Bumi, 2,4 Milyar Tahun Lalu

Bumi, 4,4 milyar tahun usianya. Setidaknya, begitulah para ilmuwan berpendapat, dari data dan fakta alam sendiri. Bagaimana bumi awalnya? Dan di usia “remajanya”, 2,4 milyar tahun lalu?

Bumi adalah lahar pijar, sebelum mantel cair itu mendingin, dan membentuk kerak-kerak. Pada usia 2,4 milyar tahun, kerak bumi yang saling dorong dengan cepat naik dari lautan kuno, dan kemudian mengubah iklim dan planet kita ini.

Sebelumnya energy saling dorong amat besar, namun mantel cair tak mampu mendukung terbentuknya gunung, sampai lahar itu mendingin, kata para ahli. Tumbukan asteroid, jutaan komet membawa RNA menyerbu bumi diselingi proses tumbukanantar kerak , mantel  bumi yang terus mendingin dan terbentuk terpisah dalam lempengan besar. Tumbukan terus menerus antar lempeng, menyebabkan gempa bumi dahsyart, tsunami dan mantel dingin bergerak ke atas membentuk daratan baru. Dan pada 2,7 milyar tahun bumi, terbentuklah benua pertama, Kenorland!

Tadinya para peneliti mengira tanah terbentuk 1,1 sampai 3,5 milyar tahun lalu. Namun kemudian pendapat itu berubah, akibat kejadian dramatis kenaikan daratan dari lautan, tabrakan asteroid besar dan gempa dahsyat, 2,4 milyar tahun lalu itu. Di usia ini, bumi mencatat “pertumbuhan” penting, sehingga cukup untuk mendukung adanya kehidupan di permukaan tanahnya : makhluk hidup!

Suhu permukaan bumi dahulu jauh lebih panas dari sekarang. Inti bumi masih memiliki cadangan energy besar, sekitar 60-70 derajat celcius! Namun suhu itu menghasilkan oksigen (oksigenisasi) awal yang besar, cikal bakal gas pendukung kehidupan. Oksigen naik ke udara, bercampur dengan gas metana beracun, menghasilkan karbondiokasida (CO2) dan hydrogen dioksida (H2O). Lalu perbedaan tekanan memicu perubahan iklim, hujan dan angina, dan kemudian muncul kehidupan yang kompleks di muka bumi.

Kenorland?Dok ; Google

Bakteri sederhana yang hanya tumbuh di air digantikan oleh alga, tumbuhan, dan jamur yang lebih kompleks. Karbon dioksida mulai terbentuk akibat proses pelapukan, sehingga mengganggu keseimbangan radisai bumi, menyebabkan serangkaian episode glasial, antara 2,4 miliar dan 2,2 miliar tahun yang lalu.

“Benua besar, Kenorland muncul, memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa dan memulai tahap glasiasi yang cepat di permukaan bumi,” kata Dr Bindeman. Saat itulah, hujan salju pertama terjadi! Lalu proses oksigenisasi yang luar biasa membuat banyak oksigen terbang bebas ke udara, berbaur dengan Metana, dan menjadi hujan air dan salju turun ke bumi akibat grafitasi.

Dalam penelitian yang dipimpin oleh Ilya Bindeman dari University of Oregon, mereka mengambil data dari sedimen batuan paling umum di dunia. Mereka mengambil 278 sampel serpih dari lubang yang di bor dari setiap benua, yang “menyimpan data” sejarah bumi hingga 3,7 milyar tahun yang lalu.

Para peneliti menemukan, total daratan di planet ini mencapai sekitar dua pertiga dari jumlah saat ini, sekitar 2,4 miliar tahun yang lalu. “Lautan lebih kecil, dan kerak bumi sangat tebal,” kata Dr Bindeman.  Mantel dingin planet bumi harus tebal, agar air tak dapat memecahnya, untuk mendukung lahan yang luas di atas permukaan laut dan mantel panas.

Cerita bumi berubah dramatis pada titik itu. “Awalnya, Bumi akan berwarna biru gelap dengan beberapa awan putih bila dilihat dari angkasa. Tapi belum ada kehidupan yang berarti, saat itu,” katanya. Kini, saat bumi dihuni trilyunan satwa dan milyaran manusia, benua berupa mantel dingin berubah gelap, akibat humus tumbuh-tumbuhan dan polusi carbon diokasida dan gas ikutan akibat proses bumi mendukung kehidupan habis-habisan (di-eksplore manusia), katanya. (yan/daily mail)