Diancam Bunuh, Shamima Begum Lari dari Kamp al-Hawl

BUMOE 01 Mar 2019
Diancam Bunuh, Shamima Begum Lari dari Kamp al-Hawl
Shamima dan anaknya, Jarrah. Dok : dailymail

ISIS Bride Shamima Begum telah melarikan diri dari kamp pengungsiannya di al-Hawl, bersama ananya yang baru lahir bulan lalu. Hal itu dilakukannya setelah ia dan anaknya diancam bunuh, karena dianggap telah membongkar rahasia ISIS.

Shamima (19), mendapat kecamanan dari teman-teman pengantin ISIS di kamp al-Hawl, usai ia menjadi popular diwawancarai wartawan. Ia dinilai membuka aib ISIS Bride akibat keinginannya yang terlalu kuat untuk pulang ke Inggris.

“Dia telah mempermalukan perjuangan kita yang berkorban untuk para suami pejihad di jalan agama,” ungkapan para pengantin ISIS di kamp itu. Bahkan mereka bersumpah akan membunuh Shamima. Padahal, Shamima juga tidak diterima pemerntah Inggris, dnegan mencabut kewarganegaraannya, hingga Shamima terlunta lunta di kamp kumuh yang dihuni lebih 25 ribu pengungsi ini, kebanyakan perempuan eks pengantin ISIS  bersama anak-anak hasil perkawinan dengan para pejuang ISIS.

Pengacara Shamima, Tasnime Akunjee, mengkonfirmasi pada The Sun bahwa Shamima bukan melarikan diri, namun dilarikan karena ancaman pembunuhan yang semakin meningkat.  “Kami tidak tahu ke mana dia dipindahkan, tapi setahu kami (dia) memang telah dipindahkan dari kamp al-Hawl,” katanya.

Sebuah sumber mengungkapkan Shamima diancam langsung di kamp. “Dia hidup dalam ketakutan. Kepalanya dihargai bagi yang bisa membunuhnya bersama jarrah, bayinya yang masih berusian dua minggu. Dia memilih pindah ke kamp lain yang lebih kumuh,” sebut sumber lain di kamp al-Hawl, yang merasa prihatin atas nasib Shamima.

“Shamima telah menjadi selebriti usai diwawancarai jurnalis. Ia dinilai terlalu berani bicara tentang kehidupan bersama ISIS, karena merasa akan segera bisa pulang – dengan membuka tabir kehidupannya dengan ISIS — ,” ujar sumber itu.

Kementerian Luar Negeri Inggris mengaku tidak tertarik dengan isu individual seperti itu. “Ia (Shamima,red) ingin mendapat kehidupan  kedua namun tak menyesal hidup bersama ISIS, dan tetap mencintai suaminya yang anggota ISIS. Sebaiknya ia tetap menunggu di sana,” katanya.

Sedangkan ayahnya, Ahmed Ali (60), mengaku faham situasi, dan tak jadi soal anaknya tak boleh kembali ke Inggris. “Itu resiko dari pilihannya dulu. Biar saja dia di sana,” katanya datar.

Shamima berangkat ke Suriah tahun 2015 lalu, di usia 15 tahun bersama tiga rekannya. Satu rekannya terbunuh, yang lainnya tak ada kabar. Shamima kemudian kawin dengan pejuang  ISIS asal Belanda, Yago Riedijk, hanya 10 hari usai ia tiba di Raqqa pada Februari 2015.

Karena status kewarganegaraannya dicabut, Shamima Begum dalam wawancara terbaru mengaku akan menunggu suaminya. Ia ditangkap pemberontak Suriah yang didukung AS dan Eropa.

Shamima memiliki tiga anak dari perkawinannya sejak 2015. Tahun lalu ia kehilangan putranya yang saat itu berusia  8 bulan, kemudian putrinya yang masih balita meninggal saat menuju pengungsian, Januari lalu. Dan, di pengungsian ia melahirkan putra ke tiga, Jarrah, yang amat dikhawatirkan oleh Shamima keselamatannya. “Saya berharap suami saya bisa melihat satu-satunya putranya yang masih hidup,” ujarnya.

Shamima Begum (19) bersama putranya Jarrah dengan latar belakang kamp al-Hawl, Suriah. dok : news.com.au/AFP

Dia berharap suaminya di ektradisi keembali ke  Belanda, sehingga ia, minimal anaknya Jarrah, bisa mengikuti ayahnya untuk hidup baru di Belanda.   Hal yang mungkin sulit dicapai, karena public Belanda

Akan sulit menerima kembali warganya yang dinilai berkhianat, seperti halnya warga Inggris terhadap Shamima. (yan/dailymail/ekspress/news.com.au)

 

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya