Limbani, Simpanse Punya 65.000 Follower! Ilmuwan protes

Limbani. (instagram.com/limbanizwf)
Limbani. (instagram.com/limbanizwf)

Limbani, adalah seekor simpanse memiliki sekitar 650.000 pengikut Instagram. Dalam ratusan postingan yang popular, terdapat foto dan video Limbani bermain gitar dalam kurungan dengan sedih, hingga mengenakan kostum pisang raksasa.

Limbani tinggal di Miami, AS. Fans yang ingin bertemu dengannya, harus membayar 700-1000 dolar AS (Sekita 9-15 juta rupiah) untuk sesi 10 menit pertemuan.

Namun banyak ahli dan penyayang binatang protes, atas eksplotasi Limbani. Salah satu di antaranya ahli primata terkenal, Dr Jane Goodall. “Limbani di eksploitasi sedemikian rupa, namun bagaimana perawatan dan kebebasan hidupnya?”.

Tak ada kawan bagi Limbani, dan eksploitasi berlebihan pada manusia bisa menyebabkan hewan itu stress, kata Jane. Ia mengingatkan para pengguna medsos, agar sebelum mengklik like atau comments, untuk berfikir sikapnya itu akan mempengaruhi kesejahteraan dan konservasi spesies di alam liar.

“Simpanse yang tersenyum sebenarnya stres,” katanya.

Limbani naik mobil golf. (instagram.com/limbanizwf)
Limbani naik mobil golf. (instagram.com/limbanizwf)

Simpanse sering digambarkan dalam kartu ucapan, iklan, film, televisi dan gambar internet. Mereka sering berpakaian, dalam pose dan pengaturan mirip manusia, dan sering juga dibawa dalam sirkus-sirkus.

Hewan-hewan yang dimanfaatkan untuk show ini biasanya diambil dari induknya saat masih bayi, secara fisik didisiplinkan dalam pelatihan. Dan sampai mati, ia terus bekerja untuk kepuasan manusia! Ada simpanse, yang muncul bersama Leonardo DiCaprio di The Wolf of Wall Street, dilaporkan sejak disimpan di kebun binatang pinggir jalan, diseret ke leher dan dipaksa melakukan trik sirkus.

“Primata adalah hewan sosial yang kompleks, dan trauma yang mereka derita ketika dipaksa untuk melakukan seringkali jelas. Penelitian telah menunjukkan seringai nakal simpanse yang kita kaitkan dengan kebahagiaan, sebenarnya merupakan tanda ketakutan atau ketundukan,” ujar Jane.

Tapi bukan hanya primata yang menderita. Awal tahun in, Bank AS JPMorgan Chase menangguhkan kampanye iklan yang menampilkan gajah dalam banner iklannya. Langkah ini dilakukan setelah diprotes para konservasionis, yang menjelaskan bahwa gajah sering dilatih “menggunakan metode yang keras dan kejam”, untuk melakukan perilaku yang tidak wajar dan berinteraksi langsung dengan orang-orang.

Uni Internasional untuk Konservasi Alam mengklasifikasikan simpanse kini terancam punah. Abad ini jumlah mereka menurun dari sekitar 1-2 juta menjadi hanya 350.000.

Gambar binatang yang lucu, imut dan dekat dengan manusia juga amat popular menuai like di medsos. Bahkan bukan hanya orang biasa, banyak selebritis yang memanfaatkannya. Akibatnya, kini banyak permintaan hewan eksotis, harganya meningkat dan  mendorong perdagangan ilegal hewan hidup.

Iklan berang berang di tangerang, Indonesia via Instagram.(Instagram)
Iklan berang berang di tangerang, Indonesia via Instagram.(Instagram)

Di Jepang, permintaan berang-berang meningkat tajam, juga karena  popularitas  berang-berang peliharaan di media sosial dan media massa. Media sosial menyediakan cara mudah bagi pedagang dan pembeli untuk terhubung. Lebih dari enam minggu di 2017 di Perancis, Jerman, Rusia dan Inggris, Dana Internasional untuk Kesejahteraan Hewan mengidentifikasi lebih dari 11.000 spesimen satwa liar yang dilindungi untuk dijual melalui lebih dari 5.000 iklan dan posting.

Mereka termasuk berang-berang hidup, kura-kura, burung beo, burung hantu, primata dan kucing besar. Facebook juga diduga mendapat untung dari iklan di halaman-halaman yang secara ilegal menjual bagian-bagian dan turunan dari hewan-hewan yang terancam, termasuk gading gajah, cula badak, dan gigi harimau. Indonesia termasuk lahan subur bagi perdagangan hewan peliharaan di media social dan online.

Facebook dan Instagram adalah mitra Koalisi untuk Mengakhiri Perdagangan Satwa Liar Online yang bertujuan mengurangi perdagangan satwa liar secara online hingga 80 persen pada tahun 2020.

Kedua platform juga melarang penjualan hewan pada tahun 2017 – namun tidak diawasi dengan baik, dan iklan tetap ada.(Zara Bending/ABC)