Inilah Rumah futuristik “Anti Bencana Alam”

BUMOE 16 Des 2017
Inilah Rumah futuristik “Anti Bencana Alam”
Floating Island polynesia concept. Blue frontiers

Gempa, topan, banjir, naiknya permukaan laut membuat bumi dan rumah kita tingal semakin tidak aman. Jutaan manusia bumi akan kehilangan tempat tinggal dan terancam sakit hingga kelaparan. Para arsitek berfikir keras untuk membuat rumah paling ‘tahan banting’ di bumi, khususnya untuk menanggulangi dampak banjir dan kenaikan permukaan laut.

Hasilnya, rumah futuristik di atas laut, yang dianggap paling ideal. Proyek pertama sebagai model akan dibuat di Dubai, UEA dekat dengan ‘rumah aman’ buatan lain di Palm of Jumeirah. Tapi berbeda dengan palm Jumeirah, kali ini konsep rumah atau pulau terapung!

Konsep menetap di atas air sebenarnya bukan hal baru, orang-orang Uros di Danau Titicaca, Peru telah melakukannya ratusan tahun lalu. Mereka membuat rumah di atas alang-alang yang mengapung di atas air.

Floating Island polynesia concept (Blue frontiers)

Floating Island Polynesia concept (Blue frontiers)

The Seasteading Institute, tim global ahli biologi, insinyur, investor, dan pemerhati lingkungan, pada  tahun 2008 memulai proyek ambisius ini.  Merancang sebuah “eco-village” modular, berfungsi penuh, dan mengambang. Proyek Pulau Terapung akan Gunakan struktur beton untuk mengapung di atas platform yang dirantai ke dasar laut.

“Pulau-pulau” itu bisa bergerak dan disusun kembali sesuai kebutuhan penduduknya. Hidrolik sebagai kakai-kaki fundamennya juga bisa dinaikkan atau diturunkan sesuai keinginan. Desain awalnya memungkinkan 250 orang untuk tinggal di 11 platform, dan bias disusun lebih banyak lagi sesuai permintaan.

Namun Pulau Terapung tetap dirancang untuk perairan yang dilindungi dan masih dapat diakses dari pantai atau daratan.

Januari lalu, pemerintah Polinesia Perancis, negara dengan kumpulan 118 pulau yang membentang di lebih dari 2.000 km (1.200 mil) melintasi Samudera Pasifik Selatan, juga menandatangani MoU dengan  Seasteading Institute dan cabang Blue Frontiers  di Singapura, untuk memulai pembangunan proyek percontohan pulau terapung tahun 2020 mendatang.

The Seasteading Institute mengusulkan  desa proyek pulau pertama pada tahun 2020 di sebuah laguna di lepas pantai Tahiti Selatan. Pulau terapung akan berlabuh dipancang ke dasar laut (sekitar 40 meter atau sekitar 140 kaki dalamnya) kira-kira 1 km dari pantai, dengan platform seukuran lapangan bisbol. “Kita akan memiliki bungalow,  apartemen, kita akan memiliki lembaga penelitian, kita akan memiliki restoran bawah laut,” Joe Quirk, presiden Institut Seasteading, pada NBC News. “Ini akan menjadi objek wisata tersendiri, dan sebuah etalase untuk masyarakat abad depan.”

Floating village.

Floating village.

Institut tersebut akan menggunakan desa terapung Tahiti untuk menguji berbagai teknologi berkelanjutan, seperti penggunaan plastik daur ulang dan serat kelapa lokal sebagai bahan bangunan.

Pulau terapung mengatasi kebutuhan mendesak untuk Polinesia Prancis – pulau sempit yang dekat dengan permukaan laut membuat mereka rentan terhadap kenaikan permukaan laut selama abad berikutnya.

Seperti peringatan NASA baru baru ini, bahwa 5 sampai 12 persen pulau atau daratan di dunia akan hilang akibat mencairnya es kutub, tahun 2100 nanti.

Jutaan penduduk hanya bermukim beberapa meter—bahkan kurang—di atas permukaan laut, akan kehilangan rumah. Selain naiknya permukaan air laut, badai juga  akan semakin kerap dan dahsyat, akibat global warming. Polynesia sendiri diramal akan hilang lebih separuh pulau-pulaunya. Proyek ini akan menjadi rencana ambisius untuk menyelamatkan penduduk Polynesia. Bagaimana dengan kita? (Futuris/*)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya