10 Kota Dunia Langka Air Minum, Jakarta Nomor Lima!

BUMOE 14 Feb 2018
10 Kota Dunia Langka Air Minum, Jakarta Nomor Lima!
Krisi air bersih dunia. dok : google

Jakarta, Ibukota Indonesia masuk peringkat lima di antara 10 kota dunia yang paling terancam krisi air minum. Cape Town, di Afrika Selatan menduduki peringkat pertama  kota besar yang terancam kehabisan air minum.

Menurut para ahli, kelangkaan air minum ini mencakup sekitar 70% permukaan bumi. Air, terutama air minum, tidaklah sebanyak seperti yang dipikirkan orang. Di dunia, hanya 3% saja yang tergolong air segar.

Dikutip dari BBC, ada lebih satu miliar orang tak memiliki akses terhadap air, dan 2,7 miliar lainnya mengalami kelangkaan setidaknya satu bulan dalam setahun. Sebuah survei tahun 2014 terhadap 500 kota terbesar di dunia memperkirakan, satu dari empat kota dunia sedang mengalami masalah air.

Menurut perkiraan, yang didukung PBB, pada tahun 2030 nanti kebutuhan akan air tawar dunia meningkat 40% lebih tinggi dari ketersediaan. Sementara ketersediaan air menurun, akibat perubahan iklim, ulah manusia dan pertumbuhan penduduk.

Ini 10 kota setelah Cape Town, yang  kemungkinan besar akan mengalami kelangkaan air.

  1. São Paulo

    Sao Paulo, Brasil. dok : google

Cadangan air di ibukota Brasil ini pada tahun 2015 mengalami masalah sebagaimana Cape Town, ketika cadangan air turun 4% dan tak mampu memenuhi kebutuhan rata-rata penduduk. Kota berpenduduk lebih dari 21,7 juta jiwa itu, hanya memiliki persediaan air untuk kurang dari 20 hari dan polisi harus mengawal truk air untuk mencegah penjarahan.

Krisis air dianggap ‘selesai’ pada 2016, namun pada bulan Januari 2017 cadangan utama air mereka kembali menurun, malah lebih parah, 15% di bawah perkiraan ketersediaan air yang seharusnya ada.

  1. Bangalore

    Bangalore, India. Dok : google

Kota di selatan India ini mengalami pertumbuhan properti yang sangat pesat, seiring pertumbuhan pariwisata mereka.  Seperti Cina, India mengalami masalah polusi air yang pelik dan itulah yang dialami Bangalore. Data menunjukan 85% persediaan air danau justru digunakan untuk irigasi dan pendinginan industri. Tak satu pun danau yang airnya cocok untuk diminum atau digunakan untuk mandi.

 

  1. Beijing

    Beijing, China. dok : google

Bank Dunia mengklasifikasi kelangkaan air bagi warga, yakni yang mendapat kurang dari 1.000 meter kubik air tawar per orang per tahun. Padahal, pada 2014, lebih dari 20 juta penduduk Beijing hanya mendapat 145 meter kubik per orang per-tahun!

Cina dihuni oleh hampir 20% penduduk dunia, namun hanya memiliki 7% air tawar dunia. Sebuah studi di Universitas Columbia memperkirakan bahwa antara tahun 2000 dan 2009, cadangan air Cina menurun 13%. Belum lagi masalah polusi. Angka resmi dari tahun 2015 menunjukkan bahwa 40% air permukaan Beijing begitu tercemarnya hingga tidak berguna sama sekali bahkan untuk keperluan pertanian atau industri sekalipun. Air begitu mahal di Beijing.

  1. Kairo

    Kairo, Mesir. dok : google

Sungai Nil adalah sumber dari 97% kebutuhan air Mesir, tetapi kini mengalami masalahbesar soal pencemaran. Data Organisasi Kesehatan Dunia WHO menunjukkan peningkatan jumlah kematian terkait dengan pencemaran air. PBB memperkirakan negeri itu akan mengalami kelangkaan air pada tahun 2025.

