Bumi Sedang Menuju Kepunahan Massal!

BUMOE 31 Okt 2018
Bumi Sedang Menuju Kepunahan Massal!

Bukan menakuti, tapi begitulah laporan Living Planet baru baru ini. Manusia, sejak tahun 1970, telah memusnahkan lebih 60 persen spesies hewan di planet bumi. Bila trend “kerakusan” manusia terus berlanjut – kelihatannya iya –, pada tahun 2020, dua pertiga satwa liar akan punah dari planet bumi!

WWF (World Wildlife Fund) dan mitranya yang  melacak perubahan populasi spesies hewan di Bumi selama beberapa dekade, melaporkan temuan yang lebih mengkhawatirkan.  Dari tahun 1970 hingga 2014, jumlah hewan dengan tulang belakang – burung, reptil, amfibi, mamalia dan ikan –  berkurang rata-rata 60 persen di seluruh dunia.

Bahkan  vertebrata air tawar, kehilangannya  mencapai 80 persen. Secara geografis, Amerika Selatan dan Tengah tercatat paling parah. Lebih  89 persen satwa liar di tahun 2014 telah musnah akibat  “kegilaan” perburuan manusia, sejak 1970.
Indonesia juga sama, harimau, badak sudah pasti punah lebih 80 persen. Beberapa jenis satwa liar, burung hingga biota laut telah musnah.  Di Australia, populasi Koala menghilang dengan laju kepunahan sekitar 20 persen per-satu dekade.
Lemahnya pengawasan  pemerintah untuk melindungi habitat alam, membuat keganasan manusia semakin menjadi-jadi. Begitu juga dengan deforestasi, yang kelihatannya kuat dalam sistem dan regulasi, namun lemah dalam pengawasan. Bahkan, aparat ikut bermain di dalamnya. Deforestasi Australia di sepanjang pantai timur, menempatkan Australia menjadi di antara yang  terburuk di dunia, dan satu-satunya negara maju dalam daftar penggundulan hutan besar, menurut laporan WWF tersebut.

Pertumbuhan populasi manusia mencapai 8 milyar, membuat kepunahan hewan dan tumbuhan purba semakin cepat. Saat ini, terjadi akselerasi 100 hingga 1000 kali lebih cepat dari abad-abad yang lalu.

Ini membuat para ilmuwan menyimpulkan, di luar bencana alam, manusia telahmenjadi pemicu kepunahan massal di bumi. Menurut mereka, ini adalah period eke enam – dalam setengah milyar tahun sekali, terjadi kepunahan massal di bumi akibat ulah manusia sendiri.

Louise McRae dari Zoological Society of London, bekerja dengan WWF mengeluarkan data yang lebih mengejutkan.  “Eksploitasi alam oleh manusia luar biasa ganasnya. Bantuan teknologi menjaid percepatan lain,” katanya pada ABC news.

Memang, sebagian besar untuk memenuhi makanan dan komsumsi manusia lainnya. Mislanya salah satu pemicunya adalah konversi lahan untuk pertanian dan tanaman pangan. Lebih konyol lagi, konversi lahan bagi perumahan dan pemukiman manusia.

Deforestasi. foto dok : google

Paling konyol, adalah perburuan, penangkapan hewan darat dan ikan berlebihan, serta perdagangan ilegal satwa liar, katanya. Ia menyebut China, yang kini malah melonggarkan larangan perdagangan badak, harimau dan heawn liar bagi tujuan medis, ilmiah maupun seni budaya.

“Pemerintah harus lebih banyak memberikan lahan bagi hutan lindung. Selama ini kebijakan yang ada tidak cukup untuk menghentikan kepunahan satwa liar hingga tumbuhan langka ini,” ujarnya. Pada tahun 2009, para ilmuwan mempertimbangkan dampak dari meningkatnya selera manusia terhadap sembilan proses – yang dikenal sebagai sistem Bumi – di alam. Masing-masing memiliki ambang kritis, batas atas “ruang operasi yang aman” untuk spesies kita.
Selain pemanasan global 1,5 derajat, kepunahan satwa dan species tumbuhan akan semakin melemahkan planet bumi  untuk memberi daya dukung bagi kelangsungan hidup spesies manusia di bumi.

PBB melaporkan, manusia telah melintasi garis merah, yakni dua ambang batas bagi kelangsungan hidup manusia sendiri, yakni  hilangnya spesies hewan dan tumbuhan, serta  keidakseimbangan dalam siklus alami nitrogen dan fosfor bumi  (Akibat penggunaan pupuk dan pestisida).

Namun ada catatan lompatan garis merah lainnya, yakni di laut dnegan pengasaman laut (akibat sampah dan polusi), serta suplai air tawar yang semakin menurun.  “Dalam hal titik kritis, untuk habitat tertentu, untuk ekosistem tertentu, untuk terumbu karang misalnya, mereka berada pada tahap yang sangat kritis. Ini berita buruk sekali, namun umumnya manusia lupa dna tidak peduli, hingga bencana sebenarnya terjadi, ”kata McRae kepada ABC. (yan/news.au.com)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya