Bagaimana Mencapai Bangkok, Surga Pariwisata Dunia?

BUMOE 11 Des 2017
Bagaimana Mencapai Bangkok, Surga Pariwisata Dunia?
Sky walk menghubungkan antar mall di Bangkok. (Foto Gibransyah)

Low Cost Airlines, sebut saja Air Asia, Lions, Malindo Air membuat kita mudah dan murah mencapai berbagai tempat wisata di Asia. Kuala Lumpur, Singapura, Manila menikmati tumpah ruah penumpang yang diangkut pesawat bertambang murah ini. Beberapa kota di Indonesia juga ikut terkena ‘dampak global’—yang positif—bagi pertumbuhan ekonomi dan wawasan masyarakat ini.

China, Vietnam, India, Kamboja, dan tentu saja Thailand berkembang pesat dunia pariwisata mereka akibat besarnya frekwensi penerbangan low cost airlines ini. Bangkok, menjadi destinasi wajib bagi hampir semua traveller dunia. Belum pernah, dan ingin ke Bangkok?

Pertama, tentu saja persiapkan paspor Anda. Tak perlu Visa, karena Thailand bagian dari Asean yang menerapkan bebas Visa bagi sesama Asean. Ingat, paspor yang masa berlakunya tinggal enam bulan sebaiknya segera diperpanjang di imigrasi!

Kemudian tentu saja Anda perlu mencari tiket penerbangan. Dari Indonesia, khususnya Aceh, Bangkok paling efesien ditempuh dari Kuala Lumpur. Memang bisa juga dari Medan, namun cost lebih mungkin meningkat dibandingkan via Banda Aceh-Kuala Lumpur.

Sebenarnya dari Kuala Lumpur, Anda bisa mencapai Bangkok via darat (bus, kereta api), namun tentu butuh perjalanan yang jauh lebih panjang. Tiket pesawat Kuala Lumpur-Bangkok sangat fluktuatif, bisa 150RM – 3000RM sekali jalan per-orang (sekitar Rp 480 ribu-Rp 9,5 juta).  Pandai-pandailah memilih jadwal, agar harga tiket dapat lebih murah.

Berburu Hotel Murah dan Dekat BTS

Bila sudah, sebaiknya hotel juga disiapkan. Berburulah pada agen travel online (Agoda, Traveloka dll) yang biasanya memberi harga yang sangat menarik. Apalagi Anda jadi member tetap di situs mereka. Memilih hotel juga perlu, khususnya agar perjalanan Anda mudah dan murah. Tentukan dulu apa yang mau dikunjungi di Bangkok, wisata budaya, wisata belanja, makanan, kesehatan, atau… ah, bagi anda yang sudah biasa, pasti tahu sendiri apa yang ada di Bangkok.

Memasuki salah satu stasiun BTS di Bangkok.

Sukhumvit Road adalah ruas jalan penting—dan sangat panjang—yang perlu Anda eksplore. Karena di jalur inilah BTS (Bangkok Sky train) menghubungkan hampir seluruh kota Bangkok via jalur kereta jalan layang. Baiknya, Anda memilih hotel yang dekat dengan stasiun BTS, syukur-syukur sekalian stasion Metro (kereta bawah tanah).

BTS Asok, misalnya terdapat stasiun Metro dan BTS sekaligus. Di sekitar lokasi ini banyak hotel kelas menengah dengan rate antara Rp 300-500 ribu permalam per-kamar.  Bila sendiri, Anda bisa mengambil kamar dormitory, atau kamar berisi 8 orang dengan membayar harga per-orang, sekitar Rp150-200 ribu. Syukur-syukur bertemu banyak teman dari negara lain. Jangan khawatir, hampir semua hotel dan penginapan di Bangkok bersih dan aman. (Ini salah satu jaminan yang membuat kunjungan turis ke Thailand, khususnya Bangkok terus meningkat dari tahun ke tahun). Di Asok, juga banyak restoran dan mall (terbaru Terminal 21 mall).

Siang Paragon Mall, mall kelas atas di Bangkok.

Stasiun lain yang tenar, karena dekat pusat perbelanjaan adalah Chitlom, dan yang paling utama adalah BTS Siam. Bila di Chitlom anda hanya tinggal melangkah ke Central World, lalu via sky walk tinggal berjalan kaki ke Pratunam. Sky walk menghubungkan pusat perbelanjaan yang satu dengan mall yang lain. Dari Central World misalnya, berujung ke mall pakaian paling terkenal, khususnya bagi turis Indonesia : Platinum Fashion Mall! Di sini pakaian-pakaian model terbaru bisa didapat dengan harga murah. Tentu saja jangan lupa menawar! Walau jangan terlalu kejam… hehehe…

BTS Siam adalah induk stasiun, yang menghubungkan dua jalur BTS di Kota Bangkok, Sukhumvit line dan Silom Line. Di Siam, terdapat surga belanja kelas atas.  MBS, Siam Paragon, dan tentu saja Siam Discovery, yang juga saling terhubung satu mall dengan mall yang lain lewat jalan  under BTS, yang sangat bersih dan dibuat begitu nyaman bagi pejalan kaki. Di Siam Discovery, Anda bisa singgah di musem patung lilin Madame Toussaud, juga beberapa wahana air dan boneka untuk anak-anak. Selebihnya, surga belanja dan kuliner (kelas atas). Namun jangan takut, tak terlalu mahal. Apalagi di bandingkan kelas atas di negeri kita, yang selangit mahalnya. Coba saja makan Sea Food enak sebuah resto corner di Siam Paragon, kami berlima—dengan satu anak kecil—tak sampai 2000 baht, atau kurang dari satu juta perak.

Siam Paragon, Mall di Pusat Kota Bangkok.

Sementara banyak juga jajanan murah di tepi jalan. Nasi lauk ikan hanya 20 baht, atau sekitar Rp 6.500, dan tentu saja buah-buahan khas Thailand yang serba murah meriah! Jangan takut, banyak makanan halal di Bangkok. Atau, Anda bisa melihat, bila masuk ke seven eleven atau family mart yang bertebaran,  sedikit saja makanan berlabel pork atau sejenisnya. Hindari saja kawasan pajangan makanan berbau pork itu!

Bangkok memiliki dua bandara internasional, Don Muang dan Svuarnabhumi. Bila Anda pakai low cost airline, tentu saja akan mendarat di Don Muang. Santai saja, bila beruntung tak akan lama di imigrasi. Sebelum ke luar bandara, bila ingin naik taksi meter pergi ke arah kiri ruang ketibaan, lihat antrian dan masuk untuk mengambil tiket taksi. Biasanya tujuan ke pusat kota sekitar 200-300 baht. Beri tips ala kadarnya, 100 baht (sekitar Rp 30 ribu). Karena, bila Anda memakai taksi di pintu ke luar bandara, berkisar antara 600-1000 baht ke kota.

Sebaiknya bila ingin memudahkan komunikasi, beli saja kartu internet di bandara, sekitar 150-200 baht untuk kuota 1,5-2 GB. Cukuplah untuk membuka google maps bila tersesat arah. Peringatan khusus, jangan tukar baht di Bangkok, karena nilai rupiah—bahkan ringgit Malaysia—tak begitu berharga di Bangkok. Kecuali anda pakai dollar AS, atau Euro! Tukarlah rupiah dengan Baht di Indonesia, atau di Kuala Lumpur. Berdasarkan pengalaman, kurs terbaik ada di money changer sekitar Pudu Raya, KL.

Suasana dalam BTS.

Lalu atur perjalanan Anda, apakah ingin mengunjungi kuil, pagoda atau berbelanja. Bila pas lokasi menginap, maka perjalanan wisata  ke Bangkok dijamin lancar. Bangkok Sky Train dan Metro menjadi penting, karena murah, nyaman dan bersih. Menghubungkan hampir semua destinasi wisata di Bangkok. Misalnya Anda ingin ke Asiatique Riverpoint di pinggir sungai Chao Phraya, Anda harus ke BTS Siam (bila menginap di kawasan Sukhumvit Line), lalu naik BTS Silom Line ke stasion Saphan Thaksin. Ikuti jalur turun ke arah timur, akan bertemu dermaga. Di situ Anda bisa menaiki boat khusus ke Asiatique : gratis!

Naik boat khusus ke Asiatique.

Naik BTS paling mahal 44 baht per-orang. Bila dari stasion jauh, misalkan stasion Phra Kanong (Sukhumvit Line)  Anda membeli tiket langsung ke Saphan Taksin. Turun di BTS Siam (jangan ke luar stasion), lalu berganti kereta ke Saphan Taksin (Silom Line). Bila anda ke luar stasiun di BTS Siam, maka anda harus beli tiket 44 baht untuk masuk kembali. Lumayan kan, kalau berlima bisa kena  220 baht. Apalagi serombongan!

Salah satu maskot khas di Asiatique, ‘gembok cinta’.

Di Asiatique The Riverpoint, yang buka mulai sore hingga pukul 12 malam, Anda bisa naik biang lala, beragam atraksi, kuliner khas Bangkok (kelabang, jangkrik, kecoa hingga lipan bakar ada di sini), serta bisa juga berbelanja dengan harga lumayan murah. Beberapa kios penjualnya bisa berbahasa Indonesia. Ini sekaligus membuktikan pengunjung terbaik—khususnya soal belanja—adalah warga Indonesia. Satu yang pasti, semua tertata apik, bersih dan kita bisa memilih moda transportasi murah, dan gampang. Turis begitu dimanjakan di sini. Malam, suasana Chao Phraya begitu romatis, dengan kapal dihiasi lampu warna warni.

Bangkok memang hidup di malam hari, selain di kota suasana malam begitu meriah di Chao Phraya. Ingin menyusuri Chao Phraya di malam hari? Siapkan saja uang antara 550-600 baht per-orang. Naik kapal dengan pemandangan memukau kota Bangkok di malam hari. Hotel, restoran yang ‘hidup dan gemerlap’ di tepi sungai. Ah, honey moon kelas menengah—bahkan tinggi—pun bisa Anda lakukan di kota serba ada ini.

Dan jangan lupa naik tuk-tuk, bemo tiga roda khas Bangkok. Khusus jarak dekat di dalam kota, antara 100-200 baht sekali jalan. Bisa muat 2-5 orang, dan suara mesinnya yang khas—konon 1000 cc—kadang si sopir suka ngebut di jalanan Kota Bangkok, yang terbilang tak terlalu macet. Bahkan kerap lengang juga, di beberapa ruas jalan dalam kota.

Tuk-Tuk, bemo khas Bangkok.

Memang, satu-satunya kesulitan adalah soal Bahasa. Jarang sekali ada warga Thai yang bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Tapi bila kita tanya jalan (pernah tersesat gara gara salah turun ke arah barat di BTS Saphan Taksin), mereka akan menjelaskan dengan ramah—walau dengan susah payah juga. Hal lain, selain kebersihan, kenyamanan dan keramahan, adalah keamanan. Jarang sekali—bahkan tak pernah—kita lihat keributan, atau premanisme di Bangkok. Bahkan banyak pengalaman pribadi, maupun turis asing, yang kehilangan barang di BTS, atau tertinggal di mall, hotel , 90 persen akan mendapatkan barangnya kembali. Warga Bangkok begitu takut mengambil barang orang yang tertinggal, apalagi mencuri, karena mereka takut karma!

Bagi yang hobby belanja, Bangkok memang surganya. O ya, satu lagi pasar terkenal adalah Chatuchak week end Market. Hanya buka akhir pekan, Jumat Sore sampai Minggu. Bisa dicapai dengan taksi, BTS maupun Metro. Dari Sukhumvit memang jauh. Namun bisa turun di BTS Asok, lalu naik Metro ke Chatuchak Park. Sedikit jalan kaki ke arah timur Taman Chatucak, Market murah terbesar di Asia itu bisa Anda capai. Atau bisa juga via Silom Line, turun di stasion Sala Daeng, lalu jalan kaki—sekitar 500 meter—juga ke Chatuchak. Kalau takut salah jalan, tanya saja, pasti semua akan memberi tahu arahnya, walau dengan bahasa tarzan (isyarat).

‘Halaman depan’ Asiatique The Riverpoint.

Terlalu banyak untuk diceritakan, Pattaya? Wat Arum dan lain-lain, Ladies Boy hingga Cow Boy Night Club? Kita hanya bercerita liburan keluarga, yang lain Anda cari sendiri, sesuai selera. Semua gampang di Bangkok, dan dijamin aman!

Bangkok adalah kota turis. Begitu banyak turis asing (bule, arab, china) yang bisa ditemui di Bangkok. Terbayang berapa devisa yang didapat negeri gajah putih ini dari dunia pariwisata. Ah, kapan kita bisa mencapai tahapan seperti Thailand? Kita tertinggal puluhan, bahkan ratusan tahun, baik dari sisi infrakstruktur maupun peradaban kemanusiaan! Bangkok adalah kota segala ras, yang dimiliki orang Siam. Kota yang semakin hidup di malam hari. Thailand juga menyiapkan kota-kota satelit yang malah lebih popular bagi turis, Phuket, Hat Yai, Chiang mai, Krabi, Pha-nga, Rayong dan hampir semua kota kecil menjual asset maksimal yang mereka miliki.

Kita punya potensi yang tak kalah—alasan klasik—, tapi ya itu, infrastruktur, kesiapan—keikhlasan—pemerintah dan warga masih minim. Bahkan Malaysia yang menerima imbas turis dari Thailand dan Singapura, ikut menikmati era penerbangan murah, karena infrastruktur cukup bagus yang ditinggalkan rezim Mahathir. Perputaran ekonomi di tingkat bawah—akibat pariwisata—juga mendorong kesiapan warga untuk bersaing, dan membuat daerahnya nyaman, bersih dan aman. Mengapa kita begitu sulit ya..? Tanya kenapa…! (Marhiansyah)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya