Ilmuwan : Laut Kini Lebih Cepat Panas

BUMOE 01 Nov 2018
Ilmuwan : Laut Kini Lebih Cepat Panas

Lautan di bumi kini menyerap lebih banyak panas dari yang diperkirakan sebelumnya, dan itu mungkin berarti dunia memiliki lebih sedikit waktu untuk  bertahan dari bencana besar bagi peradaban manusia.

Sebuah penelitian menunjukkan, laut  menyerap 60 persen lebih banyak panas selama 25 tahun terakhir daripada yang diperkirakan para ilmuwan. Bumi kini jauh lebih sensitif terhadap emisi bahan bakar fosil, dan laut akan semakin memanas di tahun tahun depan.

Es di kutub yang terus mencair akibat pemanasan global. dok : Shutterstock

Apa artinya? Iklim yang semakin buruk, badai hingga hujan dan petir di mana-mana. Perjalanan udara dengan pesawat akan semakin buruk. Dan puncaknya, cairnya es kutub membuat permukaan laut naik drastis.

Para peneliti mengingatkan sesuatu yang mengejutkan akan terjadi di planet ini, bila para pemimpin global tidak merespon perubahan suhu air laut akibat global warming ini. Para pemimpin global harus membuat aturan kuat, untuk mengurangi emisi gas buang, agar kenaikan suhu bumi rata-rata di bawah 2C (3.6F).

Kini para peneliti menemukan panas dari “gas rumah kaca”, diserap 60 persen lebih oleh lautan, yang membuat samudra-samudra semakin memanas.

Dr Laure Resplandy, seorang peneliti di Princeton University di New Jersey menyebutkan, saat ini kenaikan suhu rata-rata hingga  6.5C (11.7F) setiap dekade sejak tahun 1991. Planet ini telah memanas  memanas jauh lebih cepat dari yang diperkirakan para ilmuwan.

“Kami pikir emisi gas buang sekarang yang diproduksi 8 milyar manusia tidak akan secepat itu memanaskan bumi. Ternyata kami salah,”  kata Dr Resplandy pada Washington Post.  Pengambilan sample yang salah, serta pengukuran volume oksigen yang kurang tepat, peningkatan CO, NOx, CO2 yang sangat cepat, membuat analisa ilmuwan salah.

“Bumi jauh lebih hangat dari yang kami duga, dan laut jauh lebih hangat,” katanya.  Temuan itu setelah para ilmuwan kembali mengukur volume oksigen dan karbon dioksida yang di laut dalam beberapa dekade terakhir secara lebih akurat.

Agar  kenaikan suhu tak lebih dari  2C (3.6F) pada tahun 2100, maka emisi  CO, NOx, dan CO2 harus dikurangi 25 persen dari produksi saat ini. “Jangankan dikurangi, malah terus meningkat produksi emisi akibat pertumbuhan industri permesinan dan peningkatan pertumbuhan dan konsumsi masyarakat dunia yang kini mendekati 8 milyar orang. Ini  masalah besar!” ujarnya. Maka, jangan salahkan bila iklim terus berubah menjadi lebih ektreem, hingga planet bumi tak kuat lagi. (yan/daily mail)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya