Kecanduan Smartphone Picu Kerusakan Otak!

Para ahli radiology AS dan Korea Selatan mempresentasikan hasil penelitian mereka bahwa orang yang kecanduan smartphone, tablet, ipad dan sejenisnya, menunjukkan ketidak seimbangan cairan kimia dalam otak mereka. Studi ini dipresentasikan dalam  pertemuan 201 ahli radiology, di radiological Society of North America, AS, pecan lalu.

Para peneliti justru umumnya berasal dari negara produsen smartphone/tablet terbesar di Asia, Korea Selatan. Mereka berasal dari Universitas Korea di Seoul, yang dipimpin oleh profesor neuroradiologi, Hyung Suk Seo. Mereka menggunakan spektroskopi resonansi magnetik (MRS) untuk menyelidiki komposisi kimia orang yang telah didiagnosis memiliki banyak aplikasi medsos, seperti twitter, FB, Istagram, WA serta aplikasi game pada ponsel cerdas atau internet mereka.

Sembilan laki-laki dan 10 perempuan, dengan usia 15-50 tahun pengguna gadget dibandingkan dengan subyek kontrol yang sehat dengan jenis kelamin yang sama. Dua belas kelompok menerima terapi perilaku kognitif, berdasarkan program serupa yang dirancang untuk membantu orang kecanduan gadget.

Tes standar membantu para ilmuwan menentukan seberapa parah kecanduan setiap subjek. Mereka ditanyai bagaimana penggunaannya mempengaruhi aktivitas sehari-hari mereka, mulai dari kehidupan sosial, tanggungjawab keluarga sampai pola tidur.

Orang yang kecanduan smartphone dan internet mereka, ditemukan memiliki skor lebih tinggi untuk tes yang melacak depresi, kecemasan, tingkat keparahan insomnia, dan impulsifnya. Parahnya, tingkat itu tak tampak alias tersembunyi dnegan kompensasi kesenangan semu. Subjek ini diberi pemeriksaan MRS sebelum dan sesudah terapi tingkah laku mereka, sementara pasien kontrol diperiksa sekali untuk menentukan standar ‘otak normal’.

Prosedur MRS dimaksudkan untuk mengukur kadar gamma aminobutyric acid (GABA), neurotransmitter yang menghambat atau memperlambat sinyal otak, dan glutamat glutamin (Glx), yang menyebabkan neuron menjadi lebih bersemangat secara elektrik. Ini menentukan bahwa rasio GABA terhadap Glx pada mereka yang kecanduan berat.
Kecanduan Internet
Statistik yang diterbitkan oleh Pew Research Center menyatakan, 46 persen orang Amerika mengaku tidak dapat hidup tanpa smartphone/tablet mereka. Kebanyakan memang terdiri dari kaum muda, namun juga terdapat kalangan wanita dewasa. Diakui, tingkat kecanduan lebih tinggi pada wanita ketimbang pria.

“Tingkat GABA yang tinggi dan mengganggu keseimbangan antara GABA dan glutamat di korteks cingulate anterior dapat berkontribusi pada pemahaman kita tentang patofisiologi. Ini harus diobati, sebelum kehidupan mereka hancur,” kata Dr. Seo dalam siaran persnya.

Dr. Seo percaya bahwa ketidakseimbangan ini mungkin memiliki kaitan dengan hilangnya fungsi dalam hal kemampuan jaringan saraf kognitif dan emosional seseorang, untuk memproses pengalaman mereka secara bijak. Kecanduan smartphone/tablet  terjadi di seluruh belahan dunia, mengalahkan kecanduan rokok bahkan narkoba. Namun dampaknya belum dikaji sejauh rokok dan narkoba, kecuali dalam lingkup sosial dan kehidupan pribadi. “Secara mentalitas, pasti amat berpengaruh,” ujar Dr Seo.  (future/*)