Hantu, Fakta atau Mitos?

foto dok google

Hantu, terdengar menakutkan, tapi telah lama menjadi komoditas yang sangat laku dijual. Para produser film Hollywood, apalagi Inggris, seluruh dunia – apalagi di Indonesia – hantu sangat menguntungkan untuk mengeruk uang dari penonton atau pemirsanya. Bahkan kini, banyak laman yuotube yang laris menghasilkan dolar dari konten horor, hantu sampai kuntilanak!

Tapi benarkah hantu itu ada dan bisa dilihat?

Laporan penampakan hantu telah terjadi berabad-abad lalu, dari kekaisaran Romawi, Yunani kuno, hingga abad modern ini. Mesopotamia kuno percaya, bahwa jiwa yang meninggal bisa berkeliaran di bumi, serta Mesir kuno yang percaya orang mati bisa bicara, sampai terdengar di luar kuburannya.

Pada abad pertama hingga kedua, penulis Romawi Pliny the Younger menulis surat, yang dipercaya disisipi hantu (santet) sehingga membuat sakit dan mati seorang pria musuhnya,  bernama Licinius Sura.

Namun hari ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa manusia memiliki roh yang dapat kembali dari alam baka atau bahkan keberadaan alam baka. Sains, memang butuh fakta dan bukti, dan tak semuanya bisa (belum) diberi oleh alam.

Namun, ada fakta yang bisa menjelaskan mengapa orang melihat hantu, khususnya di malam hari. Survei tahun 2014 yang dilakukan pada orang-orang di Mesir dan Denmark, terdapat 40 persen orang yang mengalami fenomena aneh, yang dikenal sebagai sleep paralysis.

Studi lain, yang dilakukan pada tahun 2011, menemukan setidaknya delapan persen orang akan mengalami sleep paralysis (“kelumpuhan tidur”), setidaknya sekali dalam hidup mereka.

Jumlahnya melonjak lebih tinggi, jika orang memiliki kondisi mental buruk, atau gampang panik. Sleep paralysis terjadi ketika tubuh terjaga, padahal ia sedang tidur. Halusinasi?
Fenomena ini disebut  orang tak bisa mengendalikan fisiknya, tapi dengan kesadaran penuh tahu tentang apa yang sedang terjadi.

Kelumpuhan tidur terkadang memang menyebabkan halusinasi visual dan pendengaran.
Dr Baland Jalal, seorang ahli saraf dari Universitas Cambridge, mengatakan : “Sleep paralysis dapat menjadi pengalaman yang sangat menakutkan, yang mengalami dengan jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.”

Para peneliti percaya orang masuk ke kelumpuhan tidur selama keadaan tidur yang dikenal sebagai gerakan mata cepat atau REM. Orang biasanya memasuki siklus REM dalam 90 menit pertama tertidur, dan ditandai dengan mimpi yang intens.

Orang yang pernah mengalami kelumpuhan tidur ketika bangun dari REM sering melaporkan sensasi aneh. Banyak orang mengaku merasakan semacam kehadiran di ruangan atau langsung melihat kehadiran yang menakutkan – semacam nightmare –.

Ada pula orang-orang yang mengaku mereka bisa melihat diri mereka tertidur.

Tamara Jones, siswa berusia 25 tahun di Toronto misalnya, ingat pernah melihat makhluk mengerikan selama serangkaian episode kelumpuhan tidur. Dia mengatakan kepada Global News CA: “Saya pikir saya memiliki selimut hitam di atas saya. Hitam pekat, besar dan mengerikan,” katanya.

“Orang besar hitam” tersebut lalu meluncur turun, terbang menghilang di balik tempat tidur. “Saya mencoba berteriak memanggil ibu saya, tapi tidak bisa,” ujarnya. Ia pun menjadi phobi hantu.
Andrew Munday, 36, juga mengatakan: “Ada dua minggu berturut-turut ketika saya mengalami mimpi buruk , yang kelihatannya nyata. Wajah hitam besar menakutkan,” katanya.

Menurut Brian Sharpless, seorang psikolog klinis dan peneliti di Goldsmiths, University of London, “penglihatan” itu juga terpengaruh budaya, cara didik orangtua yang kerap percaya pada takhyul.

Fenomena yang sama juga dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa beberapa orang mengklaim telah diculik oleh UFO alien dalam tidur mereka.  “Jika Anda berada di Prancis pada abad ke-13, anda mungkin melihat setan atau penyihir, sedangkan sekarang Anda melihat orang- bayangan — -orang lewat  teknologi layar LCD,” katanya setengah berguyon.

Adapun secara ilmiah, gambaran luasnya frekwensi dan hanya sebagian yang bisa dirasa oleh panca indra manusia. Berikut beberapa frekwensi yang dekat de ngan kualitas panca indra manusia, sehingga terkadang terlihat atau terdengar :

  1. Infrasound

Telinga manusia hanya bisa mendengar suara dalam rentang frekuensi “cukup sempit”, dari 20 Hz sampai 20,000 Hz. Di bawahnya, atau di atasnya tak bisa didengar.  Namun terkadang vibrasinya bisa dirasakan, bahkan sayup ‘terdengar’.

Efek infrasound bisa membuat kita merinding, ketakutan melihat gerak yang aneh. Apalagi bila infrasound ini ada di lokasi kerap diceritakan berbau ‘mistis’, gedung kosong atau rumah tua.

  1. Ideomotor Effect

Pernahkah anda ke dukun,  atau melakukan ritual mengeluarkan ‘setan’ atau makhluk gaib dari tubuh? Atau pernah bermain jailangkung? Ini dikatagorikan secara ilmiah dalam ideomotor effect,  saking kuatnya sugesti  pada otak, sehingga otot dan frekwensi sekitar seolah bergerak sendiri. Ideomotor lebih karena halusinasi dicampur ketakutan akibat sugesti yang kuat dari orang lain. Orang lain yang tentu lebih ‘kuat’ dari Anda.

  1. Automatism

Ini semacam medium, atau media yang seolah menjadi alat perantara dunia manusia dengan dunia gaib. Mislanya disebut kita bisa memanggil dan berkomunikasi dengan orang yang telah meninggal melalui media orang lain. Atau ada roh yang masuk ke tubuh manusia, lalu bisa melakukan hal-hal yang unik dan luarbiasa, seperti bersuara aneh, kuat, hingga tahu benda kuno yang bisa diambil. Kerasukan juga bagian dari (hal) itu.

Dalam pendekatan sains ini dikenal sebagai  efek Automatism. Saat medium turun ke alam bawah sadar, otak bawah sadar memunculkan berbagai ide, yang dianggap sebagai bisikan arwah, suara jin, bahkan kadang mengeluarkan tenaga kuat, dari alam bawah sadarnya.

  1. Karbon Monoksida

Bagaimana pula gas buang beracun ini dapat mempengaruhi alam bawah sadar. Itu sebabnya orang kadang kerap melihat ‘hantu’ di dapur, atau perapian dalam rumah. Keracunan gas karbon monoksida bisa menyebabkan halusinasi dalam kadar tertentu. Gas ini akan meresap dengan cepat ke saluran darah, dan membuat hoyong hingga pingsan.

Celakanya — atau untungnya–, dengan daya tahan tubuh, biasanya gas karbon terhirup dalam kadar kecil, lalu suhu ruangan yang tepat, akan membuat seseorang berhalusinasi.

  1. Histeria

Kesurupan, bagian dari hysteria, akibat pelemahan mental. Bahkan bis aterjadi secara massal, maka ada juga kesurupan massal. Ini terjadi tentu karena hysteria massal. Wanita adalah kaum yang paling rentan terhadap hysteria.

Bisa sekelompok orang karena berbagai atau sebab yang sama, mengalami tekanan berat sehingga histeria tak terbendung. Muncullah gejala berteriak, berguling dan kejang-kejang. Otot mengikuti perintah saraf otak yang “semrawut” akibat histeria. Biasanya juga lokasi juga menentukan, di mana stress berat bisa muncul, seperti sekolah, gedung pabrik hingga perkantoran.

Kita manusia, makhluk berjalan tegak dengan saraf yang sangat terpengaruh gen dan lingkungan, pola makan dan budaya. Fenomena ini akan selalu ada, apalagi dalam peradaban yang mirip peradaban awal, terpengaruh cerita, berita, dan “ingatan ketakutan” akan saat dilahirkan — atau mati — sebagai anak manusia di bumi. Entahlah. (yan/Express/berbagai sumber)