Airbus Kembangkan A-320neo Versi Militer

BUMOE 08 Feb 2018
Airbus Kembangkan A-320neo Versi Militer
Airbus A-320neo versi militer. (Dok: Airbus industry)

Bila Anda pernah naik Air Asia atau Batik Air, mungkin pernah berkesempatan mencicipi Airbus baru, A-320neo. Pesawat komuter komersial berkapasitas 162 penumpang ini, sedang dikembangkan Airbus industry untuk digunakan sebagai pesawat patroli maritim dan pesawat peringatan dini dengan radar pemantau (AWACS).

A-320neo versi militer ini dipastikan akan dipajang dalam Singapore Airshow, yang akan berlangsung mulai Sabtu besok (10/2/2018), di Singapura. Airbus mengklaim pesawat mereka lebih baik dari segi desain, dengan wingtips yang memberi jangkauan lebih jauh dan lebih hemat bahan bakar. Dua pabrik yang memasok mesin untuk A-320neo juga diklaim sangat efesien dan tangguh, yakni Pratt & Whitney PW1127G-JM atau CFM International LEAP-1A26.

Mesin turbofan Pratt & Whitney untuk A-320neo, lebih efesien dan kuat. (Dok: Pratt & Whitney)

Mesin turbofan Pratt & Whitney untuk A-320neo, lebih efesien dan kuat. (Dok: Pratt & Whitney)

Fernando Alonso, kepala Military Aircraft di Airbus Defense and Space, mengakui dalam Singapore Airshow nanti tidak ada produk baru yang diluncurkan, namun tetap mengandalkan pesawat komersial mereka, baik seri 319, 320 serta A-330.

A330 Multi-Role Tanker Transport (MRTT) atau pesawat tanker untuk misi militer  telah memenangkan banyak tender dengan militer beberapa negara. “Kami lebih efesien dan bagus ketimbang tanker Pegasus KC-46A Boeing 767, “ katanya. Namun diakui  A330 terlalu besar untuk sebagian besar peran militer lainnya. “Makanya kami mulai membuka lini produk baru versi militer A320neo,” kata Alonso. “A320 adalah platform yang lebih kecil dari A330, dan dengan mesin neo, ini adalah platform yang sangat efisien. Ini terkenal, kuat dan terbukti dalam pelayanan di sektor komersial.” katanya.

Dia menambahkan, A320 diproduksi  di Toulouse, Prancis, dan kemudian dipindah ke pusat konversi dimodifikasi ke versi militer. Selama ini, Airbus menawarkan Airbus C295 bagi  patroli maritim, perang anti-permukaan, memberi sinyal intelijen, peringatan dini udara, dan pengisian bahan bakar dari udara ke udara. Tapi C295 kurang diminati, karena jarak tempuh dan kecepatannya yang masih rendah.

Baca Juga: Boeing Valkyrie II, Berkecepatan Lima Kali Suara!

Alonso membantah terlambat masuk ke pasar militer, namun mengakui Boeing lebih berpengalaman dan telah dipakai oleh banyak negara. Ucapan Alonso terbukti, ketika Militer Selandia Baru yang berencana P-8A punya Boeing, namun membatalkannya dan memasukkan A-320neo sebagai alternative.

“Kami tidak hanya ingin merebut pasar di Asia Pasifik, tapi juga Eropa dan ke pusat pasar yang dikuasai tuan rumah Boeing, Amerika Serikat,” optimis Alonso. Di Asia Pasifik, Indonesia, Malaysia dan Filipina menjadi sasaran pasar, khususnya C295 bermesin turboprop. Airbus juga siap memasok A-320neo jika negara-negara ini berminat, karena mereka punya stok 7000 unit pesawat per-tahun, di antaranya A320neo yang siap diubah menjadi versi militer. (yan/aviation week)

 

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya