Lempeng Bumi Sangat Aktif, Hari Ini?!

BUMOE 10 Feb 2019
Lempeng Bumi Sangat Aktif, Hari Ini?!
Gempa hari ini (10/02/2019) di peta USGS. dok : USGS

Peta Gempa Lembaga Survey Geologi Amerika Serikat, USGS melansir jumlah gempa yang begitu banyak, di seluruh dunia, hari ini (10/02/2019). Dan umumnya gempa terjadi pada kedalaman rendah, bahkan di Alaska, gempa terbaru terjadi di kedalaman 0 km?

Aneh? Tapi itu tercatat oleh USGS pada gempa 3,2 SR di Kobuk, Alaska pada pukul 19.09 WIB, Minggu (10/02/2019).  Gempa 3,2 SR itu merupakan gempa susulan setengah jam sebelumnya, juga di Kobuk dengan koordinat sama, pada magnitude 4,9 SR.

Gempa juga mengguncang negara langganan gempa seperti Jepang (Naze), Indonesia (Ternate & Tobelo/Sulteng), Chili (Calama), Iran ( Qeshm, Masjid Soleman), India (Tezu), Filipina ( G. Luna), hingga Negara Tonga di tengah Lautan Pasific (Hihifo). Semua terjadi pada Minggu, dnegan magnitude antara 4,8 – 5,6 pasa kala richter. Indonesia yang paling panjang dilintasi ring of fire, mencatat gempa terbanyak melanda Sulawesi dan Papua (Bagian Timur), sementara wilayah Barat, umumnya  hingga pekan ini masih ‘aman’ dari gerakan lempeng.

Michael Kendall, ahli gempa dari University of Bristol memperingatkan kondisi batas tektonik “sangat aktif” di seluruh lempeng bumi, khususnya di lintasan Pasific ring of fire. “Pantai Barat AS berisiko paling tinggi, selain di wilayah langgana gempa,” katanya.

Khusus Alaska, ia melihat ada peningkatan aktivitas gunung berapi Cleveland, seiring meningkatkan aktivitas lempeng bumi di wilayah itu. “Kita sedang memasuki fase aktivitas seismic, dengan resiko besar bagi jutaan orang yang tinggal di lepas pantai USA bagian Barat,” jelasnya dengan hanya focus gempa yang bakal terjadi si pantai Barat AS.

Ia mengingatkan gempa 9,2  SR yang pernah terjadi pada 27 Maret 1994 di Alaska, yang didahului gempa gempa kecil seperti saat ini. Situs British Geological Survey sendiri menyebutkan, “ Ada peningkatan aktivitas lempeng, dengan gempa bumi yang menghancurkan baru-baru ini di Haiti, Chili dan Cina, serta gempa bumi berkekuatan di atas 6 SR di Indonesia dan California. Kesannya memang ada peningkatan aktivitas lempeng”.

“Rata-rata ada sekitar lima belas gempa bumi setiap tahun dengan kekuatan 7 atau lebih,” tulis web ini lagi. “Seperti halnya fenomena semi-acak, jumlah gempa setiap tahun pasti berbeda-beda,  tetapi secara umum, tidak ada variasi dramatis.”  tulis web ini, pekan lalu.

Sementara situs web  peramalan gempa zaman baru Ditrianum, yang dijalankan oleh peneliti Frank Hoogerbeets, sejak awal memprediksi peningkatan gempa, khususnya Janurai hingga Februari 2019 ini.  “Kita sudah melewati Januari. Dan selama dua minggu pertama bulan Februari, Planet Mars bergerak ke fase dengan Uranus dan Neptunus, mengambil alih dari Jupiter. Kesejajaran (align) planet ini mempengaruhi gravitasi tarik menarik antar planet yang membuat aktivitas lempeng (bumi) meningkat,” katanya.

Peneliti Belanda ini menilai menggunakan Indeks Geometri Sistem Tata Surya (SSGI), yang digambarkan sebagai “perhitungan dataset untuk kerangka waktu tertentu dari nilai-nilai yang diberikan terhadap posisi geometris tertentu dari planet-planet, Bulan dan Matahari”.

Dia mengatakan: “Setelah tiga tahun pengamatan, menjadi jelas bahwa beberapa geometri planet di Tata Surya jelas cenderung menyebabkan peningkatan seismik, sedangkan geometri lainnya tidak.”

Tetapi para ahli sebelumnya menolak klaim Hoogerbeets, dengan mengatakan bahwa tidak ada cara untuk memprediksi gempa bumi. (yan/Express/***)

 

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya