Apa itu LGBT? Sebab dan “Obatnya”?

BUMOE 03 Feb 2018
Apa itu LGBT? Sebab dan “Obatnya”?
Ilustrasi. (Redesign Bumoe.id)

Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT), kini menjadi sebutan biasa, sekaligus dinilai sebagai orang-orang yang aneh, dalam “standar normal” manusia. Kelainan psikologis, sakit, dalam tatanan sosial masyarakat? Di Aceh, isu ini semakin trend saat media memberitakan aksi Kapolres Aceh Utara, AKBP Untung Sangaji menciduk 12 waria, Sabtu (27/1) malam (dtc). Sebenarnya saat itu bukan hanya polisi, namun polisi syariah (WH) juga ikut serta. Untung ikut membina para waria itu, dan media ‘menggarapnya’ menjadi berita yang menasional.

Sebenarnya, apakah LGBT, yang di dalamnya termasuk para waria ini?

Lesbian, adalah penyimpangan orientasi seks, yakni ketertarikan pada sesama jenis, wanita dengan wanita. Gay, sebaliknya,  dimana seorang pria menyukai sesama pria, bahkan kini lebih intens berita kawin sesama jenis antar pria. Biseksual, malah tertarik sesama jenis, dan lawan jenis secara bersamaan. Biasanya wanita, bahkan yang bersuami, suka pada sesama wanita juga, termasuk di dalamnya dalam aktivitas seksual. Sementara Transgender, seorang yang merasa wanita misalnya, tumbuh dalam raga pria. Transgender juga sering disebut “Salah Gender”, karena si Transgender merasa gendernya itu salah.

Begitu banyak faktor orang menjadi LGBT. Memori masalalu yang buruk, pernah disodomi, diperkosa, atau kekerasan dalam rumah tangga, dan lain-lain. Pergaulan bebas dengan teman yang berlebihan, hingga bosan dengan hidup dengan gaya yang “begitu-begitu” saja.

Faktor keluarga juga dominan, broken home, dan pengawasan yang lemah, kedua orang tua sibuk dengan kerja dan kegiatan masing-masing. Pendidikan moral, mental, baik dari sisi agama dan budi pekerti hidup yang baik, menjadi penting. Dan tentu saja secara ilmiah, faktor hormon dan bawaan lahir menjadi kasus utama seseorang menjadi LGBT.

Menurut Jane Chin, ahli biologis dan biokimia, selain biologis, faktor psikologis juga memegang peran penting. “Bertanya tentang LGBT juga seharusnya bertanya: apakah saya juga normal? Bagaimana saya mengidentifikasi kelamin saya? Karena Transgender juga berasal dari ibu bapa yang Cisgender,” katanya.

Aksi damai mendukung pembinaan terhadap kaum waria di Aceh.

Demo Dukung “Bikin Macho Waria” di Banda Aceh

Demo Aliansi Pecinta Syariat Islam mendukung pembinaan terhadap kaum waria di Aceh sekaligus dukungan bagi Kapolres Aceh Utara, AKBP Untung Sangaji

Selengkapnya

Mungkin bagi Cisgender mudah, sebutnya, tinggal lihat ke bawah, tahu saya wanita atau pria! Itu pengamatan dengan mata, namun secara psikologis? Bahkan pada banyak wanita atau pria, terkadang begitu bosan dengan pasangannya dan memilih suka teman sejenis, walaupun belum sampai pada aktivitas seksual. Secara psikologis apakah ini sudah mengarah pada “penyimpangan”?

Lalu, apa asal mula pemisahan gender manusia? Menurut Jane, bukti empiris adanya hormon laki-laki atau wanita tidak langsung menentukan identitas gender. Struktur genetika dan epigenetik bisa “berubah”, seiring perkembangan biologis saat satu set gen berubah struktur, dan akhirnya berkontribusi pada keseluruhan sifat sebagai penentu “identitas gender”. “Genetika menentukan jenis kelamin dari perspektif biokimia, namun saya tidak melihat bukti genetika langsung menentukan ‘identitas gender’,”kata Jane.

Hormon biologi dan gen tidak langsung menentukan identitas gender, tapi hormon pasti membentuk “pengalaman gender”. Bahkan orangtua yang  paling disiplin pun—yang ingin membesarkan anak-anak mereka normal—”netral gender”,  belum tentu anaknya tidak menjadi transgender. Lalu? “Ada delusi gender bersifat persuasif dalam pergaulan, yang mendorong perubahan gender. Artinya biarpun orangtuanya peduli, tapi bila ia berada dalam lingkungan transgender, kemungkinan besar si anak akan terpengaruh,” kata Jane.

Antara sifat dan sakit.

Antara sifat dan sakit. (Dok: tumblr.com)

Isu LGBT, termasuk pertimbangan psikologis dan neurologis, muncul terutama ketika identitas gender seseorang tidak sesuai dengan jenis kelamin biologis. Klaim: “Ada sesuatu yang salah, dalam norma masyarakat umum” adalah hal yang lumrah. Sama seperti bagian dari menilai sifat kemanusiaan lain: orang anu pengiri, pendengki, khianat, picik, atau ramah, periang, pemurah, dll.

“Sekarang saya tanya kembali: siapa Anda? Yakinkah Anda menyimpan identitas  gender yang normal? Lepaskan bentuk fisik (Homo sapiens) dan pengkondisian sosial (gender) dan konstruksi budaya (peran) dari apa dan siapa diri Anda, lalu tanya lagi: Siapa saya?” ujar Jane. Dengan itu, kita bisa belajar konsep perubahan psikologis dan neuro psikologis para LGBT, persis seperti ungkapan gubernur Irwandi, “Tidak membenci orangnya, tapi benci perilakunya”. Apa obat perilakunya? Hukum, perilaku masyarakat, lingkungan, dan orangtua.

Kenyataan, perubahan sistim sosial masyarakat di zaman hedonism dan materialisme ini juga ikut andil membentuk mereka. Jangan-jangan, kita juga ikut (bersalah) di dalamnya. Perlu dibuktikan kesepakatan sosial budaya, argument perilaku salah benar dalam sistim dan cara hidup bermasyarakat “yang benar”, dengan implementasi tauladan, serta penegakan hukum yang adil. Menilai LGBT, persis menilai ciri kemunafikan dalam perilaku sisi lain manusia zaman now. Siapa saya? Sudahkah saya bertindak dan memberi contoh yang benar bagi yang lain? Baik dalam omongan khususnya perilaku? Identitas gender, hanya bagian dari “kesadaran”. (marhiansyah/*)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya