Ilmuwan Ingatkan lagi : Kutub Magnet Bumi Bisa Berbalik!

Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah bersiap-siap untuk perubahan kutub magnet bumi (flip). Fenomena alam ini dipercaya terjadi setiap 200.000 hingga 300.000 tahun sekali, di planet bumi.

Menurut ilmuwan, kutub sudah berusaha membalik sejak 40 ribu tahun lalu, tapi gagal. Kita, katanya, telah tertunda proses peralihan kutub hingga 780 ribu tahun. “Bisa terjadi setiap saat. Dan bila terjadi, semua standar akan berubah, dan kita butuh sedikitnya 1.000 tahun untuk kembali ke masa ini, dengan teknologi saat ini,” sepakat para ilmuwan.

Dr Nicolas Thouveny dari Pusat Penelitian dan Pengajaran Geosains Lingkungan Eropa (CEREGE) Eropa di Aix-en-Provence, Prancis mengatakan, medan geomagnetik telah “sekarat” sejak 3.000 tahun terakhir.

“Medan geomagnetik telah kehilangan 30 persen dari intensitasnya dalam 3.000 tahun terakhir. Dan kami memperkirakan akan turun mendekati nol dalam beberapa abad ini,” ujarnya. Intensitas radiasi matahari, semakin memperburuk lapisan elegtromagnetik yang ‘diproduksi’ medan magnet, yang pada akhirnya semakin merusak medan magnet.

Kutub magnetik membentuk medan magnet bumi. dok : Ftm

Para ilmuwan memperhatikan, kini ada titik lemah di medan magnet bumi, yang disebut Anomali Atlantik Selatan, yang membentang dari Chili ke Zimbabwe. Ini merupakan tanda bahwa pembalikan kutub dapat terjadi setiap saat.

Saat pembalikan terjadi, kekuatan medan magnet akan melemah hingga 90 persen, selama beberapa dekade. Banyak spesies hewan, terutama burung, memiliki kepekaan terhadap kutub magnet yang memungkinkan mereka untuk menavigasi dunia selama periode migrasi massal. Ilmuwan menakutkan species ini akan linglung, mengakibatkan kepunahan mereka.

Bagaimana dnegan manusia? Manusia tidak ada tercatat menghuni bumi selama periode terakhir – 780 ribu tahun lalu –, maka mustahil memprediksi apa yang bisa terjadi terhadap ras kita ini. Daya survival dan adaptasi manusia dinilai juga jauh lebih tinggi dari spesies lain di bumi.

“Tetapi jelas dengan perisai magnet yang melemah, Bumi akan menjadi lebih rentan terhadap badai matahari,” katanya. Badai matahari dipicu oleh radiasi yang menghantam planet kita, memanaskan atmosfer luar, menyebabkannya mengembang.

Kutub Magnetik bumi. dok : google

Ini berarti sinyal satelit akan sulit  menembus atmosfer, yang menyebabkan runtuhnya  layanan internet, navigasi GPS, TV satelit hingga  sinyal ponsel.

Selain itu, peningkatan arus di medan magnet Bumi – atau magnetosfer – secara teoritis dapat menyebabkan gelombang listrik, yang dapat meledakkan transformator listrik dan pembangkit listrik, sehingga terjadi power grid. “Kita akan kehilangan semua teknologi yang ada. Pemadaman listrik dalam kurun waktu beberapa generasi, hilangnya satelit  dan tentu runtuhnya peradaban modern. Itu dampak minimal,” sebut Nicholas.

Profesor Andrew Roberts, dari Australian National University (ANU) Research School of Earth Sciences, mengatakan: “Medan magnet bumi, yang telah ada selama setidaknya 3,45 miliar tahun, memberikan perisai dari dampak langsung radiasi matahari. “Bahkan dengan medan magnet Bumi yang kuatpun, kita masih rentan terhadap badai matahari, yang bisa membuat teknologi kita rusak, apalagi bila — medan magnet — lemah nanti,” pesannya.

Namun keduanya sepakat tidak mampu memprediksi dampak maksimal – kepunahan species di bumi misalnya – secara ilmiah, karena pembalikan kutub telah beratus tahun lalu, tanpa catatan dan fakta dampak terhadap makhluk bumi, khususnya manusia.Beberapa ilmuwan memprediksi penyakit kulit dan kerusakan fisik makhluk bisa terjadi — seperti mewabahnya kanker dan lain lain — namun sekali lagi tak ada bukti masa lalu.

Akan tetapi, secara teori, pembalikan kutub akan melemahkan planet bumi terhadap terjangan radiasi sinar gamma matahari, hampir dipastikan terjadi. (yan/Sunday Express)