, Pemicu Utama Tsunami Selat Sunda

BUMOE 24 Des 2018
Longsor Erupsi, Pemicu Utama Tsunami Selat Sunda
Erupsi gn. Anak Krakatau di ikuti longsoran pemicu tsunami Selat Sunda. dok : EPA/NASA

Tsunami, sebutan popular untuk gelombang besar air laut selama ini dikenal terbentuk pasca gempa dangkal, dan bermagnitude di atas 6 pada Skala Richter.  Orang lupa, bahwa tsunami terbesar justru terjadi akibat longsoran tanah, dan jatuhnya asteroid besar ke bumi!  Tsunami asteroid besar telah terjadi puluhan juta tahun lalu, bisa terjadi lagi setiap saat, dan manusia pasti telah melupakannya, hingga ada kejadian baru, yang memang akan sangat langka.

Tsunami asteroid, paling mematikan peradaban (makhluk) planet Bumi. grafis dok : science news

Tapi bumi selalu beresiko atas ancaman itu, sama dengan resiko  tsunami longsoran akibat erupsi gunung berapi, sekaligus pasang purnama  di Selat Sunda.

Alaska sendiri, menjadi contoh tempat paling mematikan akibat tsunami longsoran tebing tanah, salju yang meluapkan air laut hingga puluhan meter.  Bahkan nature.com mencatat,  tanggal 17 Oktober 2015 lalu misalnya, longsoran lebih 180 juta ton tanah menyebakan tsunami setinggi 193 meter di sana! Tsunami tertinggi yang pernah terjadi.

Tsunami akibat longsoran – biasanya juga dipicu gempa yang membuat tanah longsor — ini menjadi tsunami biasa di Alaska,  sudah ditandai wilayahnya, sehingga tidak memakan korban karena wilayah yang terdampak tidak lagi dihuni manusia. Ini merunut pengalaman pahit  tsunami serupa tahun 1964 lalu di sana, yang memakan korban ribuan jiwa manusia.

Tsunami Selat Sunda agak berbeda, karena ada stimulus erupsi Gunung Anak Krakatau, serta formasi purnama pada saat yang bersamaan.  Wilayah longsorannya diperkirakan  64 hektar  antara permukaan dan bawah laut.

“Dugaannya lebih 64 hektar longsorannya. Kita akan melakukan survei laut, untuk membuktikan adanya endapan-endapan material longsor ,” kata Deputi Infrastruktur Kemenko Maritim Ridwan Djamaluddin seperti dikutip detik.com. Kemenko Maritim mengumpulkan para pakar, untuk meneliti kejadian langka ini.

Longsor bebatuan dan tanah anak Gng Krakatau yang membentuk gelombang tsunami Selat Sunda. dok : dailymail/science news

Para peneliti duniapun sangat tertarik dengan fenomena kejadian tsunami Selat Sunda ini. Apakah mungkin memberi peringatan seperti ini? BMKG hanya memberi peringatan gelombang tinggi, dan pasang purnama, setinggi 2 meter di perairan Selat Sunda, Sabtu kemarin (22/12/2018).

Pada saat yang sama, bulan sedang purnama dan berada di perigee terdekat dengan bumi. Fase seperti ini akan berulang, bahkan purnama lebih besar akan terjadi pada 21 Januari 2019 mendatang, bahkan diikuti gerhana dan bulan merah (bloodmoon). Apakah akan berpengaruh? Tentu saja, karena gravitasi bulan menguat. Namun pemicu utama tsunami kemarin adalah longsoran tanah dan bebatuan akibat erupsi. Pasang purnama ‘hanya’ menambah ketinggian tsunami untuk menerjang daratan lebih jauh dari biasa (saat tidak purnama).

Wilayah berdekatan, Banten dan Lampung, akan selalu beresiko setiap saat diterjang tsunami longsoran ini. Saat ini, BNPB sendiri menyebut masih ada potensi tsunami, karena longsoran susulan, sehingga masyarakat diimbau waspada.

Gng Anak Krakatau masih terus erupsi. foto dok : NASA/EPA

Setidaknya ada dua fenomena baru yang mengikuti bencana tsunami di tahun 2018 ini. Ada gempa tsunami Palu, yang dibarengi liquidasi tanah, dan tsunami akibat longsor gunung berapi. Indonesia memang berada di wilayah gunung berapi terbanyak di dunia, dan negara dengan  lintasan Ring of Fire terpanjang di dunia.  Menjadi begitu rawan bencana, sekaligus membentuk alam negeri ini jadi begitu indahnya.

 

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya