Jadi Jurnalis di sebuah Era (2)

BUMOE 29 Apr 2017
Jadi Jurnalis di sebuah Era (2)

 

Tgk Sofyan Ibrahim Tiba & Geneva

Orang menyebutnya macam-macam, banyak juga yang bernada miring. Itu ‘gunjingan’ biasa di negeri ini. Tapi bang Yan amat dekat dengan saya, entah karena bernama sebutan sama, atau karena ‘rasa’ saja.

Kami telah saling mengenal sejak lama. Tgk Sofyan Ibrahim Tiba, pengusaha, kemudian mencoba peruntungan sebagai politisi, dan kemudian mewakili GAM di “Kuala Tripa”. Kami saling terbuka, dan beliau selalu tersenyum setiap bertemu saya.

Senyum paling lebar paling saya suka, adalah  ketika kami bertemu di tengah ladang, bang Yan di atas balai-balai bersama para wakil GAM lain, saya sebagai jurnalis bersama Najmuddin Oemar (koresponden Kompas) mengamati dari bawah. Tergambar dari senyumnya, gemerinyit dahi botaknya, “Kiban cara trouh keunoe Yan?”  begitu dugaan saya dari senyum bercampur keheranan Bang Yan. Tentu saja itu pertemuan yang rahasia, antara beberapa intelektual dan tokoh Aceh bersama Panglima GAM Tgk Abdullah Syafi’ie. Untunglah Tgk Jecki tak tampak waktu itu, kalau tidak ketahuanlah bagaimana kami bisa masuk ke sana.

Bang Yan tak pernah menaruh syak wasangka pada saya, walaupun kadang saya meliput penuh di belakang TNI-POLRI, dalam sebuah kontak tembak. Kerap juga kami bertemu di pengungsian, dan saya selalu menjadikan beliau sebagai  narasumber. Malah sebagai wakil GAM di di Banda Aceh, saya jarang mewawancarai Bang Yan.

“Kiban Yan.. Bantrouh dari Jenewa nyouh?” sapanya sambil tersenyum tulus, beberapa saat sebelum beliau terpenjara. Saya tak ingat persisnya, namun dari rona muka, Bang Yan ikut bangga saya bvisa sampai ke Geneva. Padahal, kepergian saya dalam sebuah upaya terakhir – yang gagal – , bersama rombongan Menkopolkam Susilo Bambang Yudhoyono. SBY sendiri membatalkan keberangkatan sesaat setelah kami, saya, kameraman dan wartawati Kompas Elok sudah berada di Cengkareng.  “Menkopolkam batal. Udah kalian berangkat aja, sekalian menikmati Eropa” ujar Imam Wahyudi, Koordinator liputan menyemangati saya, yang ragu-ragu antara berangkat dan tidak.

Akhirnya, saya naiki tangga tinggi ke Boeing 747-200 Lufthansa Airlines, dengan galau, sekira pukul 9, malam itu. Sekitar tiga jam kemudian, saya bisa merasakan “aura” istri dan anak — yang tinggal di Aceh —  saat kami melayang 41.000 feet di atas pintu masuk Selat Malaka. Di sebelah kiri pastilah Aceh, yang beberapa saat nanti nasibnya akan tidak menentu. Rasanya ingin meloncat dari jendela ke kekelaman malam. Pasti saya akan jatuh di atas Krueng Raya, atau Pulau Weh. Galau …

Goncangan di atas India, Pakistan dan Afghanistan, semakin membuat saya tak bisa tidur. Ufuk matahari lama sekali tampak, dan pagi yang dingin menyambut kami turun di Bandara Frankfurt, Jerman. Lalu kami menapaki kabin Lufthansa Airbus A-321, yang akan meneruskan perjalanan kami ke Geneva.

Syukurlah, Geneva yang indah penuh bunga menyambut kami. Tak menunggu lama di konsulat RI, saya langsung mengajak Elok ke lokasi akan bertemunya kedua kontingen, RI dan GAM, yang terletak di tengah taman Lemans, di pinggir Danau Geneva.  Danau indah dengan banyak perahu layar bewarna putih, penuh aneka bunga tanpa daun layu, angsa bermain di pinggirnya danau. Indah sekali. Apakah ini surga?

Saat membayangkan akan bertemu wakil GAM dari Norsborg, saya membayangkan akan bercerita banyak soal kondisi di Aceh, versi saya. “Hello..” tiba tiba seorang pemuda, dengan perawakan Aceh muncul di sisi kursi panjang yang saya duduki, di tengah Park de Moynier. Saya membalas menyapa, berfikir walau bukan Aceh manusia ini dari Asia. Ternyata benar, ia dari India. “I am a fortune teller!” ujarnya, yang menyurutkan niat saya untuk berbincang lebih jauh. Saya menolak ketika ia memaksa hendak meramal saya. “Please ..no!” akhirnya saya tolak agak kasar. Apa ia akan tahu nasib saya? Menyedihkan juga di tengah peradaban Eropa, menusia begini bisa hidup, dan membual memalukan bangsa Asia. Entahlah. Lamunan saya sejenak kacau-balau. Saya memilih pulang ke hotel, apalagi kabut tipis di musim semi itu mulai membekukan jari jemari saya. Hotel kami Bernina namanya, persis di depannya stasiun metro Cornavin.

Di jalan pulang ke hotel, kami berjalan kaki, melintasi Rue de Lousanne dan stasiun utama kereta api Geneva. Mount Blank tertutup salju menyeruak dari balik kabut. Semua menjadi putih. Saya terbayang besok Sabtu, dan pertemuan akan gagal, bagaimana kalau kita pilih ke Bern, atau Paris sekalian? Narto cameramen saya tersenyum, “VISA yang di urus kemenko polkam hanya untuk Swiss bang,” ujarnya. Duh, padahal ada niat saya juga sekalian ke Stockhlom. Swedia. Apalagi duit bekal dari kantor masih cukup.

Di hotel bertarif $ 110 semalam itu, tak terasa malam datang, di tengah kabar  dari Elok, Panglima TNI Jenderal Endriartono Soetarto baru tiba dari Mokswa. Panglima menemani Presiden Megawati, yang kembali ke Indonesia, sementara Pak Tarto berinisiatif “menjenguk” Geneva.  Malam semakin gelap saya tak bisa memejamkan mata. Walau kamar kami tanpa penyejuk udara, dinginnya Geneva – padahal lagi musim semi – menusuk tulang. Sementara saluran TV semua berbahasa Perancis. Bah!

 

Sudah pukul tiga dinihari, saya lihat dari tepian gordyn hotel ke persimpangan Rue Pradier. Mobil mobil mencurigakan, menaikkan warga turunan Afrika lalu beberapa saat mengelilingi beberapa lorong, lalu kembali ke Rue Pradier dan menurunkan si “orang hitam”. Ah, begini rupanya transaksi narkoba di Eropa.  Suara sirine mobil polisi – yang tak pernah tampak di siang hari – sesekali menyeruak malam, seolah ada sesuatu yang di incar. Dan si negro menyelinap di sebalik tembok, menunggu sampai mobil polisi lewat, dan kembali menaiki mobil lain. Dinihari itu, serombongan turis sesekali melintasi jalan Pradier itu, yang terletak di belakang hotel kami. Entah firasat si negro, ia sempat menatap ke atas, seolah tahu saya di lantai 4 sedang mengawasinya. Entah ia melihat cahaya temaram lampu, dan sibakan gordyn dari kamar kami, atau insting saja. Insting yang luarbiasa dari seorang penjahat!

Pagi tiba. Saya tak sabar berjumpa panglima TNI di hotel yang jauh lebih mewah. Ajudan pak Tarto, Hartono, menatap saya dengan garang. Ia agak kasar, apalagi setelah tahu saya dari Aceh. Berbeda dengan Pak Tarto, yang tetap lembut dan menjawab pertanyaan saya. Bukan soal Aceh, saya bertanya soal transaksi SU-27A yang dibeli pemerintah Megawati dari Rusia. Saya pengagum Sukhoi, khususnya Flanker, jadinya kami nyambung. “Mengapa tak beli satu skadron saja pak?” “Iya nanti rencananya begitu,” jawab panglima.

Keakraban yang membuahkan hasil lain. Saya diajak jalan-jalan dengan VW Caravelle ke Lousanne. Sungguh perjalanan yang indah, Danau Leman (dikenal juga danau Geneva) dan taman taman di sebelah kanan jalan, jalur hijau di balik jalur kereta api, yang melaju yang mengangkut mobil sport ke Geneva. Mount Blanc di sebelah kanan, salju memutih di puncaknya, dengan latar depan kebun anggur dan pabrik pabrik kecil tempat pengolahannya. Ah, inginnya saya mengajak keluarga ke sini, suatu waktu .. L

Setengah jam di Lousanne, yang tak begitu ramai dan lokasi wisata yang jarang menjual cenderamata. (Kalau ada pun mahalnya minta ampun). Kami kembali ke konsulat. Saya membujuk Pak Tarto untuk live report Sindo dengan studio 5 di kantor di Jakarta. “Ah tak usah, kan tak ada perundingan,”  jawabnya. “Pak justru saya ingin bapak memastikan gagalnya perundingan ini ke Jakarta. Kalau bapak mau, saya akan memberikan sesuatu bila bapak ke Aceh nanti,” ujar saya sekenanya. Syukurlah, akhirnya setelah saya kejar Pak Tarto sapai ke backyard konsulat, beliau bersedia. Paling tidak saya tak pulang badan ke kantor, di Jakarta.

Angan-angan ingin ke Swedia saya utarakan pada seorang staf konsulat, yang kebetulan anak muda asal Aceh. “Harus ke Bern bang untuk buat VISA ke Swedia. Apalagi ini Sabtu, libur, jadi abang harus tunggu sampai Senin,” katanya.  Oalah, sudah tiket saya pulang Minggu besok hangus, kepastian ke Swedia juga tak jelas. “Ya sudah kita pulang saja,” ujar saya disambut riang Narto cameramen. Ia sudah sehari ini tak makan nasi. Perutnya merajuk. “Nanti kita makan di restoran Cina,” janji saya. Nasi, memang jadi barang mahal di Geneva. Hanya ada di resto Cina atau India. Harga nasi putih tok satu cambung kecil – makan pakai sumpit – sampai 16 frank (Kurs sekitar Rp 6.000 waktu itu). Belum lagi sayur mayur dan ikan. Sekali duduk berdua minimal Rp 500 ribu terkuras. Itupun hanya nasi, lauk dan minum seadanya. Mirip atau bahkan sedikit lebih murah di Singapura, dalam hati saya meragut juga.  Padahal kalau Cuma sekedar hamburger atau sepotong roti atau pizza, hanya lima frank. Tapi perut Asia Narto tak bisa bohong.  Saya tak terlalu, karena terbiasa tak makan nasi saat mahasiswa di Medan dulu, maklum anak kost/rantau … ha..ha

Hari itu, saya menyempatkan menelpon ke Banda Aceh, minta istri dan anak ke Jakarta, sambil menunggu saya pulang, mengingat tak ada yang menjaga mereka di rumah di pinggiran Banda Aceh, dalam situasi yang tak menentu, waktu itu.

Salju putih, gunung Mount Blanc tertutup salju dan mobil sport meluncur kencang di highway di bawah kami. Airbus A-321 kembali membawa saya, Narto dan Elok (yang akhirnya juga tak jadi membatalkan tiket pulang) kembali ke Frankfurt. Di terminal 33E ke Jakarta, petang itu, kami berbaur dengan  para “inang-inang”, yang baru pulang berkunjung ke Betlehem. Tak sabar memasuki belalai gajah, menuju kabin Boeing 747-200 Lufthansa, yang akan menerbangkan kami kembali ke Jakarta. Selamat tinggal “surga” Eropa…

Satu persatu, beriringan, puluhan pesawat lepas landas dan mendarat di bandara utama Jerman ini, setiap menit tanpa henti. Matahari sudah turun, ketika kami take off, dan alam sekejap berubah menjadi malam. Tak ada pelayanan istimewa di kelas ekonomi Lufthansa. Perut mulai berulah, karena terlalu sering menyantap fast food. Untunglah saya duduk di ekor dekat benar dengan toilet. Pesawat kembali bergoncang hebat di atas Afghanistan dan Himalaya, saat itu pula perut tak kompromi. Untunglah semua tidur lelap, dalam kabin pesawat lebar, yang amat gelap dan dingin. Setelah transit subuh itu di Bandara Changi, akhirnya pagi hari yang cerah Lufthansa meutuah itu mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Antara gembira dan sedih, semua setelah itu menjadi lupa, ketika bersua anak istri, di Jakarta. (marhiansyah)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya