Jadi jurnalis di sebuah era (3)

BUMOE 29 Apr 2017
Jadi jurnalis di sebuah era (3)

Teungku Lah…

 

Siang itu, suatu hari 15 Maret tahun 2000, pesawat Garuda Jakarta-Banda Aceh baru mendarat. Saya sedang menunggu seseorang, orang penting dari Jakarta.

Dan lelaki itu ke luar dari ruang tunggu, bercelana jeans, kemeja kaos dengan HP satelit menyelip di pinggangnya. “Oh..itu pak Bondan,” ujar Najmuddin, rekan yang ikut bersama saya. Di belakangnya menyelip Maruli Tobing, jurnalis Kompas.

Sebuah Toyota Kijang sewaan datang menjemput, lalu kami naik ke dalam dan mobil meluncur ke arah Seulawah, dengan tujuan Pidie! Mobil butut saya tinggal di area parkir bandara Sultan Iskandar Muda, kemudian teronggok hingga dua malam, dan (kemudian) menjadi buah bibir para karyawan bandara.  Tak soal, yang penting saya tak kehilangan momen.

 

Bondan Gunawan, saat itu menjabat Sekretaris Negara, yang akan mengunjungi Panglima GAM, Teungku Abdullah Syafi’ie! Tentu Bodan mendapat perintah penting dari orang nomor satu, waktu itu Presiden Abdurrahman Wahid, atau Gus Dur.

Kami menyusuri pegunungan Seulawah, dengan sesekali bercanda di dalam kabin Kijang Kapsul yang membawa kami. Usai melintasi Kota Sigli, kami langsung menuju Teupin Raya,   di sambut beberapa orang di balai pasantren di belakang masjid besar Teupin Raya.

 

Kami bersantai, “Kita tunggu kabar baik,” ujar Bondan. Namun hingga sore, kabar baik itu tak datang. Bondan setengah merepet mengadu pada Maruli, “Ini pak Sulaiman AB sudah kita hubungi, mudah-mudahan segera bisa,” ujarnya. Beredar kabar, Teungku Lah membatalkan pertemuan karena ada pasukan TNI yang bergerak di sekitar area pertemuan. Hingga malam, kami terus bercakap-cakap di tengah pupusnya harapan pertemuan hari ini. “Besok kita ke lokasi pertemuan,” ujar Bondan pasti.

 

Besok, rombongan kecil sudah bersiap-siap bergerak. “Situasi aman, kita sudah ditunggu,” Bondan merapikan pakaiannya, berganti kain sarung, kopiah dan seledang sajadah tipis di bahunya. Kami bergerak ke arah gunung, dan berhenti di sebuah pondok di pinggir sawah, yang sudah dipenuhi prajurit TNA bersenjata lengkap.  Suasana tegang mulai terasa di wajah Bondan Gunawan.

Tak berselang lama, sebuah sepeda motor GL Pro memasuki lokasi, dengan sosok tak asing di boncengan, dengan pakaian loreng khasnya, Teungku Abdullah Syafi’ie, Panglima GAM.

Pertemuan kemudian berlangsung sangat akrab, berpelukan dan momen langka ini menjadi pertemuan yang melumerkan suasana yang tadinya sangat tegang dan serba canggung. Hanya prajurit TNA yang tetap memasang  muka garang. Satu orang di belakang Bondan malah terus mengacungkan laras panjang dengan GLM di pucuknya.

“Alhamdullillah akhirnya saya bisa bertemu teungku, sehat saja teungku bukan?” sapa Bondan. Dijawab anggukan dan kemudian sedikit ramah tamah layaknya bertemu sanak saudara jauh. Saat itu memang menjelang idul adha.

Entah siapa yang memulai, saya hanya ingat rona kikuk Bondan ketika saling tanya jawab, yang didominasi Teungku Lah, “Apa itu Indonesia?” ujarnya sembari menyunggingkan senyum khas. “Indonesia itu beraneka suku dan bangsa, berbaur menjadi satu yang kita sebut Bhinneka Tunggal Ika..” belum selesai Bondan menjelaskan, Teungku Lah menampik agak keras ,” Bukan itu! Ada Borneo, Celebes, Australi, itu ada maknanya sebagai sebuah pulau atau negara …..”. Bondan agak tergagap, lebih karena di sisi kiri kanan dan belakang prajurit TNA tetap sigap. Ada ketegangan kembali. Namun Maruli Tobing pun mengambil peran membuat suasana kembali santai. Basa basi dan pembicaraan kembali ke masalah pribadi  dengan sikap saling menghargai, sampai pertemuan usai.

Kami berdua, saya dan Najmuddin Oemar, menghampiri Teungku Lah, “Nyan jrouh that, kiban cara ta peugah u lua pertemuannyo saboh useuha saling menghargai…. “ Lalu saya mulai mengarahkan mic  untuk mewawancarai Teungku Lah. “Bouh pat kameupeuteubiet wawancara nyo!” hardiknya setengah bercanda. “Basa meulayu jue, tanyoe goh lom na TV ..” ..Ha..ha ternyata Teungku Lah sadar kami masih berbincang dalam bahasa Aceh, lalu ia minta bahasa Meulayu karena logo mike yang saya sodorkan jelas terpampang ; R*&I! Dalam beberapa kali pertemuan, ingatan saya tak luput pada sikap panglima GAM ini yang suka bergurau. Saya tak bisa melupakan banyak hal — ya banyak hal —  yang sulit saya lukiskan di sini, atas sikap dan kebijaksanaan Teungku Lah, baik sebagai pribadi maupun Panglima GAM. Dan pertemuan di huma itu, adalah pertemuan terakhir saya dengan Teungku Lah. Panglima GAM itu kemudian menutup diri, di tengah beredar kabar pertemuan ini sangat disesalkan petinggi GAM di Swedia. Padahal…  Ah, semoga ruh beliau  kini di tempat yang layak dan berbahagia..

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya