AI Penyebab Perang Nuklir 2040, Manusia Bisa Musnah!

BUMOE 25 Apr 2018
AI Penyebab Perang Nuklir 2040, Manusia Bisa Musnah!
Perang nuklir

Sebuah lembaga peneliiti keamanan terkemuka mengingatkan, Artificial Inteligent (AI) akan meyebabkan perang nuklir meletus tahun 2040 mendatang. Peradaban manusia diperkirakan akan musnah, digantikan “robot”.

Kecerdasan buatan (AI) kini memasuki hampir semua lini kehidupan manusia. Peralatan rumah tangga mobil, pesawat,  gadget hingga perangkat hiburan.  Bahkan negara maju kini menerapkan AI pada sistem persenjataan, termasuk senjata nuklir.

Menurut Rand Corporation, lembaga tersebut, tahun 2040 AI tidak bisa dicegah akan “memutuskan” perang nuklir, setelah perang dingin antar negara adidaya – AS, Rusia, China – selam bertahun tahun sejak sekarang.
Organisasi nirlaba di Santa Monica, California sendiri selama ini  meneliti danmenganalisa angkatan bersenjata Amerika Serikat, menyangkut isu kebijakan global. Rand mengatakan, beberapa tahun ke depan, AI akan memegang kendali penuh dalam sistim persenjataan di dunia.

AI dalam bentuk robot dalam sebuah film fiksi Ilmiah.. Foto : dok DM

Situasi ini persis saat perang dingin tahun 1940-an dan 1950-an, ketika negara adidaya saling mendahului dalam persaingan persenjataan nuklir.

“Para ahli khawatir, peningkatan AI dapat menyebabkan pengambilan keputusan yang salah yang mengakibatkan perang nuklir,” kata mereka.

Bisa juga, para komandan akan mengambil keputusan yang salah akibat masukan data yang salah dari sistim informasi yang dibawa AI. Serangan nuklir pertama – yang terlanjur dilepaskan – akan membuat balasan yang sama, sehingga perang dunia ke -3 tak bisa dihindarkan.
Rand menyimpulkan analisa ini berdasarkan informasi yang dikumpulkan selama serangkaian lokakarya dengan para ahli masalah nuklir, yang melibatkan pemerintah, peneliti AI, dan kebijakan AI dalam sistim keamanan nasional.
Studi ini merupakan bagian upaya  menginformasikan sisi kritis  keamanan dunia tahun 2040, mempertimbangkan dampak politik, teknologi, sosial, dan demografi secara global, khususnya di negara yang sedang ber”perang dingin”. (yan/DM)

 

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya