AS, Inggris dan Australia Kembangkan Rudal Hypersonik!

hyper1
Rudal Hypersonic

Perlombaan senjata hypersonic dimulai! Setelah Rusia memulai ujicoba rudal hypersonic, kini AS bersama dua sekutunya menjalin kerjasama untuk mengembangkan senjata rudal hypersonic. Rudal itu nanti akan mampu menjangkau seluruh bagian di dunia dalam hitungan menit atau jam, dan menghancurkan sasaran dengan hululedak nuklirnya!

AS, Inggris dan Australia, Selasa (5/4/2022) kemarin  mengumumkan kerjasama rudal hypersonic, dan sekaligus rudal anti rudal hypersonic. Pengumuman itu usai Rusia menggunakan rudal hypersonic dalam perang di Ukraina. Tiga negara barat itu juga mengkhawatirkan kemajuan China yang mampu menciptakan rudal hypersonic hingga Mach 33! (33 kali kecepatan suara).

Joe Biden Scott Morrison Boris Jphnson
Joe Biden Scott Morrison Boris Jphnson

Sementara Rusia telah mengembangkan rudal hypersonic dengan kecepatan lebih  3.800 mph (sekitar 5000 km/jam) atau lima kali kecepatan suara. Dengan kecepatan itu, rudal tersebut tak mungkin dihadang dengan peluru, atau rudal konvensional. Bahkan bila terbang rendah, rudal hypersonic akan sulit dilacak radal dan sulit dilumpuhkan.

Amerika Serikat dan Australia sendiri telah memiliki program senjata hipersonic yang disebut SCIFiRE. Dengan bergabungnya Inggris, akan meningkatkan penelitian dan pengembangan rudal di negara tersebut, yang dikenal sebagai produsen mesin propulsi terbaik.

China sendiri telah jauh melangkah, dengan rudal hypersonic raksasa (ICBM) yang mampu mengakut berton ton hulu ledak nuklir, dengan kecepatan hingga 21.000 MPH (sekitar 33.800 km/jam) atau lebih dari 33 kali kecepatan suara! Rudal itu masih dirahasiakan, namun telah diungkap analisis militer barat, yang menyebut rudal hypersonic China jauh lebih mengerikan dari rudal hypersonic Rusia.

hyper2
Rudal Hypersonic pada ICBM, melintasi atsmosfier dan masuk kembali menuju target di bumi. dok : DM

Namun Beijing sendiri mengingatkan bahayanya perlombaan senjata hypersonic ini. Duta Besar China untuk PBB Zhang Jun, Rabu (6/4/2022) mengatakan, perang di Ukraina jangan sampai memicu perang dingin alutsista antar negara maju, karena itu bisa memicu krisis dunia.

Ia mengutip pepatah Cina : “jika Anda tidak menyukainya, jangan memaksakannya pada orang lain”, seolah menyindir AS, Inggris dan Australia.

Bulan Oktober tahun lalu, Jenderal Mark Milley, ketua Kepala Staf Gabungan AS, mengkonfirmasi bahwa Beijing telah melakukan uji coba sistem senjata hipersonik sebagai bagian dari upaya agresifnya untuk memajukan teknologi luar angkasa dan militer. Senjata berkemampuan nuklir itu dikatakan telah mengorbit Bumi sebelum memasuki kembali atmosfer dan meluncur menuju targetnya, yang kemudian meleset lebih dari 25 km dari sasaran, namun masih dianggap sebagai tes yang berhasil.

Rusia menggunakan rudal hipersonik ‘beberapa kali’ di Ukraina, menurut komandan tertinggi AS di Eropa. Militer Rusia mengatakan bahwa sistem Avangard-nya mampu terbang 27 kali lebih cepat dari kecepatan suara, dan membuat manuver dalam perjalanannya ke target untuk menghindari perisai rudal musuh.

Rudal hypersonic Kinzhal Rusia, mampu menjangkau jarak 4.000 mil (6500 km), dan akan menjangkau sasaran yang lebih jauh bila dipasang pada rudal balistik antarbenua (ICBM). Kinzhal yang digunakan di Ukraina, di pasang di pylon jet tempur  MiG-31, memiliki jangkauan hingga 1.250 mil ( 2000 km), melesat dengan kecepatan Mach 10.

Kinzhal, atau belati dalam bahasa Indonesia, digunakan  untuk menghancurkan gudang senjata bawah tanah di Ukraina Barat. Rudal hypersonic Rusia yang lebih besar, juga dapat diluncurkan dari kapal selam dan mampu menjangkau antar benua (ICBM).

Dalam pernyataan bersama, Boris Johnson, Joe Biden dan Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengakui kerjasama mereka termotivasi invasi Rusia ke Ukraina, yang dinilai “yang tidak beralasan”.

‘Kami juga berkomitmen hari ini untuk memulai kerja sama trilateral baru pada hipersonic dan kontra-hipersonik, dan kemampuan peperangan elektronik, serta berbagi informasi dan memperdalam kerja sama dalam inovasi pertahanan,” kata mereka. Australia sendiri – tetangga dekat Indonesia — diakui telah mencapai kemajuan pesat dalam pengembangan kapal selam bertenaga nuklir. (ianblaga/*)