Harina Hafizt, WNI Korban Jatuhnya Ethiopian Airlines ET302

BUMOE 11 Mar 2019
Harina Hafizt, WNI Korban Jatuhnya Ethiopian Airlines ET302
Korban dikumpulkan di lokasi jatuhnya pesawat, sekitar 80 kilometer selatan Addis Ababa, 40 km dari bandara Bole, Ethiopia, tempat pesawat lepas landas. Foto dok Dailymail/AFP

Addis Ababa – Harina Hafizt, seorang pekerja di UN (PBB), menjadi satu-satunya warga negara Indonesia yang menjadi korban jatuhnya Boeing 737 MAX8 Ethiopian Airlines, Minggu (10/03/2019) kemarin. Harina bepergian ke Nairobi, Kenya bersama 11 rekan sesama pekerja di UN. Mereka tewas bersama 145 penumpang dan awak lainnya.

Rekan Harina, Joanna Toole, 36, asal Inggris yang bekerja di bagian perlindungan hewan liar ikut menjadi korban.  Mereka hendak menghadiri sebuah pertemuan dengan lembaga pemerntah di Nairobi, Kenya.

“Joanna lemah lembut dan memang penyayang binatang, ia bekerja di dunia yang ia sukai,” kata ayah Joanna, Adrian. Ia sempat mengingatkan Joanna untuk tidak naik pesawat tersebut. “Tapi sudah takdir ia harus meninggal di sana,” tuturnya sedih.

Joanna Toole, 36, salah satu korban yang bekerja di UN bidang perlindungan satwa liar Afrika. dok : FB

Sarah Auffret, pakar kutub es juga menjadi penumpang penerbangan naas itu. Ada juga Joseph Waithaka, seorang warga Inggris keturunan Kenya yang ingin pulang kampong bertemu sanak saudara. Kecelakaan pada hari Minggu pagi menewaskan semua 149 penumpang – termasuk tujuh warga Inggris, satu orang Irlandia dan delapan orang Amerika – serta delapan anggota awak.

Sarah Auffret. dok : FB

Pesawat baru Boeing 737 MAX 8 seperti Lion Air JT610 yang jatuh di perairan Karawang, memiliki data penerbangan serupa dengan kejadian JT610. Situs FlightRadar24 mencatat kecepatan vertical pesawat yang naik turun drastis, hingga -1.216 kaki/menit (menukik) dan kemudian 2.624 kaki per menit (menanjak) sebelum kemudian menghujam bumi, enam menit usai Boeing komuter terbaru ini lepas landas.

Ethiopian Airlines, maskapai BUMN Ethiopia  dengan jumlah pesawat teranyak di Afrika bertindak cepat meng-grounded semua Boeing 737 MAX8 yang mereka miliki. Langkah ini diikuti berbagai negara, seperti China yang memutuskan untuk tidak menerbangkan Boeing 737 MAX8 yang dimiliki airlines pemerintah maupun swasta negeri itu.

Fluktuasi kecepatan vertikal pesawat yang tak biasa, di enam menit penerbangan sampai Boeing 737 MAX8 naas itu jatuh. dok : FlightRadar24/DailyMail

Hal berbeda dilakukan di Amerika Serikat, negeri produsen Boeing 737 Max8. Mereka tetap membolehkan 737 MAX8 terbang, demikian juga dengan Kanada. Boeing terbaru ini telah diproduksi ribuan unit, dan dipakai oleh hamper semua maskapai penerbangan dunia, termasuk Garuda Indonesia dan Lion Air di Indonesia. (yan/dailymail/*)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya