Jadi Jurnalist di sebuah Era (1)

BUMOE 29 Mar 2017
Jadi Jurnalist di sebuah Era (1)
Muzakir Manaf Irwandi Yusuf dan Irwansyah saat Masih GAM

Sengkarut hati…! Imam Wahyudi, korda liputan RCTI menelpon: “Wawancara Teungku Sofyan Dawood dong mas.. biar ada imbangannya (cover both side), juga Pak Syarifuddin Tippe (Danrem 012 TU),” pintanya. Setelah cari sana sini, ‘Bang Yan’ sedang di “belantara” beton, di Pulau Jawa sana.

“Wawancara sendiri!” kata saya. Imam terkejut, tak menyangka, saya juga tak tahu tepatnya di mana.

“Tapi jangan tayangin dulu sampai saya bisa wawancara pak Tippe”. Saya lalu menghubungi Danrem.

“Ah, mau ngomong apa.. nanti saja,” elak Syarifuddin Tippe. Ehh siang itu juga, di Bulletin Siang, tayang wawancara ekslusif Sofyan Dawod, lengkap dengan “background” hutan.

Saya sudah tak enak hati. Benar saja. HP saya berbunyi… Danrem! “GAM kau… GAM kalian semua!!” langsung Tippe menyerapah.

“Nah kan tadi saya bilang wawancara bapak, biar berimbang…” Namun tak lama, situasi agak sedikit mencair, dan saat ketemu kembali, kita menjadi reporter dan narasumber kembali… (walaupun sedikit kaku ha..ha..).

Salut pak Syarifuddin Tippe..! Imam hanya ketawa ketiwi saat saya beritahu dimaki Syarifuddin Tippe. Dasar! Sebaliknya, saya pernah “dimaki” Ir Nurtini dan Tgk Sofyan, jubir GAM Aceh besar (bahkan beberapa teman wartawan) pernah menyebut saya berfihak ‘Jawa’.

“Kak Noni” marah karena liputan saya, waktu itu di media lain, yang dinilainya sedikit memojokkan GAM. Sementara Tgk Sofyan minta beritanya dimuat utuh. Karena saya tolak berdasar azas tanggungjawab dan fakta, ia menyebut saya cuak (mata-mata) dan pro RI. Agak mengecilkan hati memang.

Padahal berkali-kali saya bertemu Tgk Lah (Abdullah Syafie), mewawancarai hingga berkelakar bersama, saya selalu merasa dihargai sebagai jurnalis, maupun pribadi yang lahir sebagai anak Aceh.

Ho kameuba wawancara nyo. Pakek basa melayu jue! Geutanyo hana TV lom!” (Mau di bawa kemana wawancara ini. Menggunakan bahasa melayu. Kita belum ada TV) ujar Tgk Lah setengah berkelakar, saat suatu waktu secara tak sengaja saya memakai bahasa Aceh untuk mewawancarai beliau, dalam sebuah “pertemuan rahasia” (episode selanjutnya).

Saya juga dekat dengan Kak Cut (Nur Asikin), yang selalu bicara terbuka (berdua) dalam banyak hal.
Walaupun ingatan saya tak lekang pada mereka yang mengecilkan hati, namun di era menjelang damai maupun era damai, saya melihat fakta betapa ‘gampangnya’ ideologi berubah menjadi amarah, dengki, rakus, kebodohan, oportunis yang gamblang dan latah pribadi yang sangat egois.

Lihat saja saat pemukulan bang Wandi (Irwandi Yusuf), disebut (dimaki) Irwanto dan sebagainya. Seorang yang mempertaruhkan nyawanya saja bagi GAM bisa dikecam semudah itu. Apa pula saya? Ha… ha… ha…

Pada beberapa “manusia”, saat itu saya mengeluarkan kegeraman, kesal dan kecewa berat! Saya menjadi saksi, tahun 2005, saat Irwandi Yusuf, yang berjalan sembunyi-sembunyi di sebalik tiang gedung Anjong Mon Mata.

Teungku Agam datang sendiri (saya tak lihat tokoh GAM lain), di tengah wakil pemerintah, dari Menkopolkam, Kapolda (Bahrumsyah), Pangdam (Supiadin) hingga Azwar Abubakar, yang menjadi gubernur pasca Abdullah Puteh dipenjara.

Semua was-was menunggu wakil GAM di pertemuan itu. Berani datang (turun gunung?), bertaruh tak ditangkap atau dijebak?

Di antara kerumunan, tiba-tiba saya lihat Irwandi menyelinap. Saya salami dengan penuh kagum dan semangat. Ia kemudian disambut peluk oleh para wakil RI yang lain. Semua gembira—di luar esensi utama—pertemuan itu berhasil mempertemukan “para pihak”.

Satu (pihak)nya hanya diwakili satu orang itu. “Itu yang kau sebut pengkhianat? Setelah kini kau nikmati hasil perdamaian, yang mau tidak mau bermula dari pertemuan–keci—itu, yang hanya diwakili satu orang itu, mempertaruhkan dirinya, dan itu yang kau sebut pengkhianat…”

Ah, sudahlah… Nalar tidak nyambung dengan temperamen, kelatahan, kesombongan (sok) dan akal sehat. Maka— akibatnya—semuanya—(memang)—agak tersia-sia. Entah siapa yang salah. Mungkin nenek moyang kita, mungkin kita semua… Memang, tak ada manusia yang sempurna.. Tapi nalar & akal sehat wajib ada, bukan…? Bersambung….

Kredit foto: Istimewa

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya