SFO Harvino Co-Pilot JT610 yang Saleh

BUMOE 30 Okt 2018
SFO  Harvino  Co-Pilot JT610 yang Saleh

Jakarta – Siapa co-pilot yang mendampingi pilot Bhavye Suneja di Boeing 737 MaX8 JT-610 yang jatuh di Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018)? Dia adalah Capten Harvino, sosok yang dikenal ramah dan saleh.

“Saya pernah terbang terakhir dengan SFO (senior flight officer) Harvino yang soleh, beberapa waktu lalu,” kenang Capten Edward F Limbong, pilot Lion Air. Menurutnya, Senin pagi kemarin seharusnya Capten Harvino terbang ke Malang, dengan Lion Air JT 812. “Jadi seharusnya dia terbang ke Malang dengan JT812, namun diganti ke Pangkal Pinang dengan JT610,” ujar Edward.

Capt Harvino (kiri) saat mendampingi Pilot Capt Edward F Limbong dengan JT812 dari Jakarta ke Malang. dok : sl Youtube

Ia berkata begitulah takdirnya, dan berharap Harvino mendapat tempat yang layak, “May Allah bless Harvino,” tulis Edward di laman Yotutubenya. Jadi mengapa Harvino diganti ke JT610? Menurut keterangan keluarganya, Capten Harvino harus menggantikan kopilot lain, yang tidak bisa terbang.

“Lagi memang nggak boleh terbang. Harusnya juga yang ke Pangkalpinang ini bukan dia, orang lain,” kata adik Harvino, Vinni Wulandari, di Jl Masjid, Ciater, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (30/10/2018). Namun, kabarnya co-pilot yang digantikan Harvino belum punya lisensi untuk menerbangkan Boeing 737 MaX8. Jadilah Harvino sebagai gantinya. “Karena si pilot ini (yang digantikan) nggak punya license 737 MAX 8,” kata Vinni.

Vinni mengatakan kakaknya lulus dari sekolah pilot pada 1997. Namun, karena krisis moneter, Harvino belum bisa langsung bekerja sebagai pilot. Dia kemudian bersekolah di bidang pengawas lalulintas udara (ATC). Maka, sebelum jadi pilot Lion, Harvino sempat bekerja sebagai petugas ATC.

Novi, rekan SMA Harvino mengungkapkan sikap alim dan saleh Harvino. Pagi itu, sebelum terbang dengan JT610, Capten Harvino sempat meng-update statusnya di halaman Facebook-nya : “Subhanallah Walhamdulillah Walailaha Ilallah Allahu Akbar“.

Capten harvino meninggalkan satu istri dan tiga anak, serta 10 anak asuh di Desa Nyamplung Sari, Petarukan, Pemalang, Jawa Tengah.  Ia sudah tiga tahun membiayai anak-anak yatim dhuafa di desa itu, untuk bersekolah dan mengaji.  Di antara anak-anak itu, ada yang SD dan ada yang sudah SMP.

Ia bersama warga nelayan di desa itu, ikut membangun sebuah Mushalla bagi warga desa setempat.  (yan/ytb/dtc/***)

 

 

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya