COVID-19 Gabungan Virus Pada Trenggiling dan Kelelawar!

Trenggiling dan kelelawar (Kolase Pixabay)
Trenggiling dan kelelawar (Kolase Pixabay)

Para ilmuwan menemukan virus SARS-CoV-2 atau lebih dikenali sebagai COVID-19, kemungkinan berasal dari gabungan dua virus yang menjangkiti dua binatang liar, tenggiling dan kelawar.

Hasil kajian genetik dua hewan itu menunjukkan virus COVID-19 berasal dari sekumpulan betakoronavirus, yang mirip SARS-CoV, yang bisa menyebabkan sindrom pernafasan akut kronis (SARS), yang merebak sekitar tahun 2003 lalu.

Bila COVID-19 bermula di Wuhan, Hubei, China, SARS juga tercetus di China, yakni di provinsi Guangdong dan kemudian merebak ke 29 buah negara. Betakoronavirus itu berjangkit pada kelelawar serta manusia.

Baca Juga: COVID-19 Telah Diramalkan Nostradamus, Tahun 1555!

Penelitian membuktikan ada spesies kelelawar, Rhinolophus affinis (R. affinis), yang berjangkit dan mampu menyebakan virus SARS-CoV. Hasil kajian menemukan, virus pada kelelawar itu memiliki kemiripian 96 persen dengan COVID-19. Dan pada 7 Februari 2020 lalu, secara mengejutkan ilmuwan menemukan persamaan yang lebih tinggi, yakni 99 persen, antara gen COVID-19 dengan virus yang ditemukan pada trenggiling.

Kajian lanjutan ilmuwan juga menemukan virus pada pada kelawar tidak menulari manusia secara tunggal, namun harus berkolaborasi dengan virus pembawa lain. Sementara virus betakorona pada trenggiling malah mampu menular dan lengket pada badan manusia.

Lihat Juga: Ramalan 12 Tahun Wabah Pneumonia: COVID-19?

Karena itu, para ilmuwan berkesimpulan, virus COVID-19 yang menjadi pandemi global saat ini, adalah paduan antara virus pada kelelawar dan trenggiling.

Penyebaran virus COVID-19 bermula di sebuah pasar ikan di Kota Wuhan, China, yang kerap juga menjual hewan hewan eksotis liar yang dimakan warga, yakni kelelawar, ular, lipan hingga trengiling.

Sebelumnya: Daya Sebar COVID-19 Berlipat Ganda di Ruang Tertutup

Ini bermula sejak Desember 2019 lalu, ketika seorang dokter, Li yang menemukan virus aneh pada pasiennya yang menderita demam, batuk dan sulit bernafas. Dokter muda itu kemudian melaporkan ke sejabatnya soal temuan itu, namun diabaikan, hingga merebak luas sejak saat itu. Dr Li sendiri kemudian meninggal terinveksi virus yang ditemukannya tersebut.

Hinga saat ini,COVID-19 sudah berjangkit di seluruh dunia, menginveksi lebih satu juta orang,dan lebih 40 ribu manusia meninggal dunia di belahan dunia ini.(yan/awani/***)

Ikuti perkembangan berita Covid-19.