 

 

 

 

  1. Jakarta

    Jakarta, Indonesia. dok : google

Kendati banyak warga kota tak menyadari, Jakarta adalah kota pesisir. Dan seperti banyak kota pesisir lain, ibu kota Indonesia ini menghadapi ancaman kenaikan permukaan air laut.

Tapi di Jakarta, masalah ini diperparah dengan ulah manusia secara langsung. Karena kurang dari separuh dari 10 juta penduduk yang memiliki akses terhadap air ledeng, terjadi penggalian sumur secara liar. Praktik ini menguras cadangan kantung air bawah tanah.

Menurut perkiraan Bank Dunia, sekitar 40% wilayah Jakarta sekarang ini berada di bawah permukaan laut. Cagmen area juga menyusut seiring pembangunan kota, sehingga walau hujan, namun kantung air bawah tanah tak terisi karena air langsung tumpah ke laut setelah melintasi pemukiman warga (banjir).

  1. Moskow

    Moskow, Rusia. dok : google

Seperempat cadangan air tawar dunia ada di Rusia, namun negara ini mengalami masalah pencemaran peninggalan industri era Soviet.

70% pasokan air Kota Moskow bergantung pada air tanah. Badan resmi terkait mengakui bahwa 35% sampai 60% dari cadangan air minum di Rusia tidak memenuhi standar sanitasi.

 

  1. Istanbul

    Istanbul, Turki. dok : google

Turki secara teknis sedang mengalami masalah air, karena pasokan per kapita turun hingga di bawah 1.700 meter kubik pada tahun 2016. Para pakar negeri itu memperingatkan pada tahun 2030, Istanbul akan terjadi kelangkaan air bersih.

Beberapa tahun belakangan, kota berpenduduk 14 juta jiwa ini  mengalami kekurangan air. Tingkat air di waduk kota turun 30 persen dari kapasitasnya pada awal 2014.

 

  1. Meksiko City

    Mexico City. dok : google

Kekurangan air bukanlah hal baru bagi sebagian dari 21 juta penduduk ibukota Meksiko ini.

Satu dari lima penduduk hanya mendapatkan air keran selama beberapa jam setiap pekannya dan 20% lainnya memperoleh air mengalir hanya beberapa jam setiap harinya. 40% kebutuhan air kota didatangkan dari wilayah lain yang jauh. Pemborosan air karena masalah pada jaringan pipa juga diperkirakan mencapai 40%.

 

  1. London

    London, Inggris. dok : google

Dengan curah hujan tahunan rata-rata sekitar 600mm (kurang dibanding rata-rata Paris dan hanya sekitar setengah dari New York), London memperoleh 80% air mereka dari sungai (Sungai Thames dan Lea). Menurut otoritas London, penggunaan air kota ini sudah mepet mendekati kapasitas maksimumnya dan kemungkinan akan menderita masalah pasokan pada tahun 2025, dan mengalami “kelangkaan serius” pada tahun 2040.

Kelihatannya larangan penggunaan selang air di kawasan publik akan lebih umum di masa depan, karena sekarang ini pemborosan air oleh selang-selang pipa umum itu mencapai 25%.

  1. Tokyo

    Tokyo, Japan. dok : google

Ibukota Jepang ini menikmati tingkat curah hujan tinggi. Namun curah hujan hanya terkonsentrasi dalam empat bulan setiap tahunnya.

Air hujan perlu dikumpulkan, karena musim hujan semakin jarang. Setidaknya 750 bangunan pribadi dan umum di Tokyo memiliki sistem pengumpulan dan pemanfaatan air hujan.

Dihuni oleh lebih dari 30 juta orang, Tokyo memiliki sistem air 70% -nya bergantung pada air permukaan (sungai, danau, dan salju yang mencair). Namun diperkirakan masalah air bersih akan terus meningkat di Tokyo seiring pembanguinan dan perubahan iklim global. (BBC/*)

Komentar


Artikel Terkait


Tulisan Lainnya