India VS Pakistan : India Minta Pilotnya Bebas, Rakyat Pakistan Inginkan Perang!

BUMOE 28 Feb 2019
India VS Pakistan : India Minta Pilotnya Bebas, Rakyat Pakistan Inginkan Perang!
Rakyat Pakistan turun ke jalan mendukung negaranya berperang dengan India. dok : AP/Daily mail

India minta pilotnya yang ditangkap Pakistan dibebaskan, dengan tambahan penyerahan pimpinan Jaish-e-Mohammed (JeM), kelompok militan yang menjadi  bom bunuh diri 14 Februari 2019, yang menewaskan 40 tentara India.

Menanggapi hal itu, Pakistan menyatakan akan melepas pilot India Jumat (1/3/2019) besok. “Untuk meredakan eskalasi konflik, kami akan lepas pilot India besok,” ujar   Perdana Menteri Imran Khan.

Pilot Abhinandan Varthaman ditahan pasukan Pakistan, usai jet tempurnya, MiG21 ditembak jatuh di wilayah Kashmir Pakistan.  Namun pengumuman pembebasan itu justru memicu demonstrasi rakyat Pakistan di  berbagai kota. “Ayo jangan takut (perang), kami rakyat bersama Anda,” seru para demonstran sambil mengibarkan bendera Pakistan.

Pilot MiG India yang ditahan militer Pakistan. Foto : Daily mail

Pilot MiG India yang ditahan militer Pakistan. Foto : Daily mail

Sebaliknya warga India memilih diam. Namun para politisi di India justru sebaliknya, mendesak PM India Narendra Modi untuk bertindak ‘lebih jauh’. Mereka merasa  Pakistan telah mempermalukan dnegan mendukung kaum ekstrimis dan menghina pilot AU India dengan memukul dan mengarak di depan khalayak ramai.

India hari ini mulai mengerahkan artileri berat ke wilayah perbatasan yang disengketakan.  Warga dan militer di wilayah itu, mulai siubuk membangun bunker bawah tanah, bersiap untuk parang darat, hingga perang nuklir yang mungkin terjadi, antara kedua negara yang telah bersengketa sejak 50 tahun lalu.

Kabinet India, khususnya menteri keuangan, mengaku telah menyiapkan dana khusus untuk perang, atau minimal misi rahasia untuk menemukan otak teroris yang membunuh 40 tentara India dengan bom bunuh diri, 14 Februari kemarin.

Pakistan sendiri mengalami masalah ekonomi, usai Presiden AS yang baru, Donald Trumph, memotong bantuan logistis untuk militer Pakistan senilai 300 juta dolar. Dana itu dialihkan Trumph untuk pasukan AS di Afghanistan. Padahal di era Obama, Pakistan mendapat bantuan militer bernilai milyaran dolar dari AS.

“Kita akan membantu dan mendesak mereka (Pakistan & India) untuk menahan diri dan berdiaolog untuk menyelesaikan persoalan,”: ujar Trumph usai bertemu Kim Jong Un, kemarn.

Terlantar

Penumpang KA dari Lahore ke Delhi telantar di stasiun. dok : Dailymail

Sementara itu, jalur KA India Pakistan dan sebaliknya yang dihentikan pemerintah India, membuat ratusan penumpang kedua negara terlantar di stasiun. Angkutan udara lebih parah. Di Bangkok, ribuan penumpang  Emirates, Etihad, Qatar Airways, hingga Thai Airways terlantar di Bandara Swuarna Bhumi, usai maskapai maskapai tersebut menunda dan menata ulangjalu penerbangan ke Eropa usai Pakistan menutup wilayah udaranya. Tai Airways bahkan membatalkan penerbangannya ke Eropa dalam dua hari ini.

Terminal Svuarna Bhumi menjadi hurik pikuk, hingga  kepala polisi imigrasi Thailand, Surachate Hakparn, memberi peringatan agar penumpang bersabar dan tidak membuat keributan.

“Kami hendak pulang, tetapi penerbangan kami dibatalkan sehingga kami terlunta lunta hampir dua hari ini di bandara, tanpa makanan dan minuman,” kata Sara Bjerregaard Larsen, 21, turis asal Denmark. Ia bersama teman-temannya bermalam di lantai bandara, bersama ribuan turis lainnya.

Ribuan turis aal Eropa terjebak di Bangkok, Thailnad usai maskapai penerbangan menuju Eropa menata ulang jadwal penerbangan usai Pakistan menutup ruang udaranya untuk penerbangan sipil. dok : AP/DM

Thai Airways mengatakan pihaknya akan mengalihkan rute penerbangan ke Eropa di luar wilayah udara Pakistan. Sementara Malaysia Airlines juga membatalkan sementara penerbangan sampai jalur baru di luar ruang udara India dan Pakistan menuju Eropa bisa mereka pastikan.

Di wilayah sengketa, Kashmir, pejabat setempat telah menutup smeua aktivitas sekolah, dan mendesak para orangtua menjaga anak-anaknya di rumah. Warga di sana juga ramai ramai membangun bunker bawah tanah, karena perang terbuka bisa terjadi setiap saat. (yan/dailymail)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya