Ilmuwan : Patah Hati Bisa Mematikan!

BUMOE 29 Des 2018
Ilmuwan : Patah Hati Bisa Mematikan!
Broken heart syndrome (ilustrasi). dok : Circulation Circulation

Para ilmuwan telah menemukan bahwa kesedihan yang berlebihan akibat kehilangan orang yang dicintai dapat menciptakan fluktuasi hormon, yang  mengikis sistim kekebalan tubuh. Dalam jangka panjang bisa berakhir dengan kematian!

Sebuah studi baru para ahli menemukan, melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, biasanya dialami melalui tekanan emosional yang ekstrim karena kehilangan orang yang dicintai.

Gejalan ini dikenal dengan ‘Broken heart syndrome’ atau  ‘Takotsubo syndrome’. Para peneliti  di Inggris menemukan  sekitar 6000 warga negeri  itu menderita stress akut setiap tahun, akibat ‘patah hati’ atau kecewa dalam hidupnya.  Stress akut akibat patah hati ini menyebabkan otot-otot jantung lumpuh. Broken heart syndrome biasanya disebabkan oleh guncangan emosional yang tiba-tiba, biasanya berkabung kehilangan orang yang disayangi, atau rusaknya hubungan dengan pasangan.

Gejalanya meliputi sesak napas dan nyeri dada, dan dapat dengan mudah disalah artikan sebagai serangan jantung.  Tetapi tidak seperti serangan jantung, sindrom Takotsubo tidak menyebabkan penyumbatan arteri yang menuju ke jantung.

Takotsubo syndrome dapat merusak hati dan jantung. dok : circulation circulation/Getty

‘Syndrome’ ini akan  melemahkan otot-otot jantung, membuat  ventrikel kiri jantung membengkak, mengakibatkan ketidakmampuan untuk mendorong darah ke seluruh tubuh.

Dinamakan Takotsubo, karena  gejala ini awalnya ditemukan  ilmuwan di Jepang, 30 tahun yang lalu. Takotsubo, yang berarti gurita atau sotong, karena bentuk jantung akan mengembang mirip gurita akibat syndrome ini.

Dalam studi pada 55 orang pasien ‘borken heart syndrome’– seperti yang telah diterbitkan dalam jurnal medis Circulation Circulation — menunjukkan gejala yang meliputi kerusakan jantung hingga peradangan di liver.

Penelitian ini juga menemukan, kondisi ‘kelainan jantung’ itu akanterjadi setelah lima bulan sejak awal mereka terkena Takotsubo syndrome.

Namun Profesor Dana Dawson dari Inggris  mengatakan, hasilnya tidak membuktikan sindrom patah hati saja memicu respons inflamasi yang mematikan secara langsung, tapi berlangsung secara bertahap dan perlahan, menggerus daya tahan tubuh seseorang.

“Kami menemukan sindrom patah hati memicu gejolak dalam sistem kekebalan tubuh yang juga mengakibatkan peradangan akut pada otot telinga, dan saraf perasa tubuh,” kata Profesor Dana. (yan/Express)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya