Jangan Berobat ke KL, Penang Saja!

BUMOE 08 Mei 2018
Jangan Berobat ke KL, Penang Saja!
Ilustrasi cabut gigi. (Foto: picjumbo.com)

Ini nasehat bila Anda terpaksa berobat ke Malaysia. Jumlah ‘turis kesehatan’ terus meningkat, pasca penerbangan murah Air Asia ke KL, khususnya dari Aceh. Memang ada penerbangan langsung ke Penang, dengan ATR-72 FireFly. Namun anak perusahaan MAS, yang lebih dahulu masuk Aceh ini tak semurah Air Asia. Apalagi, Air Asia menggunakan Jet Turbofan (Airbus A-320), yang lebih nyaman dan cepat. Kini memang ada Malindo Air, tapi harga tiketnya juga masih cukup tinggi.

Masyarakat Aceh memang familiar berobat ke Penang, khususnya RS Loh Guan Lye. Berobat ke Loh Guan Lye serasa masih di Aceh, karena kerap bertemu warga kampung. Sebenarnya ada banyak RS lain di Penang, sebut saja Adventis hingga Island. Namun sudah terpatri di benak orang Aceh, Loh Guan Lye yang termurah, dan terbaik. Tak sepenuhnya salah. Apalagi, di sekitar RS, banyak penginapan murah hingga mahal, mulai dari RM30 hingga RM 200 per malam. Penang juga menyajikan banyak lokasi wisata yang menarik. Letak Bandara ke pusat kota—George town—pun relatif dekat. Baku taksi sekitar RM 30 saja.

Sebenarnya, Kuala Lumpur—tujuan Air Asia—sebagai ibukota jauh lebih menarik. Penerbangan murah, cepat, dan Airport KLIA-2 yang lebih mewah. Banyak pilihan ke kota (KL), mulai bus RM 12 per-orang, hingga KLIA Express RM 35 per-orang. Perjalanan dengan bus lebih lama, sekitar 45 menit-1 jam, dengan tujuan akhir KL Sentral atau Puduraya.

Sebenarnya bila hendak meneruskan perjalanan ke Penang, bisa via Bus di KLIA2 atau KL Sentral (sekitar4-5 jam) dengan harga tiket sekitar RM35 per-orang. Untuk mencoba variasi, karena katanya di KL juga banyak RS, saya mencoba berobat ke KL, siapa tahu cocok, dan tak terlalu mahal. Menghemat waktu ke Penang dan harga tiket yang lebih mahal. Pilihan sejak di Aceh, ada sebuah RS yang dipromosikan dengan gencar di sekitar Sentul, Kuala Lumpur.

Petronas, KL. (Foto: Gibran)

Petronas, KL. (Foto: Gibran)

Sebenarnya yang hendak berobat kali ini anak (15), masalah pada gigi geraham bungsunya (wisdom teeth) yang tumbuh tak wajar. Selain itu, ia juga bermasalah dengan sinusitis (THT). Kamipun berangkat ke KL, dan memilih menginap di sekitar China Town (Petaling street/Jl Sultan) yang familiar bagi kami.

Banyak jalan menuju RS tersebut. Kami memilih naik MRT/LRT dari Plaza Rakyat ke Titiwangsa, lalu berjalan kaki sekitar 700 meter sampai di RS yang dituju. Sebetulnya bisa juga naik LRT Kelana Jaya di Pasar Seni, turun di Masjid Jamik, tukar LRT Hang Tuah ke Titiwangsa. Namun sama artinya dua kali naik LRT. Dari hotel kami ke Plaza Rakyat, hanya sekitar 600 meter, melintasi stasiun Pudu Raya yang sudah tak berfungsi lagi.

Sekitar pukul 9 waktu Malaysia (pukul 10 WIB), kami tiba di RS, dan mengantri di ruang tunggu dokter THT. Dokter India, perempuan, tamatan Eropa pula. Kesan pertama perawat kurang ramah, sangat beda dengan di Penang. Rumah sakitnya megah, dengan mobil mobil mewah—tampaknya milik para dokter. Mirip dokter di Indonesia, gumam saya. Kesan ini penting, karena di Penang saya menemukan di RS kebanyakan parkir city car, semacam Agya atau Suzuki Swift. Ini mengesakan dokter yang tidak “pamer” serta mata duitan, seperti…

Tagihan

Tagihan.

Sekitar satu jam menunggu, kami dipersilakan masuk. Karena dokternya familiar dengan Bahasa Inggris—lulusan British/Ireland?—anak menjelaskan masalah telinga dan hidungnya yang kerap tersumbat. Tak lama, usai diperiksa dan konsultasi, kami diberi resep. Di luar, perawat sudah menanti dan mengeluarkan kwitansi: RM349! Itu di luar obat! Artinya periksa saja Rp 1,25 juta! Beda jauh sama Penang. Obatnya? Tiga macam RM159, atau sekitar Rp570 ribu. Kalau di Indonesia kita sudah mengomel berat dengan harga obat segitu!

Lalu kami memutuskan tak jadi ke dokter gigi. “Coba kita periksa aja dulu, karena sudah mendaftar,” ujar saya. Lalu kami dipandu oleh bagian pelayanan luar negeri (kali ini lebih ramah), ke gedung sebelah. Perawat lalu memeriksa foto yang kami bawa dari Aceh, dan memeriksa gigi di kursi rawat. Ia lalu menyarankan untuk mencabut gigi seri (padahal yang mau dicabut wishdom teeth), yang diklaim sebagai penyebab gak enak mengunyah. Biayanya sekitar RM1000 (Rp3,6 juta), “Bila geraham (wishdom teeth) lebih mahal dan sulit, sekitar RM 3500 per gigi,” katanya. Alamak, lebih Rp 10 juta per gigi? Dua gigi jadinya Rp 20 juta lebih?

Karena sangat ragu—dan tak mampu—saya minta waktu untuk diskusi dulu, dan besoknya balik kembali. Ia lalu mengarahkan ke perawat di meja luar, dan diberi kwitansi RM 90 (Rp 325 ribu), hanya untuk dilihat-lihat giginya? Ah, yang benar saja. Benar-benar menguras kantong RS di Kuala Lumpur ini, yang diklaim murah dan punya perwakilan pula di Banda Aceh.

Baca juga: Bagaimana Mencapai Bangkok, Surga Pariwisata Dunia?

Jadi, jangan percaya terlalu mudah pada klaim, kecuali rekomendasi teman. Ada yang bilang klinik di KL mahal, kami menemukan klinik jauh lebih murah dari RS KPJ itu. Namun tentu lebih murah lagi berobat ke Penang. Uang ringgit kelihatan sedikit, bila dirupiahkan, kita akan kaget sendiri. Bila terpaksa berobat, berobatlah ke Penang, jangan ke KL! Dan kalau bisa, kenapa tak berobat di dalam negeri? Akhirnya wishdoom teeth anak kami cabut di Medan, klinik gigi professional hanya mengenakan Rp 2,5 juta per gigi. Itupun lumayan mahal. Ada klinik gigi bagus hanya mengenakan Rp500 ribu per-gigi. Mau lebih murah, sebenarnya di Aceh juga bisa.

Hanya kita berharap para dokter—yang kita yakin serupa kemampuannya dengan dokter di kota lain, bahkan luar negeri—untuk lebih memberi perhatian, lebih professional sehingga kita tak perlu lagi berobat ke luar kota, apalagi ke luar negeri. Tak usah tutup mata, kelas menengah dan tinggi akan rela menghabiskan uangnya ke LN/Malaysia untuk berobat. Bahkan para dokter sendiri! Ini memang memberi kesempatan lebih untuk kaum menengah bawah untuk menikmati fasilitas yang diberi pemerintah, namun kasihan kan, devisa melayang percuma ke luar negeri? Banyak alasan logis dan masuk akal, sehingga hingga kini banyak warga Aceh berobat ke Malaysia. Semoga pemerintah dan para dokter kita tak ‘tutup mata’, dan berusaha ‘lebih baik, lebih profesional, lebih manusiawi’ dalam melayani.. .Butuh ‘pengorbanan’, memang…(marhiansyah)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya