Letusan Krakatau 1883 : 36.417 Meninggal !

BUMOE 27 Des 2018
Letusan Krakatau 1883 : 36.417 Meninggal !
Erupsi Anak Krakatau, 2018 dan 1883. dok : Sunday/HB

Erupsi Krakatau tahun 1883, merupakan letusan gunung berapi terbesar dan paling mematikan di dunia. Letusan yang memicu tsunami saat itu menewaskan lebih 36 ribu orang. Bayangkan jumlah populasi saat itu yang masih sedikit, namun memakan korban jiwa luarbiasa.

Gelombang kejut akibat letusan saat itu berpusar hingga empat kali keliling bumi, dan mampu mengguncang kapal laut yang sedang berlayar dekat Cape Town, Afrika Selatan!

David Rothery, profesor Planetary Geosciences  mengatakan, Anak Krakatau yang meletus tahun 1883 mematikan makhluk hidup hingga ke wilayah Afrika, bahkan seluruh dunia terdampak. Ia menggambarkan letusan tahun 1883, tepatnya 26 Agustus 1883, hari Senin, dimulai  pagi hingga seterusnya memuncak dengan intensitas sangat tinggi.

“70 persen pulau dan kepulauannya runtuh, menjadi kaldera Krakatau,” katanya. Rekaman seismik menunjukkan, gunung berapi di Indonesia itu tetap aktif sampai Oktober 1883, bahkan ada laporan Krakatau terus bergemuruh sampai Februari 1884.

Erupsi gn. Anak Krakatau di ikuti longsoran pemicu tsunami Selat Sunda. dok : EPA/NASA

Saat pertama kepulauannya runtuh, gelombang tsunaminya menyebar cepat hingga menjangkau Afrika.  Tinggi gelombang diperkirakan hingga 400 feet, atau 120 meter! Pemerintah Hindia Belanda mencatat korban tewas berjumlah 36.417 jiwa.

Letusan Anak Krakatau 26 AGustus 1883, lebih 36 ribu meninggal. dok : Express

Lebih dari 160 desa terhapus dari muka planet ini dan mayat-mayat yang dibawa oleh tsunami kemudian ditemukan mengambang di laut selama berbulan-bulan kemudian. Ledakan Krakatau itu terdiri dari empat letusan besar, dan aliran piroklastik sebagai akibat dari gunung berapi yang runtuh dengan sendirinya.

Rothery juga menyebut ada kemiripan aktivitas Anak Krakatau saat ini, walau tidak sedahsyat erupsi tahun 1883. Namun ia meminta warga tetap waspada, dan berharap pengulangan letusan besar belum terjadi. Ia tak bisa membayangkan dengan populasi manusia saat ini, baik di Indonesia maupun seluruh dunia, akan berdampak global yang bisa meluluhlantakkan lebih setengah peradaban manusia saat ini. Dibandingkan erupsi 22 Desember 2018, jauh sekali dengan erupsi 26 Agustus 1883, saat Anak Krakatau melepaskan energi terdahsyatnya. (yan/Sunday E)

 

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya