Apa Penyebab Kecelakaan Boeing 737 MaX8 JT610?

Skema penerbangan terakhir Boeing 737 MaX 8 registrasi PK LQP nomor penerbangan JT610. dok : news.com.au

Semuanya masih menduga-duga. Bila didukung data, namanya menduga secara ilmiah, dugaan jatuhnya pesawat ber-registrasi PK-LQP itu masih bisa diterima. Bila menduga atas dasar persepsi, apalagi isu,  tak lebih dari dugaan picisan, bahkan hoax. Kasihan keluarga penumpang maupun orang awam yang hanya modal percaya saja.

Tak ada yang tahu pasti, bahkan hingga black box (kotak hitam yang orange), ditemukan oleh tim pencari.  Tapi dari kotak hitamlah bisa diketahui  agak pasti penyebab kecelakaan,  dengan suasana cockpit dan semua  komunikasi terakhir pilot serta data penerbangan terakhir.

Saat ini, kita hanya bisa menduga, bagaimana horornya suasana cockpit JT 610, di pagi hari sekitar pukul 6.22-6.32 WIB, Senin (29/10/2018). Sebuah pesawat baru buatan pabrik terkenal, dengan mesin terbaru yang canggih dan efesien, jatuh ke laut secara tiba tiba.

Bila benar Boieng 737 MaX8 nomor penerbangan JT610 yang dipiloti Bhave Suneja dan copilot Harviono ini take off pukul 6.20 WIB dari Cengkareng, maka pukul 6.25 Suneja sudah melaporkan loss control dan ingin RTB (Return to Base). Altitude saat itu sudah 2000 feet, dengan speed  terus meningkat 250 mendekati 300 knot!

Ini menyusul di menit 6.22.40 (atau dua menit lebih sedikit sejak air borne), pesawat tiba tiba merosot ke ketinggian sekitar 1600 feet, namun anehnya kecepatan meningkat hingga 350 knot! Okelah, mungkin faktor gravitasi karena terjun ke bawah.

Satu menit setengah kemudian, ketika sudah mampu menguasai pesawat kembali, Suneja melapor ke ATC (Air traffic Control). Menurut ATC, Suneja melaporkan kehilangan (kemampuan menguasai) instrument flight control, dan ingin RTB. Namun ia bersama Harviono sepakat minta izin climb dulu ke 5000 feet, dan di-izinkan ATC.

Elevator ekor nampaknya kembali berfungsi, dan JT610 lalu naik ke 2000, 4000 dan mendekati 6000 feet, dengan kecepatan yang ‘agak normal’, di 280 knot. Namun mulailah di menit-menit  berikutnya (6.25-6.32) pesawat mulai bumpy, seolah tak terkontrol, naik turun, dengan kecepatan juga naik turun antara 290-310 knot. Bahkan kecepatan sempat naik ke 330 knot di menit  6.30.30 WIB, seolah pilot ingin ‘mengontrol’ kemudi dengan   daya (thrust) yang ditingkatkan. Namun apa daya, di menit ke 6.31.15 WIB, pesawat mulai menukik, dan puncaknya terjun ke level 200 feet dari 4400 feet. Dan seperti kita ketahui, sekitar pukul 6.33 WIB JT610 bersama 189  penumpang dan awak jatuh ke laut di Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Rekaman jejak kecepatan dan ketinggian (altitude) Boeing 737 MaX8, PK LQP nomor penerbangan JT610, rute Jakarta-Pangkal Pinang, Senin (29/10/2018). dok : flightradar24

Dari rekaman fligtradar24 sebelumnya juga, saat terbang dari Denpasar ke Jakarta, malam sebelumnya (28/10/2018), jejak rekam level dan kecepatan Boeing MaX8 PK-LQP itu terlihat aneh di awal, dramatis dengan bumpy yang cukup ‘rusuh’ di 10 menit penerbangan pertama. Bahkan sempat anjlok dari sekitar 18 ribu feet ke 13 ribu feet dalam sekejap, dengan speed yang juga meningkat tiba-tiba. Ini diperkuat pengalaman beberapa penumpang, yang merasa seperti naik mobil offroad di awal penerbangan, kekurangan oksigen dengan lantai kabin yang panas.

Lantai kabin yang panas jadi catatan khusus Bumoe.id. Ada sesuatukah yang terbakar di lantai? Seperti diketahui, ada beribu meter kabel terhubung di bawah kabin yang menghubungkan sistim control ke flap, elevator dan rudder (flight control) pesawat.

Rekam jejak altitude dengan speed Boeing MaX8 PK LQP di rute Denpasar-Jakarta, semalam sebelum terbang ke Pangkal Pinang (JT610). dok : flightradar24

Untunglah, di flght level sekitar 29 ribu feet, pesawat menemukan keseimbangan dan kemudian mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, Minggu tengah malam (28/10/2018). Besok paginya, pesawat ini digunakan terbang ke Pangkal Pinang bersama 189 penumpang dan awak. Namun sayang, tak sampai ke destinasi dan berakhir di Teluk Karawang.

Boeing 737 MaX8 ini memiliki catatan buruk di awal soal mesin LEAP 1 buatan CFM, GE dan Snecma Perancis. Ada komponen komposit di combustion chamber yang durabilitasnya diragukan. Akibatnya, pesawat terlaris milik Boeing berharga hampir Rp 1 trilyun ini sempat molor mendapat sertifikat FAA (Lembaga aviasi AS), dan telat disalurkan ke pembeli.

Namun, mesin yang dipasang di MaX8 JT610 adalah LEAP 1B, yang telah diperbaharui dan lolos uji kelayakan.  Catatan Boeing 737 MaX8 PK-LQP saat perbaikan malam itu di Denpasar juga menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres. Namun toh persawat yang baru di-operasikan Lion Air dua bulan belakangan, dan baru memiliki 800 jam terbang itu diperboleh terbang. Dan para penumpang Denpasar-Jakarta merasakan panas lantai kabin, serta deru mesin “yang aneh”.

Record perbaikan PK-LQP di Denpasar. dok : google/dtc

Belum tentu mesin bermasalah, mungkin saja deru tak beraturan itu sebagai bagian mengatur elevasi oleh pilot, — atau auto pilot — akibat flight control yang tidak berfungsi normal. Pilot otomatis maun manual mestinya akan melakukan hal serupa.

Namun, tampaknya para penumpang Jakarta-Pangkal Pinang yang bernasib lebih buruk, akibat kerusakan pada sistim kemudi, atau mesin PK-LQP naas itu.

Jadi, ada dua kemungkinan teknis, di luar human error, yakni flight control yang terputus ke elevator ekor akibat kabel hangus, sistim hidrolik terputus , atau mesin yang rusak lalu flame out (mati).

Aircraft flight control. dok : google

Kemungkinan kedua agaknya bisa direduksi karena bila kedua mesin matipun, Boeing 737 MJaX8, atau pesawat apapun, mestinya punya kemampuan untuk melayanga di udara, antara 15-30 menit. Dalam rekaman Flightradar24, jelas Suneja dan Harvino  tak  memiliki kesempatan itu, dan pesawat terjun ke bawah tak terkendali.

Sekali lagi, kepastian hanya akan bisa diperoleh ketika KNKT, atau NTSB memperoleh data resmi dari kotak hitam. Siapa yang sanggup mendengar komunikasi suara di ruang cockpit di saat kritis itu? Petugas KNKT/NTSB  harus! Karena kita, publik, dan khususnya keluarga penumpang menunggu kepastiannya, agar spekulasi dan dugaan tak menjadi liar, seperti MH370 yang tidak ditemukan hingga kini. JT610 sudah ditemukan dan jelas jatuhnya, tinggal kita tunggu hasil bacaan black box.

Semuanya memiliki resiko, dan pabrikan maupun airlines hendaknya mau memperbaiki manajemen perawatan maupun siklus rotasi terbang pesawat mereka. Tak hanya sekedar harus terbang untuk  menghindari kerugian akibat pesawat diperbaiki di apron, atau hanggar berhari-hari. Bukankah nyawa pilot, awak kabin dan penumpang lebih berharga, ketimbang mesin Rp 1trilyun itu? (yan/flightradar24)