Jubir Geofon : Penarikan Peringatan Tsunami Terlalu Cepat!

Berlin – Juru Bicara Geoforschungszenstrum (GFZ) Jerman menilai penarikan peringatan tsunami oleh BMKG terlalu cepat. Mestinya peringatan tsunami dibatalkan setelah dua jam. Ia juga membantah sistim peringatan tsunami tidak berfungsi.

Sistem peringatan dini tsunami di Indonesia dibangun pasca tsunami  Aceh tahun 2004, dengan bantuan dana dan tenaga ahli Jerman. Sistem itu dirancang dan dibangun dengan bantuan Pusat Geologi dekat Berlin, GFZ Potsdam. Jurubicara GFZ Josef Zens menegaskan, sistem beserta piranti lunaknya berfungsi dengan baik.

Dipl.-Geogr. Josef Zens. foto dok GFZ

“Menurut informasi yang kami terima, softwarenya berfungsi dengan baik”, kata Josef Zens kepada harian Berlin “Tagesspiegel” edisi 1 Oktober 2018. Buktinya, pusat pemantauan sistem peringatan dini tsunami di Jakarta mengeluarkan peringatan bahaya tsunami lima menit setelah gempa 7,4 SR di Donggala.

Simulasi komputer menyebutkan ada ancaman gelombang tsunami dengan ketinggian 0,5 sampai 3 meter. 20 menit setelah gempa, gelombang besar itu mencapai daerah pesisir Sulawesi. Tapi mengapa warga Palu gagal mengerti? “Kemungkinan “ada sesuatu yang tidak berfungsi dalam penyampaian informasi kepada masyarakat setempat”, kata Josef Zens

“Sistem yang kami buat mengatur bahwa peringatan tsunami paling cepat baru bisa dibatalkan setelah dua jam. 37 menit itu terlalu cepat (dibatalkan BMKG),” katanya. Ia nambahkan, masih harus ditelusuri, mengapa pembatalan peringatan tsunami dikeluarkan secepat itu.

Ahli GFZ yang ikut membangun sistem peringatan dini tsunami di Indonesia, Jrn Lauterjung mengatakan hal yang sama. Sistem peringatan dini dinilai berfungsi baik, karena informasi ancaman tsunami disebarkan lima menit.

“Namun informasi itu tampaknya tidak sampai kepada masyarakat setempat yang membutuhkannya,” kata Lauterjung. Ditanya apakah waktu lima menit masih bisa dipersingkat, dia menjelaskan: “Semua data-data yang diterima dari lokasi gempa harus diolah oleh komputer, kemudian dibuat model simulasi untuk menentukan, apakah ada ancaman gelombang tsunami, dan lokasi mana saja yang terancam. Semua itu berlangsung empat sampai lima menit. Itulah waktu yang tercepat membuat simulasi yang real.

Sebelumnya Kepala pusat data BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan 22 jaringan pelampung Bouy yang terhubung ke sensor dasar laut, yang  mengirimkan peringatan dini tsunami ke badan meteorologi dan geofisika Indonesia (BMKG) telah rusak sejak tahun 2010 karena nihil dana perawatan. Ia mengeluhkan minimnya dana penanggulangan bencana sehingga perawatan fasilitas bantuan asing itu tidak bisa dilakukan. (detik.com/*)