Dr Eben Ahli Bedah Otak: Mati Itu Indah!

BUMOE 10 Des 2017
Dr Eben Ahli Bedah Otak: Mati Itu Indah!
(Ilustrasi foto dari Pexel)

Koma, mati suri, lalu banyak cerita ‘orang-orang yang hidup kembali’ itu membawa cerita dari alam lain. Umumnya indah, seperti dituturkan dr Eben Alexander dan beberapa saksi lain. Dr Eben adalah ahli bedah saraf/otak, yang justru terkena meningitis. Otaknya dimakan bakteri!

Kejadian berawal ketika suatu pagi, pukul 04.30 dinihari, dr Eben merasa kepalanya seperti dibelah. “Sakit sekali, lalu menyebar ke punggung dengan cepat, dan saya hampir pingsan,”  tuturnya. Istrinya yang panik mencoba memijat, namun tak reda. Dr Eben pun diboyong ke RS tempat ia bekerja sebagai dokter saraf.

Para dokter menemukan jangkitan sejenis bakteri yang memakan jaringan otak. Setelah ditempatkan di ventilator, antara sadar dan tidak, ia melihat  cahaya turun perlahan dari atas, putih dengan ornamen perak dan emas yang berkilau.

Ia takjub, dan ada angin sepoi dengan alunan lagu lembut entah dari mana. Silau cahaya lalu tersibak, dan ia melihat  lembah yang penuh dengan tanaman hijau nan subur, dan  air terjun mengalir ke kolam kristal. “Aku sudah mati? Surga?,” pikirnya.

Lalu seperti film, ada awan, hembusan angin semilir dengan bunga-bunga pink dan putih. Di ufuk, langit biru-hitam, dengan latar depan pepohonan, ladang, binatang dan manusia berpakaian serba putih.  Ada juga air yang mengalir di sungai atau turun seperti hujan. Kabut naik dari permukaan air, seperti uap, dan ikan-ikan cantik berenang di bawah airnya yang jernih.

Cerita Dr Eben ditanggapi sinis orang-orang skeptis. “Tapi sebagai ilmuwan, ahli bedah saraf dan seorang akademisi yang mengajar ilmu otak di Harvard Medical School, saya terpesona. Gambaran surga yang indah ini  sangat hidup dalam ingatan, namun sangat sulit untuk dijelaskan,” katanya.
Tapi bagaimana pikiran kita sadar, saat tubuh kita mati secara efektif. “Dalam kasus saya setidaknya, otak sudah berhenti berfungsi. Dari mana memori menyimpan pesan yang saya dapat ini?” ragunya.

Dan Sembilan tahun setelah ‘terbangun’ dari komanya, Dr Eben yakin apa yang dialaminya juga dialami oleh semua manusia lainya yang sedang atau telah mati. “Tundalah ketidakpercayaan untuk saat ini, dan buka pikiran Anda seluas mungkin,” pesannya.

Saat dibawa ke RS, ia koma selama seminggu, menderita meningoensefalitis – infeksi otak – tingkat keparahan seperti itu yang kemungkinan bertahan hidup diperkirakan hanya 2 persen. Setelah seminggu, dokter memberi tahu tidak ada lagi harapan hidup bagi Dr Eben. Keluarganya diberitahu langsung. “Relakan dia pergi,” ujar dokter pada keluarganya.

Reinard, anak laki-lakinya yang berusia sepuluh tahun berlari ke ruang rawat, membuka kelopak mata ayahnya dan memohon. “Ayah, kamu akan baik-baik saja,’ ujarnya sambil menangis. Walau koma, Dr Eben sadar kehadiran putranya itu. Ia seolah terbangun, dan seminggu kemudian reaksi tubuhnya bangkit kembali. “Katanya saya meronta ronta waktu itu,” kata dr Eben.

Anak lelaki tertuanya, seorang mahasiswa kedokteran memegang ayahnya yang meronta. “Anda sangat jelas, sangat fokus, anda akan sadar lebih baik dari  sebelumnya,” kata anaknya itu.  Ia melihat seolah ada sebuah cahaya muncul dari tubuh ayahnya.

Lalu Dr Eben merasa sadar kembali, namun menderita imsomnia. “Saya akan lebih banyak membaca, danmerenungkan apa yang telah terjadi pada saya,” ujarnya. Ia kemudian terpaksa berpisah dengan istrinya. “Kami ditakdirkan tidak bertahan selamanya. Kami berpisah sebagai sahabat,” ujarnya. Pengalaman spiritual membuatnya ‘dingin’ pada hubungan suami-istri.

Sisi lain, kemanusiaannya dan spiritualismenya semakin meningkat , “Pohon ek di luar rumah patah dahannya. Anak anak saya menggergajinya untuk kayu bakar. Mengapa pohon sehat harus kehilangan anggota badannya?” beragam pikiran Dr Eben yang dinilai sudah kurang pas sebagai manusia normal.

Ini sebenarnya umum terjadi: Lebih separuh orang yang memiliki pengalaman mendekati kematian tercengang dengan persepsi mereka yang sangat intens. Seolah-olah kenyataan telah menjadi lebih nyata, namun tidak satupun dari itu sama nyatanya dengan kenangan akan kehidupan akhirat.
Untuk mengendalikan pikirannya, tahun 1980-an, Dr Eben menemui Dalai Lama—pemimpin spiritual Buddha dan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian—mulai bekerja dengan para dokter Barat untuk menggabungkan semua hal yang dapat diajarkan oleh ilmu pengetahuan, mistisisme dan agama kepada kita. Dia menyebut ‘neuroscience kontemplatif’.

“Bagi saya, salah satu praktik Buddhis yang paling efektif adalah bentuk meditasi yang disebut mindfulness. Fokus dan melupakan keduniawian,” katanya. Ketidak pedulian pada sekitarnya ini juga yang membuat ia berpisah dengan istrinya.

“Ada yang hilang, namun pikiran saya akhirnya terbebas dari semua gangguan lain. Saya sedang melakukan bedah saraf bagi saya, untuk mempersiapkan kematian yang tertunda,” ujarnya. Dr Eben justru berpendapat, dengan menyingkirkan otak, kita bisa menjelajahi dunia kesadaran universal.

Imajinasi seperti ini sebenarnya juga dialami banyak ilmuwan lain.

Sebut saja Fisikawan Albert Einstein, yang sering mengembara dalam alam khayal, menatap langit saat imajinasinya mengembara, dan ide-ide baru muncul menjelaskan kenyataan lebih baik padanya.

Thomas Alfa Edison belajar bekerja berhari-hari, tidur nyenyak sambil duduk, dengan beban di tangannya. Kehilangan keseimbangan akan membangunkan dia, dan saat antara tidur dan bangun, datanglah gagasan cemerlangnya, dan dia menulis ‘pengetahuan barunya’ itu.

Novelis Robert Louis Stevenson menggunakan teknik lain, pergi ke tepi danau, tidur di angina sepoi, lalu bermimpi untuk mengumpulkan ide untuk ceritanya. Melamun, belum tentu jelek, di mana tingkat kesadaran yang dikenal sebagai hypnagogia—batas tidur, bisa menghasilkan kreatifitas/kesadaran yang baru.

Menurut Dr Eben, ada tiga macam fenomena untuk menjelaskan hal ini. Pertama adalah peristiwa yang paling jelas—yang kita rasakan dengan lima indra biasa kita. Yang kedua lebih halus: fenomena tersembunyi yang tidak teramati namun bisa disimpulkan dari bukti lainnya. Dan yang ketiga adalah fenomena tersembunyi yang paling menggiurkan, yang hanya bisa dialami secara pribadi, seperti mimpi, harapan rahasia, atau pengalaman menjelang kematian.

Fenomena ke tiga ini bisa dirasakan, tapi mungkin sulit dipercaya orang. Kecuali Anda pernah mengalami pengalaman seperti itu sendiri, Anda tidak dapat mengetahui dengan pasti bahwa hal itu terjadi, dan karenanya tidak dapat menyelidikinya dengan menggunakan metode ilmiah konvensional. Misteri ada di setiap sudut – kita hanya perlu belajar, memperhatikan, mendengarkan, dan berbesar hati.

***

Caroline Cook berusia 16 tahun saat dia mencoba bunuh diri. Ia trauma dengan perceraian orang tuanya dan berjuang mengatasi penyakit mental ibunya. Dia menelan pil tidur sebanyak-banyaknya. Akibatnya, ia harus menghabiskan tiga hari di rumah sakit dalam keadaan koma, dia terbangun dengan memori yang sangat jelas yang tidak pernah pudar tentang ‘kematian’nya itu.

Saat jadi nenek berusia 63 tahun, Caroline bercerita tentang kondisinya saat 16 tahun itu, “Tiba-tiba saya menemukan diri saya berdiri di sebuah hutan hijau yang indah dan subur, menghadap ke padang rumput yang dipenuhi bunga-bunga dengan pegunungan yang tertutup salju di kejauhan, semuanya berada di bawah langit biru yang sangat indah,”

Ilustrasi berjalan di ujung lorong yang bercahaya.

(Ilustrasi foto dari Pexel.com)

“Warna-warnanya jelas, namun semuanya bermandikan cahaya putih, bahkan langit. Aku merasa sangat senang berada di sana”. Seorang pria tua muncul di sampingnya, dengan jubah putih dan jenggot putih. Dia juga bermandikan cahaya putih.

“Anda tidak bisa tinggal di sini,” katanya pada Caroline. “Ini bukan waktumu. Kembalilah dan selesaikan hidupmu”.

Ada wanita lain, Alison Leigh Sugg, memiliki pengalaman yang sedikit  berbeda. Ia mengalami pendarahan berat saat persalinan bayinya yang kedua, tahun 1999. Pendarahannya deras, membuat ia kehilangan kesadaran. Detak jantungnya melambat dan kemudian rata.

Dokter darurat yang bertugas adalah Dr. Margaret Christensen. Alison terbaring sekarat di meja operasi, tapi dia tidak bisa dioperasi sampai cukup banyak darah yang dipompa kembali ke pembuluh darahnya, agar jantungnya mulai berdetak lagi. Karena tidak dapat memulai operasi, Dr Christensen memutuskan untuk memimpin tim medis berdoa.

‘Tolong tuntun kami untuk menyembuhkan tubuh Alison,’ dia berdoa. ‘Tolong bawa kembali semangat ke tubuhnya.’

Alison tidak sadarkan diri, tapi entah mengapa ia sadar bahwa energi vitalnya meninggalkan tubuhnya melalui empat area secara bersamaan: hidungnya, mulut dan tenggorokannya, serta titik di antara kedua alisnya.

Energi ini sepertinya mengalir bersamaan pada satu titik di atas tubuhnya, sampai dia melihat ke bawah pada tubuhnya yang terbaring kaku. Namun ia tidak merasa kasihan atau sayang dengan kondisi tubuhnya itu.

Energi lain seakan berputar di sekelilingnya, yang mendorongnya menjauh dan menjauh ke arah sebuah cahaya. Melalui lorong dan ‘cahaya terang dan suara menakjubkan’ muncul di depannya, memancarkan kasih sayang dan cinta yang luar biasa.

Dia tidak memiliki bahasa untuk apa yang dia alami. Kemudian seolah ada komunikasi: “Anda punya pilihan”. Alison sadar apa yang harus dia pilih, yakni harus kembali ke tubuhnya. Anak-anaknya membutuhkannya. Begitu kuatkah ikatan dunia, khususnya dengan anak.. Dan apakah semua orang yang mati (suri) akan mengalami pengalaman serupa? Baik ‘orang baik-baik’ maupun manusia jahat? Begitu banyak misteri antara satu dimensi ke dimensi lainnya… (Daily mail/*)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya